Gotham and Storytelling


Belakangan ini saya rajin mengunduh dan menonton serial “Gotham“. Sekarang sudah 9 episodes. Ratingnya lumayan lho, 8.2 dari total 10. Artinya, banyak yang suka. Terkait hal ini, saya punya duga-dugaan yang belum terkonfirmasi ke para pemirsa yang sebenarnya. Yah, tapi minimal udah terkonfirmasi ke saya gitulah, hehe😀

Jadi serial ini berlatar belakang kota Gotham (ya, Gotham yang Batman itu lho) sebelum Batman lahir, hadir, dan “menjaga” kota tersebut. Di serial ini, Bruce Wayne kecil selalu curious alias kepo banget mengenai bagaimana kota tersebut “bekerja”. Terlebih banyak peristiwa-peristiwa janggal (sekaligus menarik) yang menjadi lakon utama di tiap episodenya pasca kematian pasangan Wayne di hadapan Bruce kecil.

Protagonisnya adalah James (Jim) Gordon, alias pak komisaris polisi di film-film Batman. Di sini diceritakan bahwa karakter ini masih rookie di GCPD. Baru gabung di kepolisian, tapi masih punya idealisme tinggi. Sehingga sisi idealisme-nya (dan itu yang selalu menjadi bawaan khas di perannya) dapat dieksplorasi besar-besaran oleh produser dan sutradara yang bersangkutan di serial ini.

Di samping ketokohan protagonis, masing-masing antagonis juga dideskripsikan detil. Lihat bagaimana Oswald “Penguin” Cobblepot mampu tampil cengengesan dan lemah, tapi di saat lain pandai menipu, bahkan menjadi sadis. Ada juga Selina Kyle, tokoh yang mestinya jadi Cat Woman di versi film. Tindak-tanduk dan kelakuannya udah sama cem Cat Woman yang asli. Gerakan lincah, badan lentur, dengan mata yang bisa melihat dalam kegelapan malam.

Jadi, ternyata.. –eh, kasi tau gak ya; kasi tau gak ya; spoiler dikit nih soale😀 — warga kota Gotham itu menaruh harapan pada “pahlawan terselubung” yang “beraksi” membasmi orang-orang jahat –semisal letnan yang korup atau pengusaha yang filantropi-nya cuma pura-pura. Tidak lain karena GCPD tidak selalu bisa diharapkan. Sebab itu ada sebagian warga yang main hakim sendiri. Pola seperti ini yang kemudian dilakukan secara persis oleh The Dark Knight seperti Batman.

Lewat serial Gotham ini, produser dan sutradara jadi mampu mengeksplorasi dan mengeksploitasi ruang-ruang cerita di kehidupan pra-Batman. Which is, selama ini hanya era-nya Batman yang kita tahu. Pola ini mirip dengan trilogi “Lord of The Ring” yang diikuti dengan prekuel trilogi “The Hobbits“. Trilogi kedua (yang berkisah mengenai para hobbit) adalah pemberi penjelasan behind the story why there was “Lord of The Ring“. Ada story, ada demand. kalau demand berlanjut? Baru kita teruskan story-nya🙂

The storytelling part
Sengaja atau tidak sengaja, selalu ada cerita yang tersirat di balik setiap word of mouth (WOM) yang tersaji. Demikian pula di setial “Gotham” ini. Batman sebagai sebuah legenda yang menemani kisah-kisah generasi saya di masa kecil dulu, adalah salah satu di antaranya. Dan kini, ketika “potret” kehidupan di kota Gotham disajikan secara epik melalui rangkaian episode ke episode, nostalgia tersebut terulang kembali.

Dan dalam setiap nostalgia tersebut, selalu ada cerita-cerita tertentu di dalamnya. Inilah yang biasa kita sebut “storytelling” alias story to be told. Cerita-cerita yang menjadi konten dalam setiap getok tular yang kita sebarluaskan. Di sini saya juga menjadi salah satu storyteller alias customer-marketer atas serial Gotham ini. Yang membuat anda penasaran, turut men-download, hingga ikut menyaksikan.

Storytelling juga yang mendasari tersebarnya Mini Drama AADC yang menjadi konten dari promo fitur “Find Alumni” yang lalu dari brand Line. Jadi bukan asal “film laris tentang hubungan asmara“. Melainkan ada headline “Rangga dan Cinta yang sudah 12 tahun gak ketemu” diikuti story “CLBK-nya Rangga ma Cinta”. Keduanya membuat videonya jadi ditonton, meme-nya di-retweet and di-share kemana-mana. Ini enelan lho, ada riset yang menyatakan bahwa di Indonesia, social media itu dipakai untuk CLBK-an. Hehe..😀 Jadi ngerti kan, kenapa mini drama tersebut tersebut dan meluas dalam waktu singkat? Hehe.. There is always story to be told, that’s why we call it storytelling🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s