Sedekah Mindset


Di koran Kompas edisi Jumat lalu, 14 Februari 2014, pada halaman 7, Dawam Raharjo menuliskan tentang peran Dompet Dhuafa selaku  institusi sosial yang turut serta dalam pembangunan. Khususnya melalui berbagai program pendidikan dan kesehatan yang mereka jalankan. Akumulasi donasi ini berperan besar dalam pembangunan infrastruktur (sekolah, rumah sakit, puskesmas, posyandu, dsb) hingga dapat membiayai berbagai jenis biaya operasional (beasiswa, gaji karyawan Dompet Dhuafa, dsb).

Konsep sedekah sebanyak-banyaknya juga kian didengungkan oleh para pebisnis. Khususnya dari kelompok UKM (usaha kecil menengah). Kelompok pengusaha ini meyakini bahwa makin banyak memberi, akan berdampak positif pada omzet dan cash inflow perusahaan. Keyakinan ini yang mereka sebarluaskan. Baik lewat media seperti buku populer, website dan akun social media, hingga offline movement yang langsung turun menjemput dan mendistribusikan sedekah. Contoh: Sedekah Rombongan yang dipopulerkan oleh mas @Saptuari.

Sedekah yang banyak, lalu bangun network seluas-luasnya, kemudian berharap omzet turun dari langit. Laba yang diterima, dipakai untuk pengembangan usaha. Sedekah mindset-nya tidak salah, tetapi tidak bisa hanya satu cara tersebut dipakai untuk membesarkan bisnis. Karena membesarkan bisnis itu ada strateginya. Klub sepakbola saja ada strategi bisnisnya.🙂

Para pemimpin wilayah terkini, khususnya mereka yang sedang beken dan belakangan banyak disebut di media adalah para pemimpin yang men-sedekah-kan dirinya untuk masyarakat. Ambil contoh Kang Emil di Bandung, Bu Risma di Surabaya, Pak Jokowi di Solo, dan beberapa contoh lainnya. Mereka adalah pejabat kota yang ikhlas bekerja untuk kotanya dan rakyatnya. Tidak tampak unsur pencitraan (untuk personal branding), atau keinginan untuk melakukan korupsi. Mindset-nya sudah bersedekah, alias sudah “memberi”.

Di samping tokoh-tokoh politik dengan sedekah mindset, juga lahir beragam komunitas dengan sedekah mindset. Mulai dari akademi  berbagi, Komunitas Memberi, TEDx, dan lain sebagainya.

Tentang Komunitas Memberi. Ini adalah komunitasnya UKM (usaha kecil menengah), dan komunitasnya para profesional. Kelompok UKM-nya tergabung sebagai penerima manfaat, sedangkan kelompok profesionalnya mengerucut menjadi “pemberi” manfaat. Bisa tebak sendiri ya mengapa namanya “Komunitas Memberi”.🙂

Bagian tak terpisahkan dari Bisnis
Saya kira Google adalah perusahaan ber-“sedekah mindset” terbesar di dunia. Betapa tidak, hampir semua kebutuhan internet kita sudah diberikan secara gratis oleh Google. Pembayarnya sudah ada. Jadi model bisnisnya memang sangat menguntungkan kita sebagai pengguna – karena diberi secara cuma-cuma —tetapi perusahaan tersebut tetap bisa untung (profitable), bahkan tumbuh berkembang ke seluruh dunia.

Model bisnisnya seperti kita menonton saluran televisi di Indonesia. Kita tinggal menyaksikan layar kaca saja. Jadi pihak pengiklan yang membayar ke saluran televisi. Sebagian besar model bisnis Google memang seperti itu. Misal, gratis menggunakan mesin pencari. Tapi bagi yang ingin tampil di deretan atas mesin pencari (sebagai iklan), silakan membayar. Atau, gratis menggunakan Google Drive, tetapi hanya sampai kapasitas tertentu. Untuk kapasitas berlebih harus membeli.

Di negeri sendiri, ada direktur utama perusahaan negara (baca: BUMN),yang menggelorakan great spirit IHSAN di kantornya. IHSAN adalah kata dalam bahasa arab. Artinya kurang lebih “to be the best”. Beliau adalah Pak Arief Yahya, Dirut TELKOM. Sebagaimana tercantum dalam buku terbaru beliau, Great Spirit Grand Strategy: “Saat kita tidak mengharapkan semuanya, justru kita akan mendapatkan semuanya.”

Creating Shared Value
Tidak cukup hanya dengan sedekah mindset saja. Tapi kebaikan dan manfaat yang lebih besar bisa kita petik, manakala kita menyatukannya dengan bisnis. Inilah yang digagas oleh Michael Porter, seorang begawan strategi bisnis yang sudah mendunia. Menurut beliau, persoalan pada lembaga non-profit semacam LSM (lembaga swadaya masyarakat) atau konsep CSR (Corporate Social Responsibility) yang dieksekusi oleh perusahaan-perusahaan adalah  lemah pada tingkat scalability. Alias sulit untuk dibuat menjadi besar (atau sangat besar) karena terkendala kurangnya resources.

Proyek-proyek LSM sulit ditingkatkan penerima manfaatnya, karena dananya hanya berasal dari donasi dan kebaikan hati orang lain. Kegiatan-kegiatan CSR juga berat untuk dibuat dalam ukuran yang lebih besar, semata karena mengandalkan sekian persen dari laba perusahaan di tahun finansial yang lalu. Jadi ide yang paling mendasar dari Professor Michael Porter ternyata relatif sederhana –meski harus menggunakan perspektif yang tepat. Yaitu, bagaimana menyusun business model (suatu pendekatan dalam memandang apa saja yang kita lakukan dalam bisnis) yang tepat untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah sosial yang terjadi –dan tetap mendapatkan untung.

Penutup
Sedekah mindset kini menjadi suatu social proof. Artinya adalah semakin banyak orang yang melakukan, maka semakin terasa hal tersebut terasa benar/baik untuk mereka yang belum melakukan. Social proof adalah bukti dari lingkungan sosial bahwa ikut terlibat di dalam aksi-aksi sosial yang semakin mewabah, merupakan hal yang baik.

Utan Kayu, 16 Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s