Makin Kaya, Makin Memberi


(Tulisan ini dimuat di Majalah Warta Ekonomi)

Bulan April-Mei ini Inventure melakukan survei khusus mengenai perilaku konsumen kelas menengah muslim di Indonesia. Salah satu hal yang melandasi riset tersebut adalah hipotesis adanya kecenderungan bergairahnya perilaku berzakat dan bersedekah di kalangan masyarakat kelas menengah muslim kita. “Makin kaya, makin banyak memberi’, begitu kira-kira pameo yang pas kita sematkan pada masyarakat kelas menengah muslim kita.

Saat ini total zakat yang berhasil dihimpun baru sekitar Rp. 2,5 triliun. Semuanya merupakan akumulasi dari berbagai lembaga ZISWAF (Zakat, Infak, Sedekah, Wakaf) seperti Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, PKPU dan lembaga ZISWAF yang lain. Menyimak data BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) terbaru, maka perolehannya baru kurang dari 1% dari potensinya yang sebesar Rp. 270 triliun. Tetapi dalam 5 tahun terakhir, rata-rata kenaikannya adalah 24%.

Kenaikan tersebut bisa dibilang luar biasa, apalagi bila mengamati perkembangan ekonomi yang nasional yang ditopang oleh tumbuhnya kelas menengah muslim di Indonesia. Kenaikan zakat nasional tersebut kami kira merupakan suatu wujud nyata kesadaran kelas menengah muslim dalam mengadopsi nilai-nilai agama Islam ke dalam kehidupan nyata bermasyarakat. Berikut adalah beberapa tren yang kami tangkap dari fenomena menggeliatnya semangat bersedekah masyarakat kelas menengah muslim kita.

“Driver” Perputaran Ekonomi
Kelas menengah muslim sadar bahwa makin banyak yang disumbangkan, maka makin banyak yang dapat menerima manfaatnya. Bisa untuk belanja harian, digunakan untuk beasiswa, pengobatan bagi yang sakit, dan lain sebagainya. Kelas menengah muslim juga yakin bahwa dana “gratis” ini dapat bermanfaat maksimal dan memutar berbagai kegiatan masyarakat, termasuk meningkatkan daya beli. Jadi zakat juga berperan sebagai “driver” dalam mendorong perputaran dan pertumbuhan ekonomi.

Kesadaran kelas menengah muslim akan peran zakat selaku “driver” perputaran ekonomi ini tampak dari survei Inventure tahun 2013 yang menunjukkan bahwa pengeluaran kelas menengah untuk zakat dan sumbangan mencapai 5,4% dari total pengeluaran bulanan. Yang mana, persentase tersebut lebih tinggi daripada kewajiban yang telah dibebankan selama ini, yaitu 2,5%. Zakat: Transfer dan Tunai Mas Thoriq Helmi, salah satu direktur di Dompet Dhuafa, suatu kali pernah mengungkapkan kepada kami bahwa sedekah dan zakat yang ditampung Dompet Duafa selama ini sebagian besar diperoleh dari kalangan muslim kelas menengah. Dia juga bilang, potensi zakat dari kelas menengah muslim ini sangat besar dan potensinya terus bertumbuh dari tahun ke tahun. Menariknya, “Lebih dari 90% dari mereka membayar zakat via electronic channel seperti transfer ATM, atau debit,” ujarnya.Wow…techy amat!

Dan bukan berarti medium tunai ditinggalkan sama sekali. Karena seperti diuraikan salah satu responden kami, “Kalau biasa transfer, sesekali diganti dengan sumbangan langsung ke kotak amal. Kalau biasa ke lembaga zakat, kini menyumbang di masjid kompleks.” Jadi meski tunai adalah cara lama, tapi tunai tidak tergantikan oleh transfer. Karena “segar”-nya dana yang bisa digunakan langsung oleh objek zakat (mustahiq) itulah khasiatnya!

Era Institusi Sedekah
Selain dana segar, ada juga kelas menengah muslim yang menyedekahkan waktu dan tenaganya untuk aktif terlibat dalam institusi sedekah. Ada Sedekah Rombongan (@SRbergerak) yang dimotori oleh mas Saptuari Sugiharto (@saptuari). Komunitas ini fokus mendayagunakan dana sedekah yang terkumpul untuk membiayai pengobatan bagi mereka yang tidak mampu. Senyum lebar tersungging di bibir mereka pasca operasi berlangsung.

Disamping itu ada juga Komunitas Sedekah Harian@SedekahHarian yang digerakkan oleh mas Abdul Aziz (@AbdulAzizID). Program utama yang seringkali digadang-gadang adalah #WisataBerbagi, yakni event perjalanan wisata ke Masjid, Pesantren atau Panti Sosial. Target sedekahnya adalah warga di sekitar daerah tujuan wisata. Jadi sedekah bukan domain lembaga ziswaf yang resmi saja, melainkan juga oleh para volunteer yang sangat ikhlas berbuat baik kepada sesama.

Tuntutan Inovasi Program
Kelas menengah muslim yang umumnya knowledgeabletelah melahirkan masyarakat yang kritis dan selalu ingin hasil yang lebih baik. Termasuk pada distribusi zakat dan berbagai program turunannya. Mereka menuntut inovasi program yang lebih baik dari para lembaga zakat selaku pengelola dana. Beberapa lembaga zakat merespon dengan sangat baik. Contohnya adalah program Superqurban dari Rumah Zakat dan Sekolah Smart Ekselensia yang digagas Dompet Dhuafa.

Inovasi program Superqurban terletak pada format daging kurban dalam bentuk kemasan kalengsehingga mudah didistribusikan ke berbagai penjuru tanah air. Betapa luar biasa nilai tambah manfaat yang diberikan manakala format kemasan daging kurban diubah menjadi kemasan kaleng seperti ini! Sedangkan Smart Ekselensia adalah adalah sekolah berkualitas yang dieksekusi langsung dengan dana zakat. Kongkrit dan kontributif untuk pendidikan nasional kita.

Kelas menengah muslim yang demanding menuntut pendekatan baru mengenai edukasi berzakat. Kalkulator Zakat dari lembaga zakat adalah jawaban dari tuntutan tersebut. Apalagi di era digital ini, semuanya dituntut untuk bisa adaptif dengan teknologi modern nan terbaru. Kini kalkulator zakat bisa diakses di situs lembaga zakat, dan ada pula dalam format mobile apps.

Bagaimanapun juga, ber-Islam itu adalah suatu proses belajar. Hal inilah yang terutama dirasakan oleh kelas menengah muslim. Dan bukan sekedar belajar tentang, tapi juga melakukan dan menjadi Muslim. Dan ”memberi” dan “berbagi” adalah suatu proses sepanjang hayat dalam upaya menjadi Muslim itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s