Go Global or Keep Local?


Globalisasi kerapkali dijadikan alasan untuk maju. Bahwa kemajuan kian identik dengan going global. Aliran informasi, uang, dan logistik yang melintas batas negara jadi tujuan mereka yang ingin berubah lebih baik. Sepintas, lokal berkesan tradisional, kuno, amatiran, dlsb.

Jadinya global seringkali dijadikan sebagai antitesis dari local. Dan demikian pula sebaliknya. Padahal, seiring kita mendalami keduanya, kita justru akan menemukan plus-minusnya masing-masing. Nah, mari kita bahas satu demi satu.

Going Global 

Global-minded. Sejauh mana human resource (sumber daya manusia) bisa belajar, berubah, dan meraih hasil. Ini biasanya dijadikan ciri global-minded. Pengalaman di luar negeri (meski baru sebatas student exchange). Experience semacam ini yang dilihat oleh global companies macam Unilever kala merekrut karyawan mereka.

Global-minded juga berarti memperoleh pendidikan yang terbaik: mengejar pascasarjana di luar negeri. Kebetulan di negeri kita masih memandang pendidikan tinggi di luar negeri punya pride dan prestise yang oke punya. Gengsinya pun dapat. Meski tidak semuanya demikian.

Penguasaan bahasa Inggris yang cas-cis-cus jadi kebutuhan utama. Tidak heran ada desa seperti desa Pare di Kediri yang menjadi tempat singgah dan belajar bahasa Inggris. Masing-masing english course di sana tumbuh organik dengan positioning masing-masing: ada yang fokus di writing, speaking, conversation, grammar, dlsb.

Teman saya yang sudah S2 di usianya yang baru 29 tahun (secara persentase, sangat sedikit lho WNI yang sudah meraih prestasi seperti ini), pun mengidam-idamkan pendidikan berkualitas baik dari lingkungan untuk putra-putrinya kelak. Meskipun yang bersangkutan saat ini masih belum menikah.🙂

Berlibur/merantau/sekolah/tinggal di negeri orang jadi keinginan tersendiri. Psikografisnya: liburan sudah menjadi kebutuhan yang lebih dari sekedar basic. Lihat saja Indonesia sekarang. Bali atau Singapore bukan lagi destinasi yang diinginkan. Tapi sudah Jepang, Korea (selatan), Turki, bahkan hingga Eropa.

Cool factor. Kalo ga keren, ga mau! Kira-kira tipe anak muda sekarang yang ga cuma cari unsur fungsional aja, tapi juga seberapa keren elu di mata orang. Fesyen ga untuk nutup badan doang, tapi harus jadi alasan tampil ciamik! di mata rekan-rekan sepermainan. Lu keren, gw suka ma elu. Lu ga keren, elu bukan temen gw. Like and dislike become more intense than before.

Garuda Food. Ini adalah corporate best practice terdekat yang bisa saya jadikan contoh. Kurang puas cuma jualan kacang (salah satu industri yang sulit dimasuki oleh pemain FMCG), akhirnya jual beragam produk food and beverages (snack, biskuit, jelly, dll). Masih belum puas juga, “terpaksa” ekspansi ke Thailand, China, lalu India.

Masing-masing ada plus-minusnya. Contoh minusnya, mereka yang terlalu lama di negeri orang biasanya akan “lupa tanah air”. Sudah terlalu lama menjadi warga global. Di negara maju sana, pernikahan sudah dianggap urusan masing-masing. Lelaki dan perempuan tinggal seatap tidak digubris oleh tetangga. Sebab terlampau egois, malas memiliki anak. Ada istilahnya lho untuk yang komitmen menikah tapi tidak mau punya anak: DINKs (Double Income No Kids).

Biarpun sudah declare mau Go Global, tapi prosesnya engga boleh setengah-setengah. Jangan sampai terjadi: sudah deklarasi menjadi pemain go global, tapi tetap bilang “Da aku mah apa atuh?”😀 Ternyata kalimat ini saya temukan sebagai indikator yang kurang positif dalam corporate culture sebuah BUMN ternama yang mulai go international.

Keeping Local.
But, keeping the local one is not so bad. Menjadi yang terbaik itu pasti. Dalam konteks positioning, going global take the risk itself within.

Karena rezeki sudah ditetapkan, bahkan sejak kita masih dalam kandungan. Bayi-bayi yang baru dilahirkan, meski akan menjadi tanggungan orang tuanya, sudah membawa rezeki baginya dan keluarganya.

Masuk ke pasar lokal mendatangkan problem tersendiri. Bahasa daerah kerap menjadi tameng customer intimacy. It’s luck for them (salesmen) who can speak in local languages. Karena konsumen merasa nyaman, nyambung, dan se-daerah dengan orang-orang yang satu bahasa dengannya.

Di negeri kita ini, alhamdulillah masih peduli akan institusi pernikahan. Masih memprioritaskan keturunan. Ini berkah tersendiri. Ga usah repot marketing sampai luar negeri. Toh, market sendiri tetap tumbuh dan kita masih bisa mengaisnya. Tidak perlu terpapar risiko ekspor hingga risiko foreign exchange.

Global brand seperti McD, Pizza Hut, KFC sekalipun pada akhirnya akan berperang di pasar lokal. Proses pe-lokal-an value proposition tentu akan mendistorsi core competence mereka. Di sinilah keunggulan pemain lokal macam Gudeg Yu Djum Jogja, Rawon Setan Surabaya, Soto Kudus Kauman, dsb. Rasa lokal yang sudah pasti khas ditambah keunggulan service ala Indonesia banget jadi keunggulan tersendiri dan sulit tersaingi oleh global brand.

Dalam serangan global yang luar biasa, inisiatif-inisiatif defensif mulai diberlakukan secara tak terpola oleh para pemain lokal. Industri-industri berlabel muslim/halal/syariah mulai bangkit dan menggarap market nasional dan regional. Di sini, kita menjadi pemain pasar sekaligus konsumen yang jadi fondasi kekuatan ekonomi kita.

Mengapa? Karena Islam tidak lagi dipandang secara jadul. Tapi sudah lebih keren karena ada cool factor-nya. Lihat saja industri fesyen muslim, hotel syariah, umrah, dan lain sebagainya yang menjadi bisnis-bisnis protektor national market kita.

Simpulannya, masing-masing ada plus-minusnya. Berubah jadi lebih baik itu harus. But many times, positioning always matters. Will you Going Global atau Keep Local?

Related Post:
Asing tapi Nasional?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s