Diet Marketing


Saya kini punya istilah baru: “diet marketing”. Istilah ini mulai saya populerkan sejak saya sadari bahwa jadi marketer itu harus seperti penembak jitu (sniper). Jadi para sniper itu sadar bahwa mereka punya target (market), sementara amunisi (marketing resources) yang dimiliki serba terbatas.

Maka para marketer harus perhitungan dan berhati-hati dalam menggunakan amunisi. Jangan sampai amunisi (sumber daya pemasaran) habis, sementara dana tunai hasil penjualan belum juga masuk ke kantong sendiri. Perusahaan bisa kolaps sebelum waktunya. (Karena itu laporan keuangan yang benar secara akuntansi, akan memberikan informasi piutang yang tepat untuk ditagihkan kepada pembeli.)

Inti pesan kampanye “diet marketing” adalah setiap aktivitas pemasaran yang dilakukan harus dapat dipertanggungjawabkan hasilnya. Apakah itu berupa brand awareness, kenaikan hasil penjualan, bertambahnya outlet/channel penjualan yang baru, dan lain sebagainya. Data-data seperti ini (bila rajin dicatat) akan sangat membantu pengambilan keputusan bisnis di kemudian hari.

Oleh sebab itu, berbagai aturan main pun digelar di dalam perusahaan. Di perusahaan berskala besar, ada aturan bahwa salesman tidak boleh sembarang membuat program penjualan. Setiap program harus dibuatkan usulan (proposal)-nya, setelah disetujui oleh atasan baru anggaran program bisa turun. Ini yang sifatnya taktikal, untuk yang stratejik berbeda lagi.

Jauh sebelum proposal program taktikal disusun, setiap program marketing atau selling harus direncanakan masak-masak. Minimal untuk setahun ke depan. Apalagi setelah dunia bisnis kian turbulen, perusahaan tidak lagi memiliki rencana-rencana jangka panjang. Maksimal rencana adalah 3 tahun. Itu pun untuk keseluruhan operasional perusahaan. Bagian marketing? Setiap akhir tahun sudah menyusun rencana baru untuk tahun depannya dan bersiap dengan berbagai program dadakan (seperti contoh di atas) di lapangan yang harus digelar untuk adu siasat dengan kompetitor.

Kurang lebih 10-12 tahun yang lalu, ada konsep dalam dunia keuangan mikro perusahaan yang disebut dengan ROMI. Alias Return on Marketing Investment. Prinsipnya sama, bahwa tidak boleh ada resources yang terbuang sembarang. Semuanya harus memiliki hasil yang bisa diukur (baca: return). Karena jelas, semua yang bisa diukur berarti bisa dikelola (dengan) lebih baik lagi.

Low Cost Marketing Era

Dan di era internet dan social media ini, segala aktivitas pemasaran terasa lebih mudah dan murah (bahkan bisa gratis) karena bisa dibuat digital. Format bisa gambar (instagram), tulisan (twitter, wordpress) atau video (youtube). Tinggal ide kreatif serta eksekusi yang oke punya. Berbagai social media agency juga dapat membantu. Dari yang murah meriah tapi terjangkau hingga yang mahal tapi mampu menembus berbagai medium internet (portal site, aggregator site, news site, dll).

Alokasi biaya pemasaran juga makin bergeser. Digital kini menempati porsi yang tidak sedikit. Dan dari porsi tersebut, kemudian terdistribusi lagi ke berbagai website, blogger, online advertising, affiliate marketing, social media, SEO, dan lain sebagainya. Tidak hanya di marketing, dunia politik pun tidak bisa lagi menganggap sebelah mata para calon pemilih di era digital. Perhatian dan alokasi anggaran kini dialihkan ke yang riil dan yang digital.

Keep the Basic Marketing

Meskipun dunia kini seakan terbagi dua, yaitu dunia nyata (riil) dan dunia maya (digital), tapi konsep-konsep marketing masih tetap relevan. Target market di dunia digital tetaplah target market yang riil dan  “manusiawi” sehingga konsep marketing yang relevan tetap diperlukan sebagaimana di dunia nyata. Ke depannya, teknologi yang “humanly” adalah teknologi yang akan sukses.

Akan tetapi, ilmu marketing bukan ilmu tentang lipstick dan make up. Marketing bukan mendandani produk atau jasa (atau politik) sedemikian rupa sehingga terlihat begitu menarik bahkan melupakan apa esensi terbaik dari produk atau layanan (atau seseorang). Tetapi aktivitas marketing adalah booster dari object marketing itu sendiri. Karena setiap object marketing harus mampu mengeksiskan dan memasarkan dirinya sendiri. Lalu di-boosting oleh berbagai program pemasaran.

Eksistensi object marketing dibangun dari tiga hal: positioning, differentiation, dan brand(ing). Jadi secara positioning (content), sudah harus berbeda sejak awal. Lalu differentiation (context), meski mirip tetapi harus punya pembeda supaya tetap eksis meski hampir sama. Dan brand(ing) akan terbentuk manakala content dan context-nya berhasil ditangkap oleh target market.

Maka dari itu, membanjiri social media dengan berbagai pesan tidaklah bijak. Target market tetap harus dibidik, pelanggan tetap harus dikelola — dan dibentuk komunitas. Buat akun yang riil dan cocok dengan brand character si brand itu sendiri. Bangun komunitas offline, bangun juga komunitas online-nya.

Authentic Diet

Brand “Holycow” adalah brand resto steak hotel yang sangat mengandalkan promosi lewat social media. Terutama di awal-awal kelahiran brand tersebut. Caranya lewat “promotion tweet” yaitu tamu resto dipersilakan mention akun @holycowsteak untuk mendapat “bonus” satu porsi tiramisu gratis.

Demikian pula dengan “D’Cost”. Resto seafood yang operasionalnya sangat efisien ini, selalu mengandalkan program promosi kreatif yang “getok tular” dan menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. Tanpa perlu membiayai program mahal di Above The Line (ATL), justru direktur-nya sempat mengisi acara talkshow selama 20 menit di TV karena program “Nikah gratis, hamil baru bayar”.

Jadi, object marketing yang authentic tidak perlu membayar mahal untuk bisa eksis. Program promosi yang kreatif (seperti D’cost) atau promosi lewat social media (seperti Holycow) akan menjadi jalur sutra menuju Word of Mouth (WOM) yang nyaris gratis tapi berefek luar biasa. Dua brand ini bisa menjadi contoh bahwa sukses tidak harus berbiaya mahal. Menjalankan aktivitas marketing seperti menjalankan diet bisa menjadi kunci suksesnya.

Sebagai penutup, diet tidak akan berhasil tanpa niat yang sungguh-sungguh dan dari hati yang paling dalam. Boleh melakukan diet dengan “ingin penampilan fisik yang lebih baik”, tapi niat yang paling benar adalah “hidup sehat”. Akhirnya penampilan fisik yang lebih baik adalah bonus. Sementara itu, diet marketing bukan membatasi berbagai langkah-langkah pemasaran, melainkan secara cerdas dan bijak mengelola berbagai pengeluaran untuk aktivitas komunikasi dan pemasaran.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s