Singlenomics


(Tulisan ini dimuat di Majalah Warta Ekonomi)

Beberapa waktu lalu kami sempat menulis tentang “Revolusi jomblo”. Fenomena ini  masih kait-mengkait dengan revolusi kelas menengah. Yaitu, revolusi kelas sosial masyarakat dari kelas bawah (daya beli kecil atau pas-pasan) ke menengah (daya beli cukup dan cenderung tinggi), yang didorong oleh tingkat pendidikan tinggi, dan koneksi sosial tinggi, sehingga terjadilah mobilisasi sosial secara massif dan revolusioner.

Salah satu bentukan dari revolusi ini adalah ekonomi yang tumbuh berkat para jomblo kelas menengah yang (lagi-lagi) knowledgeable, koneksi sosial tinggi dengan daya beli kuat. Sebagai konsumen, mereka adalah pasar yang layak anda incar, karena jumlah individunya banyak dengan daya beli yang tinggi. Kami mengistilahkan ekonomi para jomblo ini dengan sebutan “singlenomics”.

Sebagai perbandingan, usia rata-rata ketika menikah saat ini berada pada kisaran 25 tahun. Biasanya pilihan tersebut berlaku setelah lulus kuliah dan cukup lama bekerja (atau bekerja dahulu hingga mapan). Sangat berbeda bila dibandingkan dengan masa orang tua kita dahulu, dengan tingkat pendidikan yang masih rendah dan jenis pekerjaan masih homogen (bertani, berkebun, melaut), rata-rata usia ketika menikah cenderung di bawah 20 tahun.

Sebagai kelas menengah dengan ciri-ciri tersebut di atas, mereka tak jarang memilih untuk menunda pernikahan (sehingga tetap berstatus single) dengan alasan mengejar kemapanan karir, memuaskan gejolak kawula muda (salah satunya lewat gaya hidup konsumtif), serta masih senang bersosialisasi dengan teman (online lewat media sosial maupun offline via kopi darat), dan berbagai alasan lainnya. Tapi, melalui artikel ini mari kita bahas tiga yang pertama.

Mengejar Karir
Salah satu faktor penting dalam karir adalah tingkat pendidikan. Ini terlihat dari indikasi jomblo-ers yang mengambil S2 sebelum menikah sebagai syarat meraih posisi yang lebih tinggi di dalam perusahaan. Baik lewat kelas malam atau kelas akhir pekan, semuanya dikejar oleh para jomblowan/jomblowati. Tak perlu heran, banyak kampus menggelar berbagai manuver untuk menggaet mahasiswa baru yang bercita-cita menjadi eksekutif papan atas di negeri ini.

Tidak hanya di dalam negeri, banyak pula para jomblo-ers yang mengejar kuliah S2 hingga ke luar negeri. Baik Eropa (Jerman, Belanda), Amerika Serikat maupun negara-negara tetangga di Asia (Jepang, Korea Selatan). “Hitung-hitung merasakan bagaimana rasanya tinggal di negeri orang”, sebagaimana komentar seorang rekan. Tidak hanya bisnis pendidikan langsung yang merasakan manisnya dana pendidikan dari mahasiswa S2, tapi juga agensi pendidikan.

Sebelum keberangkatan, agensi pendidikan–yang berupaya menghubungkan para calon mahasiswa dengan kampus-kampus di luar negeri–pada akhirnya turut merasakan gurihnya dana pendidikan para pengejar karir. Kemudian, sekembali dari luar negeri, para pengejar karir ini siap berkompetisi dengan berbagai kompetitor pencari tenaga kerja lokal dan internasional (misal, IPB: India, Pakistan, Bangladesh) untuk memetik hasil investasi pendidikan magisternya.

High Spender
Jomblo-ers tidak segan untuk menghamburkan uang untuk produk dan layanan premium yang mereka maui. Misalnya, liburan ke luar negeri, menonton Moto GP, atau klub kesayangan bertanding di negeri tetangga. “Mumpung masih sendiri, nggak papa dong memanjakan diri,” kilah seorang rekan. “Toh udah kerja dan pakai duit sendiri kan. Bukan duit ortu lagi, gitu lho,” lanjutnya. Dikit-dikit maen (baca: liburan) ke tempat wisata. Baik di dalam negeri (dengan alasan sedikit nasionalis) hingga destinasi luar negeri (berkilah cuci-mata ke negeri asing).

Selain itu, pusat kebugaran seperti Celebrity Fitness, Gold Gym dan Fitness First punya lebih banyak anggota yang single dibandingkan yang sudah menikah. Belum lagi produk-produk turunannya seperti nutrisi protein, kreatinin, casein, penghancur lemak, dan lain sebagainya yang laris manis dikonsumsi. Karena masih single, pilihan (pasangan hidup) masih banyak, jadi tidak pernah lupa pergi ke gym untuk memperbagus penampilan sekaligus memuaskan gejolak kawula muda. Bagi para jomblo-ers penampilan di mata orang lain adalah hal penting untuk selalu ditingkatkan.

Highly-Connected
Segmen jomblo berasumsi bahwa setelah menikah, kehidupan berkeluarga akan lebih mengekang kebebasan. Pergi dan pulang sudah ada yang mengatur. Sebab itu mereka memuaskan status saat ini yang masih bisa bersosialisasi dengan banyak teman dalam porsi waktu yang lebih. Dugaan mereka, keadaan akan sangat menghimpit setelah menikah. Apalagi setelah para momongan lahir ke dunia, ia menuntut perhatian yang luar biasa.

Selagi itu, jangan berpikir orang yang single itu kesepian dan terisolir, “jomblo-ers” justru highly-connected secara sosial. Apalagi di era media sosial seperti sekarang ini. Boom media sosial justru menjadikan para single ini makin well-connected dan spend more money. Budaya nge-lounge, mencari tempat nongkrong yang bisa “see and to be seen” menjadi bagian dari penentu singlenomics. Bagi anda para marketer yang menggarap segmen jomblo-ers, jangan pernah lewatkan promo-promo marketing anda tanpa menyentil ke-jomblo-an mereka. Selalu manfaatkan status mereka itu untuk mem-viral-kan brand anda.

Biro Jodoh Laris Manis
Karena memiliki standar yang tinggi akan pasangan hidup, para jomblo-ers kian mencari yang high quality. Tidak heran istilah “high quality jomblo” begitu mengemuka. Tidak heran industri yang mengincar segmen jomblo seperti biro jodoh atau mak comblang (match maker) dan konsultasi percintaan yang menjamur di berbagai kota. Situs-situs biro jodoh pun bermunculan bagai jamur di musim hujan. Alasan terutama yang kami temukan adalah kesulitan mencari pasangan ideal atau serasi (berdasarkan ukuran mereka).

Mengapa? Ketika daya beli tinggi, tapi tidak memiliki keterampilan yang sesuai dengan standar yang diinginkan oleh pihak pasangan, maka ilmu gaet-menggaet calon pasangan hidup, menjadi bisnis besar. Maka kelas menengah pun butuh biro jodoh. Coba kita tengok bagaimana banyaknya kantor biro jodoh profesional di Jakarta dan situs biro jodoh online. Tak pelak, bisnis ini adalah fenomena baru di era revolusi kelas menengah dan revolusi jomblo.

Hehe.. Menarik memang mengamati fenomena-fenomena di atas, oleh sebab itu kita sambut maraknya bisnis “singlenomics” di tanah air…

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s