Political Marketing and Money Politic


Status facebook seorang kawan dua hari lalu

Pemilu 9 April tinggal 64 hari lagi, tapi suasananya masih adem-ayem aja tuh. Mungkin belum kampanye kalo ya.

Saya pikir, mungkin kampanye baru benar terasa kampanye kalau sudah dekat hari-h ya.

Aktivitas pemilu itu untuk memilih pemimpin dan legislator-legislator kita di parlemen. Karena acuannya mau dibawa ke mana, mestinya konten dan konteks komunikasinya harus tentang masa depan dong ya. Dan tidak money politic.

Dua hal di atas yang saya miris ketika mengamati political marketing di negeri ini. Karena kontennya cenderung seragam. Alias kontennya mainstream. Secara umum, konsepnya sebagai berikut. Foto wajah dan badan yang besar memenuhi ruang poster/baligo. Untuk menguatkan, dipasanglah foto Ketua Umum Parpol  yang mengusung calon tersebut. Plus latar belakang yang kental dengan warna identitas dan kebanggaan parpol tersebut.

Beragam alat-alat kampanye ini, kemudian bertebaran di sana-sini menghiasi wajah-wajah kota, khususnya di titik-titik keramaian. Sedikit merusak wajah kota-kota kita, sebenarnya. Ada yang berani tampil beda, tapi hanya placement-nya saja. Isinya tetap. Yaitu mereka yang menempel poster di kaca belakang angkutan kota (angkot)😀

Kini, semua caleg beramai-ramai berkomunikasi. Persis seperti rombongan bebek sedang berbaris dan berjalan menuju satu tujuan. Semuanya berisik, tapi tidak ada suara yang berbeda. Semua menyuarakan pesan yang generik dan cenderung sama : pilihlah saya! Tidak ada diferensiasi yang kuat, dengan konteks yang jelas dengan kebutuhan pemilih.

Secara umum keadaannya seperti itu.

Yang kedua, hubungan seharusnya dibangun untuk jangka panjang. Tidak hanya untuk target sesaat. Tidak sekedar diberi diskon lantas mau membeli. Intinya tidak melulu karena uang, lha. Diskon atau cashback itu kan hanya memberi kesempatan sesaat saja bagi produk/jasa agar dibeli oleh calon konsumen.

Tapi loyalitas konsumen tidak akan ditentukan oleh diskon/cashback semata. Melainkan oleh manfaat yang diberikan. Khususnya manfaat emosional (emotional benefit). Jadi, pragmatisme memang menjepit para caleg kita. Karena kontes pemilu hanya sekali dalam 5 tahun, banyak sekali yang baru bergerilya belakangan.

Karena gerilya belakangan, maka untuk mencapai hasil instan, maka sumber daya bernama “uang” kemudian dikerahkan. Ini analoginya mirip dengan perusahaan distribusi yang dalam setahun ke depan diminta untuk menggarap pasar Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke. Karena target harus dicapai dalam waktu setahun, maka sumber daya digeber habis-habisan.

Mereka tidak “mengedukasi pasar” sejak awal. Baru pencitraan belakangan, setelah dekat momentum pemilu. Karena belakangan dan belum terbentuk engagement yang kuat, akhirnya uang digunakan. Untuk meraih hasil instan. Maka lahirlah money politic, yaitu sesuatu kesepakatan yang sangat transaksional antara “pembeli” dan “penjual” suara.

Jadi bagaimana marketing yang baik? Marketing seharusnya saling mendidik. Marketer seharusnya mengedukasi target segmennya sehingga paham akan produk/jasa yang mereka tawarkan. Tujuannya apa, tentu supaya kehidupan si konsumen lebih baik setelah menggunakan produk/jasa tersebut.

Dan sebaliknya, konsumen juga harus mengedukasi marketer, tentang produk/jasa apa yang mereka butuhkan (needs) atau inginkan (wants). Sehingga usaha bisnis dapat berinovasi lebih baik lagi.

Tidak hanya untuk produk/jasa, tetapi dalam konteks politik, prinsip-prinsip marketing yang sama juga bisa digunakan.

Dent Smile, 6 Februari 2014

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s