Mengapa Harus Menteri Marketer?


Beberapa waktu lalu presiden terpilih Jokowi mengeluarkan pernyataan menarik, yaitu bahwa menteri haruslah jago marketing. Jokowi mengungkapkan bahwa menteri-menterinya (khususnya untuk jabatan-jabatan strategis tertentu) haruslah mampu memasarkan produk-produk Indonesia di pasar global. Di industri kreatif misalnya, kita punya potensi produk yang luar biasa mulai dari kerajinan, seni tari, musik, video, games, animasi hingga film.

Menteri-menteri jago marketing ini pas jika ditempatkan di pos-pos strategis seperti Kementerian Ekonomi Kreatif, Kementerian Industri, Kementerian Perdagangan, Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Maritim, dan lain-lain. Pernyataan Jokowi di atas menjadi relevan kalau kita melihat peta politik-ekonomi di tingkat regional maupun global dan momentum menggeliatnya pasar domestik oleh tumbuh pesatnya kelas menengah kita.

Kenapa menteri-menteri di posisi strategis tersebut harus memiliki karakter marketer? Kami memiliki tiga challenges yang bakal dihadapi oleh bangsa ini dalam jangka pendek maupun panjang.

Competition Challenge
Challenge pertama yang telah ada di hadapan kita tahun depan adalah dimasukinya era pasar bebas Asean (Masyarakat Ekonomi ASEAN, MEA). Di bukanya pasar bebas ASEAN sekaligus menandai terbukanya kompetisi antar pemain di kawasan ini. Dalam konteks persaingan ini kondisinya meresahkan karena daya saing pemain-pemain lokal kita masih kalah dibanding pemain di negara tetangga seperti Singapura, Thailand, Malaysia dan sebagainya. Ketika daya saing belum kuat, maka skenario yang bakal terjadi adalah di era MEA nanti kita “dimanfaatkan” bukan “memanfaatkan.”

Dengan challenge semacam itu, maka tugas menteri untuk membangun daya saing pemain di sektor-sektor strategis seperti sektor industri, perdagangan, BUMN, ekonomi kreatif, dan UKM, menjadi demikian krusial. Mereka mengemban amanat untuk mendongkrak daya saing pemain lokal melalui peningkatan kemampuan modal, teknologi, manajemen, dan SDM agar kompetitif di pasar regional/global. Mereka harus mengenyahkan mental birokrat dan menggantinya dengan mindset marketer/entrepreneur.

Singapura adalah contoh kasus menarik bagaimana para menterinya memiliki mindset marketer/entrepreneur. Dengan menteri-menteri berwawasan marketer/entrepreneur ini, mereka menyulap negara kota ini menjadi regional hub bagi perdagangan, pariwisata, pendidikan, hiburan, bahkan sport.

Market Challenge
Challenge kedua adalah potensi pasar Indonesia yang sangat besar, yang seharusnya bisa menjadi daya tawar ampuh untuk mengembangkan sumber daya dan daya saing pemain lokal agar mampu berbicara di kancah global. Pasar domestik yang besar itu seharusnya bisa dipakai sebagai wahana berlatih dan mengasah diri para pemain lokal agar mereka memiliki kapasitas setara dengan perusahaan global.

Kami sering menggambarkan Indonesia saat ini sebagai “gadis molek” yang dilirik oleh investor dan perusahaan manapun di seluruh dunia. Jumlah penduduk yang besar, pendapatan perkapita yang telah mendekati US$5.000, dan basis konsumen kelas menengah yang siknifikan, menjadikan Indonesia sebagai pasar yang atraktif bagi perusahaan-perusahaan global dari manapun di seluruh dunia. Tak heran jika Indonesia mendapatkan rating istimewa dari lembaga-lempbaga pemeringkat bergengsi seperti S&P, Moody’s atau Fitch.

Untuk menjadikan potensi pasar domestik yang sangat besar ini dibutuhkan menteri-menteri yang memiliki mindset marketer/entrepreneur. Seorang menteri marketer/entrepreneur akan mampu merumuskan formula yang pas untuk di satu sisi menarik invastasi asing ke Indonesia, tapi di sisi lain semaksimal mungkin memanfaatkan kehadiran investasi asing tersebut untuk sebesar-besarnya keuntungan rankyat Indonesia. Menteri yang marketer/entrepreneur akan cerdas memanfaatkan kekuatan pasar Indonesia sebagai medium untuk menempa daya saing pemain lokal di pasar domestik dan kemudian siap tinggal landas memasuki pasar global.

Brand Challenge
Challenge terakhir adalah berkaitan upaya bangsa ini membangun brand lokal yang kokoh baik di kalangan perusahaan besar, menengah, maupun kecil. Dalam berbagai kesempatan seminar, kami sering mengatakan bahwa negeri ini sudah dalam kondisi kritis dalam hal kedaulatan brand, kenapa? Karena kita melihat kenyataan pahit di mana brand asing sudah demikian mendarah daging menguasai negeri ini.

Di hampir semua industri, mulai dari telekomunikasi, perbankan, otomotif, makanan/minuman, farmasi, kosmetik, toiletris, ritel, elektronik rumah tangga, gadget, pertambangan, alat berat, periklanan, riset pasar, bahkan e-commerce, negeri ini sudah “ditawan” oleh brand asing. Dengan pahit kami katakan dalam hal brand negeri ini masih belum merdeka. Kita memiliki kemerdekaan brand hanya jika merek lokal kita berjaya di negerinya sendiri, menjadi tuan rumah di negerinya sendiri.

Nah, dalam konteks urgensi inilah kehadiran menteri marketer/entrepreneur begitu penting. Menteri Perindustrian, Perdagangan, Ekonomi Kreatif, Maritim, hingga Menteri Koperasi dan UKM haruslah bahu-membahu membangun awareness mengenai kondisi “darurat brand”, kemudian mengambil langkah-langkah strategis untuk membangun brand-brand lokal yang tak hanya mampu menjadi di tuan rumah di negeri sendiri, tapi juga berjaya di pasar internasional.

Semoga menteri marketer akan membawa kebaikan bagi negeri ini.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s