Fokus Inovasi


Inovasi itu, katanya, adalah penciptaan nilai-nilai baru. Tapi inovasi tidak melulu berhasil. Ada kalanya inovasi tidak berhasil ditangkap oleh pasar. Terutama tidak berhasil ditangkap oleh target segment yang dibidik.

Untuk kasus iPod dan iPad, Apple telah melakukan inovasi. Meski dua produk tersebut adalah produk yang telah lama ada, tapi di-branding dan re-launching oleh Apple. Branding dan relaunching tersebut termasuk inovasi.

Apple ini adalah kasus menarik. Seakan semua produk yang mereka rilis pasti berhasil diserap oleh pasar. Let’s name it: Apple I, iPod, iTunes, iMac, iPhone, dan iPad. Apapun inovasi yang dihasilkan Apple, pasti akan diserap oleh pasar. Diserap habis, bahkan hingga antri dalam pemesanan dan antri sebelum toko buka. Resep sukses Apple sudah diulas di link ini.

Ada yang menyimpulkan bahwa produk Apple terlalu hebat. Apple terlalu keren dalam mengkreasikan produk. Sebenarnya adalah, Apple ini kasus langka dalam konteks inovasi. Seakan semua inovasi yang berhasil adalah semata sebab produknya sahaja.

Kita sebut saja, inovasi oleh Apple bertipe product-centric innnovation.

Padahal, hampir semua inovasi yang berhasil, semata karena pasar sudah cukup teredukasi untuk mengkonsumi produk/jasa tersebut. Apapun sebab teredukasinya pasar, sengaja atau tidak sengaja, inovasi akan berhasil.

Karena itu, untuk para marketer dan pebisnis, sarannya adalah lakukan inovasi berbasis customer/market. Ini namanya customer-centric innovation. Semua inovasi difokuskan hanya pada customer/market saja. Tapi inovasi tidak bisa dilakukan begitu saja. Tentu harus ada dasarnya.

Marketer dan pebisnis harus bermain dengan customer/market insight. Ini bisa didapat dari riset yang beneran. Entah observasi, survey, focus group, dan lain sebagainya. Insight harus menjadi dasar dari inovasi yang dilakukan. Sometimes, inovasi itu sangat mahal, sehingga harus berhati-hati dalam penggunaan resources –sumber daya– untuk melakukan inovasi tersebut.

Dan justru di sanalah keunggulan UKM. Ketika direksi perusahaan besar dihadang berbagai birokrasi internal yang rumit, maka pebisnis UKM dengan mudah terjun ke pasar, menemui customer, lalu mendapatkan insight. Perang antara UKM dengan big company ini seperti david vs goliath.

Meminjam metode mas Yoris Sebastian, gunakan 70% sumber daya untuk aktivitas bisnis yang rutin. Sumber daya ini bisa uang, waktu, atau lainnya lho. Sisa 20% untuk yang engga rutin, tapi beda dikit—istilah in English yang tepat mungkin incremental ya. Sedangkan sisa 10%-nya untuk yang sangat radikal. For Your Information, saja.

Almarhum Peter Drucker pernah bilang, bahwa usaha bisnis itu hanya terdiri dari dua hal. Yaitu marketing dan inovasi. Kalau bukan termasuk marketing, berarti itu adalah inovasi. Kecepatan delivery, peningkatan quality, penurunan cost, dan lain sebagainya adalah inovasi.

Selain fokus pada marketing, pebisnis juga harus fokus pada inovasi –setidaknya itulah pesan yang ingin disampaikan dalam artikel ini. Inovasi yang bagaimana? Yaitu inovasi yang didasarkan pada customer/market insight bahwa produk/jasa hasil inovasi tersebut akan berhasil diserap oleh pasar.

Lalu, fokus itu apa? Almarhum om Steve Jobs oernah mengatakannya dalam World Wide Developer Conference (WWDC) 1997,

Focusing is about saying no. You’ve got to say no, no, no. The result of that focus is going to be some really great products where the total is much greater than the sum of the parts.

Sayang sekali, banyak pengusaha UKM kita yang terjebak dalam ke-tidakfokus-an ini. Sambil bisnis, sambil berinvestasi macam-macam. Atau sambil mengambil berbagai kredit rumah atau mobil. Akhirnya kekurangan cash untuk usaha. Atau yang lain: sambil memiliki bisnis, sambil menjadi motivator. Akhirnya bisnisnya tidak bisa besar karena kurang perhatian.

Inovasi juga menjadi jalan diferensiasi. Sudah tahu kan? Persaingan makin ketat. Kesamaan dengan kompetitor tidak hanya di level produk, bahkan tipe bisnis. Me-too product dan me-too bisnis, terjadi di mana-mana. Sulit untuk tumbuh kalau produk atau bisnis sendiri saja masih sama dengan orang lain.

Maka usaha perlu diferensiasi, perlu inovasi. Terutama untuk UKM. Khususnya untuk memberi ruang tumbuh. Mungkin melayani customer/market yang sama, tetapi dengan inovasi, maka diferensiasi bisa hadir. Bisnis kan tidak berkutat di melayani customer saja, tetapi bagaimana keberadaannya tidak dimatikan oleh bisnis-bisnis yang lain.

One thought on “Fokus Inovasi

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s