Brand is like a donut


Brand is not a logo
Logo is not a brand
Brand is beyond logo

Kutipan di atas adalah kutipan khas dari pak Irvan Permana, pengelola blog bincangbranding. Saya mengikuti #kelaspengetahuan dari Komunitas Memberi dengan beliau sebagai pembicara.

Bicara tentang logo, tidak bisa di-judge bagus atau jelek. Begitu kata beliau. Karena tidak ada logo yang jelek. Yang ada adalah logo yang kurang benar. Di situlah letak perkaranya. Apakah para brand owner sudah benar –secara metodologi–melakukannya?

Permasalahan umum yang beliau temui adalah, banyak pemilik brand yang bingung. Bagaimana menempatkan core message-nya pada tiap elemen brand yang tersedia. Jadi brand yang hebat adalah brand yang tahu persis bagaimana memprioritaskan dan mendistribusikan segala core message yang ada.

Brand yang hebat itu seperti (Bank) BCA. Engga pake simbol yang macem-macem. Font-nya juga sederhana, dan tidak pernah berganti. Tetapi image-nya itu lho yang luar biasa: modern dan canggih. Ada juga brand yang seperti National Geographic. Kotak persegi panjang berwarna kuning yang simpel–tanpa tulisan sama sekali. Betapa sederhananya logo tersebut. Tetapi banyak orang berhasil menebak dengan benar pada pandangan pertamanya.

Membangun brand itu, suatu proses tanpa henti. Prosesnya sama persis seperti membangun hubungan. Hanya, target hubungan kita adalah konsumen kita sendiri. Ketika kita berhenti berkomunikasi dengan pelanggan kita, itu berarti kita berhenti membangun brand. Kualitas hubungan yang semakin baik adalah hubungan yang semakin dekat.

Hubungan dengan brand itu dibangun setahap demi setahap. Dan brand yang bagus, tahu persis cara deliver the right expression and get the right impression from the audience. Makanya brand owner tidak boleh membombardir customer dengan banyak mesej secara bersamaan. Karena konsumen akan bingung lalu tidak bisa memberikan respon apapun.

Bicara branding itu selalu ‘menyenangkan’, demikian kata Pak Irvan. Karena bincang tentang branding pasti selalu berhubungan dengan aspek marketing yang lain. Selain itu, bicara tentang branding jelas ‘mengenyangkan’. Karena “berisi”-nya itu, lho.

Oleh sebab itu, Pak Irvan selalu menganalogikan brand dengan donat. Sebab donat itu ‘menyenangkan’ dan ‘mengenyangkan’. Seperti buku terbaru beliau berikut ini.

brand-is-like-a-donut

Jadi, sekalipun sama-sama jualan fashion, atau sama-sama bisnis kuliner, tapi percaya deh. Brand yang dibangun dengan fondasi mimpi dan passion, tidak pernah akan terasa sama bagi konsumen. Maka bangun brand anda dengan segala imajinasi dan aksi yang passionate.

Menara BCA, 9 Maret 2014

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s