Heritage Brand


Dua hari lalu saya menonton The Raid 2: Berandal  di bioskop. Ini adalah sekuel dari film pertama, The Raid: Redemption. Bagi saya pribadi, sekuel ini tetap harus ditonton, meski tidak sebagus yang pertama (khususnya dalam hal koreografi bela diri). Bagaimanapun, dua jempol harus tetap kita acungkan.

Saya kira kita sebagai masyarakat Indonesia tetap perlu melestarikan berbagai kekayaan budaya nusantara. Mengapa? Karena bela diri pencak silat ala Mas Iko Uwais dan Kang Yayan Ruhian jadi unsur utama dalam film tersebut. Konten “Pencak Silat” ini menjadi differentiator “The Raid 2: Berandal” sebagai sebuah film laga. Om Sutradara Gareth Evans sukses menjadi master mind yang berhasil memukau para penonton dalam kedua film laga tersebut.

Jadi ada banyak sekali kekayaan lokal nusantara yang bisa digunakan untuk me-leverage local/national brand dari kita. Dan pencak silat dalam film The Raid (baik pertama maupun kedua) adalah salah satu dari sekian banyak di antara kekayaan lokal tersebut. Saya kira, asset berharga seperti ini dapat kita kemas lebih lanjut dalam upaya-upaya branding yang kita lakukan. Ini yang saya sebut heritage brand(ing).

Gudeg Yu Djum adalah contoh heritage brand yang lain. Jadi bagaimana tim manajemen (yang kini sudah dipegang oleh generasi keempat) mempertahankan orisinalitas dan kelokalan rasa gudeg menjadi kunci sukses eksistensi brand Gudeg Yu Djum. Apalagi di tengah-tengah serangan brand-brand internasional yang kian me-lokal dan mempopulerkan diri di pasar domestik.

Gudeg Yu Djum ini adalah gudeg kering yang sangat cocok untuk oleh-oleh–karena bisa bertahan cukup lama. Tidak hanya rasanya yang luar biasa enak, brand gudeg ini turut menjual “experience” lewat proses pembuatan gudeg yang bisa dilihat langsung. Antrian panjang ketika membeli kian memperkuat “effort” pembeli untuk “meraih” citarasanya. Hebatnya Gudeg legendaris Yu Djum juga mengangkat brand Kota Yogya menjadi lebih populer. Ibarat kata, belum ke Kota Yogya kalau belum makan Gudeg Yu Djum.

Maskapai nasional kebanggaan kita, Garuda Indonesia tidak main-main dengan konsep service terbaru mereka: Garuda Indonesia Experience. Sama, tim manajemen yang dipimpin oleh Pak Emirsyah Satar (dengan Pak Faik Fahmi sebagai master mind), sangat memahami dan meyakini bahwa ada banyak kekayaan lokal intelektual yang serta merta dapat me-leverage brand Garuda Indonesia.

Masih menurut Pak Emir, bahwa keberagaman (diversity) budaya di tanah Indonesia adalah kekayaan sekaligus ciri khas unik negeri Indonesia yang dapat “dipasarkan” ke masyarakat luar negeri. Lebih khususnya adalah penumpang Garuda Indonesia. Jadi, Indonesian Hospitality ala Garuda Indonesia itu memang bisa ditawarkan dan dijual kepada penumpang internasional dengan kekayaan budaya lokal kita sebagai service differentiator-nya.

Kemudian ada Hotel Santika, pemain di industri hospitality. The meaning of Santika are tough and peaceful. Alias “kokoh”, tetapi “damai”. Seakan kontradiktif, tapi tak terpisahkan antar keduanya. Dan bukannya meruntuhkan, malah saling menguatkan. Filosofi ini bagai Yin dan Yang.

Service differentiator-nya diterapkan dalam setiap touch point dengan pelanggan. Hotel Santika mengkombinasikan sentuhan yang bersifat natural (Natural Touch) dengan kekayaan tradisi lokal (Local Tradition) ke dalam layanan hospitality. Ditunjang pula dengan pendekatan ala keluarga (Family Values) kepada setiap tamu hotel.

Keunggulan
Strength dari heritage brand adalah kekuatan dari story-nya. Bagaimana cerita-cerita yang disampaikan kepada konsumen menjadi fondasi kekuatan brand awareness maupun brand association dari heritage brand tersebut. Sudah barang tentu bahwa Gudeg Yu Djum mengalami proses marketing by their customers ini. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Pak Irvan Permana@fun_branding” bahwa konsumen pada dasarnya senang diceritai segala hal mengenai brand. Btw, diskusi tentang brand bersama beliau, memang selalu “menyenangkan” dan “mengenyangkan”.

Dan di era social media (socmed) ini, story akan menjadi konten yang kuat untuk diteruskan dari satu socmed user ke user lainnya. Authenticity adalah syarat utamanya.

Authentic
Ada passion yang tersembunyi dari para founder heritage brand. Passion ini mengalir dalam setiap service yang diberikan kepada pelanggan. Dalam setiap touch point dengan customer, selalu ada ciri khas heritage brand yang disematkan. Passion dan ciri khas ini kemudian mengalir sebagai story dari satu konsumen ke konsumen yang lain. Rasa “authentic” kemudian menjadi simpulan konsumen manakala untuk memperoleh sang heritage, perjuangan berat harus dilakukan. Misalnya ikut mengantri panjang.

Turut Menikmati
Di tengah himpitan globalisasi serta arus-arus perubahan yang begitu kuat, ternyata masih ada celah-celah kosong di mana kita masih bisa berkontribusi dalam pengembangan Heritage Brand. Tidak perlu sedu-sedan kepada pemerintah sekarang dan para calon legislatif (caleg) yang sedang ramai-ramai berkampanye. Tidak usah rajukan-rajukan perlindungan usaha atau pendampingan bisnis yang tidak terasa nyata hasilnya.

Yang harus kita lakukan adalah, cukup dengan berbelanja dan menggunakan produk atau jasa yang ditawarkan oleh para Heritage Brand yang ada. Tentu saja, ini adalah salah satu bentuk komitmen kita dalam membela dan mempertahankan Heritage Brand kita.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s