Tips Berolahraga di Rumah


Tahu jargon “Memasyarakatkan olahraga dan Mengolahragakan Masyarakat”? Tahu tidaknya kamu bisa jadi ukuran berapa usiamu :p

Semangat jargon tersebut masih ada hingga sekarang, khususnya yang tampak dari peristiwa-peristiwa terkini di sekitar kita. Start from lapangan futsal yang dibuka di mana-mana.

Siswa SMA, mahasiswa hingga pekerja turut serta meramaikan bisnis yang baru berusia sekitar 1 dekade tersebut. Ramai juga mereka yang menghadiri Car Free Day untuk berolahraga. Terlepas dari isu lingkungan yang hanya dibawa-bawa, tampak jelas semangat berolahraga kian menjadi-jadi.

Buktinya adalah, hampir semua orang ingin berpenampilan menarik. Gim-gim semakin dipenuhi oleh mereka yang ingin tampil lebih segar dan menarik di hadapan orang banyak. Makanya otot-otot tangan dan kaki dibentuk.

Supaya lebih ramping dan berisi bukan tampak gembung karena kadar lemak yang kelewat batas standard. Sebagian kecil di antaranya ingin membawa diri jadi lebih enteng, makanya berolahraga di gymnasium.

Enggak hanya soal olahraga, tapi juga soal makanan-minuman yang di-positioning-kan sebagai makanan-minuman sehat. Misal, susu protein yang dijual di retail dan konon bisa bantu bentuk badan.

Saya sebut konon karena seorang rekan mati-matian membantah kualitas produk tersebut. Ada juga susu dengan kandungan kalsium yang di-positioning-kan untuk memperkuat tulang sehingga mencegah osteoporosis.

Barusan, itu semua external perspective. Driver-nya adalah size ekonomi kita yang tumbuh dan melahirkan kelas menengah serta Orang Kaya Baru (OKB). BTW, jangan lupa baca tulisan-tulisan saya mengenai kelas menengah muslim ya😀 Sekarang dari internal perspective (baca: kisah sejarah perolahragaan saya pribadi).

Bagi saya, dulu, yang namanya olahraga itu ya maen (sepak)bola. Bukan olahraga namanya kalo engga maen bola. Soalnya, maen bola itu menyenangkan. Dan olahraga itu harus menyenangkan.

Kalo hanya lari saja dapat capek dan bosan, berarti itu bukan olahraga. Setidaknya itu definisi dan prinsip kuat yang selalu saya pegang dan bawa ke mana-mana. Hahaha. Nah berikut ini yang pertama dari saya mengenai tips berolahraga di rumah: jangan maen bola di dalam rumah.

Di kampus SMA saya yang fasilitas olahraganya banyak, mestinya minat olahraga tersalurkan. Hehe. Maklum, mulai dari lapangan sepakbola, basket, voli,hingga trek lari ada di sana. Jadi bisa bervariasi dari hari ke hari. Tapi itu mestinya doang.

Karena tiap sore yang ada hanya malas semata. Lagipula lima hari dalam seminggu ada olahraga paginya. Apalagi semakin senior, akan semakin sibuk belajar. Kenyataannya hampir tiap hari maen bola di antara asrama no.2 dan asrama no.3.

Waktu kuliah, weekend lebih banyak sok sibuk berkegiatan di kampus. Ikut unit, himpunan, BEM, dan sebagainya. Awal-awal masa kuliah masih banyak yang diikuti. Makin akhir, makin sedikit dan berusaha fokus ke amanah (yang biasanya) semakin puncak dan semakin besar.

Walhasil, jarang olahraga di akhir pekan. Sebagai bukti sejarah, saya nyatakan bahwa saya pernah opname karena sakit demam typhoid (baca: tipes).

Bosan di luaran, rumah tempat kita tinggal kembali menjadi alternatif tempat berolahraga. Dulu saya pribadi malas banget olahraga di rumah. Mulai dari push up, sit up, dan berbagai gerakan lainnya hanya one time spirit saja.

Mau dimulai lagi seperti apa, selalu saja mentok ke satu kata: malas. Sampai akhirnya saya mulai download berbagai video dari YouTube dengan keyword “fitness”. Tidak sekedar unduh-simpan-lalu lupakan, saya mulai workout dengan gerakan panduan dari video.

Ujung-ujungnya lalu kembali ke kata yang akrab dengan malas: bosan. Melihat para fitness trainer lama-lama membuat eneg juga. Mending duduk santai nonton unduhan “highlight pertandingan tadi malam” yang ga sengaja ke-download bersamaan :p

Dari sini, akhirnya saya beralih ke nonton customized-video para pesepakbola internasional: Zlatan Ibrahimovic, Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, Angel Di Maria, dan sebagainya. Topiknya bisa best goal, great skills, clever assists, dan seterusnya.

Menontonnya menarik, musiknya juga berdentum-dentum pas dengan suasana olahraga yang diiringi. Beberapa hari ini, saya selalu berolahraga setiap pagi diiringi musiknya sambil menonton gambar bergeraknya.

Jadi tips berolahraga di rumah adalah cari video dengan durasi waktu agak panjang, misal 20 menit. Jadi nontonnya puas, olahraganya juga puas. Mestinya ini bisa jadi jalan menjaga berat badan lah😀

Kota yang sehat itu punya ruang terbuka untuk berkumpulnya para warga masyarakat. Termasuk juga fasilitas lapangan olahraga dengan alat-alat olahraga di ruang terbuka. Macem beginian ternyata saya dapati di sekitar tempat maen di Rawamangun.

Ini punya pemerintah daerah, jadi warga Jakarta Timur khususnya bisa menggunakan alat-alat tersebut yang konon gratis.. tis.. tis.. (masih konon karena saya sendiri belum sempat ke sana, masih suka sibuk di kantor)😀

One thought on “Tips Berolahraga di Rumah

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s