Pekerjaan Konsultan (III)


Dalam tulisan sebelumnya saya menyampaikan tentang passion for knowledge. Bahwa sang konsultan harus memiliki passion terhadap pengetahuan (knowledge). Peng-alihbahasa-an passion menjadi hasrat saya kira tidak tepat. Karena passion itu lebih dari sekedar hasrat (untuk melakukan). Ketika passion, seseorang tidak hanya akan “melakukan”, tapi juga “menaklukkan”. Karena dalam passion harus ada tantangan yang ditaklukkan. Di dunia konsultasi, tantangan tersebut adalah knowledge itu sendiri.

Bagaimana segala bacaan, analisis, maupun tulisan seorang konsultan harus tidak jauh dari dari body of knowledge yang digelutinya. Apa  itu body of knowledge? Yaitu serangkaian ilmu (knowledge) yang masih terkait dengan ilmu-ilmu lainnya. Sehingga terkait secara utuh dan bermanfaat dalam menjawab permasalahan yang dialami oleh klien. Di sinilah nilai “tantangan” terhadap pekerjaan konsultan.

Sehingga dalam memahami suatu permasalahan klien, kita (baca: konsultan) tidak bisa memandangnya secara sepotong-sepotong saja. Harus comprehensive. Tidak saja secara teori yang pernah dirilis oleh para peneliti di bidang masing-masing, melainkan juga adanya tuntutan atas pemahaman terhadap permasalahan klien. Makin paham akar masalahnya, makin mudah juga merumuskan solusi yang tepat atas permasalahan klien tersebut. Istilah yang tepat digunakan adalah: “garbage in, garbage out”. Artinya, makin bagus/lengkap masukan (input) yang diperoleh dari klien dan dari berbagai referensi teori, maka makin sempurna keluaran (output) yang dihasilkan oleh konsultan.

Persoalannya adalah input dari klien tidak serta merta bisa segera digunakan untuk menjawab kebutuhan dan keinginan klien. Seringkali masih terdapat “lubang-lubang” di sana-sini yang harus dicari knowledge-nya terlebih dahulu. Hal ini karena tidak semua data maupun informasi benar-benar ada. Tidak heran, pekerjaan konsultan menuntut jumlah bacaan yang sedemikian tinggi untuk meng-cover “lubang-lubang’ knowledge yang belum terisi.

Dari gambar berikut ini, dapat kita pahami bahwa wisdom memang terbangun dari banyak sekali data yang telah terhimpun sebelumnya.

data, information, knowledge & wisdom

Pada konsultan dengan jam terbang yang lebih tinggi, “lubang-lubang” tersebut berhasil diisi lewat wisdom yang dia/mereka miliki. Karena pengalaman yang lebih banyak, seringkali wisdom dari konsultan senior tersebut benar adanya. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa konsultan bisa saja salah, lho😀 Dan kemungkinan tersebut harus terus diantisipasi oleh yang bersangkutan.

Sementara itu, kita tengok dulu ke gedung sebelah (baca: kampus). Sedikit-banyak, ini yang menyebabkan posisi dosen perguruan tinggi menjadi “kurang kuat” ketika menjadi konsultan. Semata karena banyak berinteraksi dengan mahasiswa dan kurang berinteraksi dengan keadaan riil yang terjadi di lapangan. Ini yang seakan menjadi titik lemah profesi dosen sebagai konsultan. Meskipun tidak bisa dibantah bahwa dari sisi penguasaan teori-teori yang merupakan hasil riset, dosen merupakan ahlinya.

Jadi, pekerjaan konsultan tidak terbatas di teorinya saja. Jadi bukan sekedar ilmu mendasar yang diajarkan oleh dosen-dosen di perguruan tinggi. Tidak seperti itu karena konsultan harus melakukan customization pada hasil pekerjaannya yang kemudian dipresentasikan dan diserahkan kepada para klien. Pekerjaan seperti ini tidak boleh membosankan bagi pelakunya. Karena kebosanan akan mengarahkan pada kualitas yang tidak memenuhi standar. Karena itu harus passionate.

Pekerjaan konsultan itu pekerjaan berpikir. Atau bisa disebut, banyak berpikirnya. Dan hasil olah pikir ini mungkin menurun kualitasnya bila tidak passionate. Karena olah pikirnya ditentukan olah rasanya. Standar yang sudah ditetapkan sulit diraih manakala olah rasa yang baik tidak terjadi di diri konsultan. Jadi tiap konsultan mutlak menemukan perasaan suka terhadap pekerjaannya.

Dan benang merah di antara semua aktivitas dan proses bisnis di dalamnya adalah “knowledge” . Mulai dari menghimpun berbagai data, melakukan analisis, hingga menyusun suatu laporan berisi usulan inisiatif-inisiatif yang harus dilakukan oleh klien ke depan.

Jadi ketika konsultan tidak hadir, atau tidak sedang presentasi, maka hanya dari proposal usulan proyek atau laporan hasil proyek saja sebuah konsultan dapat dinilai. Dan penyempurnaan proposal dan laporan menjadi kuncinya di sini. Rasa suka terhadap pekerjaan harus ada. Bila tiada, kedua dokumen tersebut hanya diserahkan seadanya saja kepada klien atau calon klien. Seperti profesi yang lain, tentu ada kiatnya untuk sukses.

Kuncinya adalah rajin dan tekun. Dalam membaca, menganalisis, dan menyempurnakan proposal maupun laporan. Hal ini pada dasarnya karena bisnis konsultasi bukan tipe business by product. Melainkan business of full service. Pada business by product, begitu produk diterima konsumen dan sudah dibayar, maka selesai sudah. Sementara pekerjaan konsultan tidak bisa demikian. Karena tidak ada produk riil-nya. Konsultan tidak akan survive bila tidak ada proyek lanjutan dari klien. Dan surviveability-nya konsultan sangat ditentukan oleh knowledge yang dia/mereka miliki dan terus dikembangkan.

Konsultan adalah salah satu profesi yang menuntut sikap tidak kenal lelah dalam memburu ilmu pengetahuan.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s