(Into) Faster and Personalized Change


Aplikasi Sosial Media
Makin singkat bagi media dan aplikasi social media  untuk mencapai 50 million users. Radio berhasil dalam 50 tahun, televisi 10 tahun saja, iPod hanya 5 tahun, dan Youtube bahkan dalam 6 bulan saja. Globalisasi dan keterbukaan informasi menjadi sebabnya. Informasi menjadi pancingannya. Dan medium digital menjadi katalisatornya.

Konsekuensinya adalah orang-orang menjadi lebih KEPO. Rasa ingin tahu segera melonjak gratis. High curiosity, especially on relationship. Apa-apa yang tadinya dianggap rahasia orang alias urusan orang, tiba-tiba menjadi urusan sendiri. Rasanya seperti mendekatkan yang jauh dan mempertemukan yang sudah lama hilang. Aplikasi sosial media membantuk mewujudkan hubungan-hubungan tersebut.

Bila kita membalik logika, lalu bertanya “teknologi apa yang akan berkembang pesat di masa depan?” Maka jawabannya adalah teknologi yang berpusat pada hubungan individu terhadap lingkungan sosialnya serta membantu memudahkan, memperkuat hubungan-hubungan sosial tersebut. Salah satu di antaranya adalah teknologi digital yang mendasari suatu aplikasi media sosial. 

Digital Storage
Dari disket kemudian flash disk. Dulu jumlah data yang dapat diangkut sangat sedikit. Sekitar beberapa ratus kilobyte tapi tidak sampai 3 megabyte. Sementara hardware untuk membawanya relatif besar (secara ukuran fisik). Antara 3,5 -5,25 inch. Bandingkan dengan ukuran flash disk saat ini. Bahkan dengan size yang relatif sama, kecenderungannya makin besar kapasitas data yang bisa dimuat.

Tidak lama setelah kehadiran flash disk, pasar semakin rakus akan byte yang dikonsumsi. Maka hardisk external menjadi produk baru setelah hardisk internal dan flash disk tidak lagi mencukupi. Pun demikian, para pemain tetap sanggup menyuplai pasar dengan kapasitas yang semakin besar. Menariknya, untuk mengendalikan demand, para pemain seperti sepakat untuk secara bertahap meningkatkan kapasitas penyimpanan mobile drive.

Customer dan provider dari digital storage kini beralih ke cloud. Berbagai sales promotion mewarnai penawaran penyimpanan data digital di “Awan” ini. Misalnya, rekomendasi ke teman maka mendapat bonus sekian gigabyte. Atau bundling product dengan aplikasi lain yang akan mendukung pekerjaan customer. Dan lain sebagainya.

Fast Moving Consumer Goods
Di industri ini, pergeseran brand dalam benak konsumen terasa semakin cepat. FMCG Brands menjadi sesuatu yang cepat dilupakan oleh konsumen. Arus informasi yang membludak membuat konsumen semakin memiliki banyak pilihan. Tidak hanya lewat program komunikasi lewat above the line (ATL) seperti televisi, majalah dan radio saja, melainkan berbagai bentuk event dan komunitas below the line (BTL) yang digarap oleh para pemegang brand.

Brand yang saat ini menjadi pemenang dalam kontes brand awareness,  dalam 10 tahun mendatang belum tentu masih berada di pasar. Ketatnya  persaingan dalam merebut mind-share dan market-share menjadi sebabnya. Untuk mind-share, perang berkisar seputar program-program ATL dan BTL. Untuk market-share, kompetisi tak terelakkan pada program promosi penjualan (sales promotion program) dan distribusi produk.

Tak terelakkan. Dengan keberadaan channel komunikasi pemasaran seperti ATL, BTL dan Social Media, maka membangun “brand” menjadi begitu mudah dan cepat (meski terkadang berbiaya tinggi). Tapi di tengah-tengah kemudahan dan kecepatan tersebut, customer yang dibombardir dengan berbagai pesan (yang seringkali relatif sama), kemudian seperti terjebak dalam kebingungan. Kepalsuan seakan begitu mudah diciptakan melalui media.

Sehingga, di tengah-tengah arus informasi yang begitu deras tersebut, pasar (baik berupa kegiatan ekonomi maupun aktivitas politik) semakin menuntut authenticy sebagai aset yang harus dimiliki. Konsumen lebih percaya  pada perusahaan dan produk yang handal dan punya integritas. Intinya, penyedia  yang “over promise under deliver” akan mereka singkirkan dari daftar pilihan produk. Ekspektasi demikian mudah terbangun, dan sekali terbangun, pelanggan tidak ingin kecewa.

Authentic Personal Brand
Kini, politisi yang disuka justru bukan mereka yang banyak mengumbar janji. Bukan yang mencla-mencle, melainkan yang banyak bertindak kongkrit di lapangan. Terutama mereka yang gemar blusukan. Bukan mereka  yang sekedar didorong oleh partai untuk maju dan dipilih rakyat, melainkan memang punya “sudah bakat sudah dari sananya” untuk menjadi pilihan pertama rakyat dalam bilik suara. Partai politik akan tetap menjadi kendaraan bagi calon untuk maju dalam pemilihan, tetapi tetap kapasitas pribadi yang dipentingkan oleh para pemilih.

Kasusnya terlihat jelas dalam pemilu kota bandung, di mana pak Ridwan Kamil (kang Emil) terlibat di dalamnya. Personal branding dan electability yang tinggi jadi pilihan bagi Gerindra dan PKS, dua partai pengusung kang Emil. Beliau bukan tipe pengumbar janji, tidak mencla-mencle dan lebih banyak tindakan kongkrit di lapangan. Hal ini terbukti dari berbagai program-program kreatif yang sudah direalisasikan di lapangan.

Masih terkait dengan segmen pasar yang semakin ingin dilayani secara personal, hal yang sama juga berlaku di ranah politik. Para politisi individu, khususnya yang memegang jabatan eksekutif, semakin diperhatikan oleh media dan masyarakat. Jadi pergeseran terjadi bukan ke kutub organisasi partai politik, melainkan ke individu yang diwakili oleh parpol tersebut.

Jelang Pilpres 2014, Pak Jokowi dengan personal brand-nya yang semakin kuat, sedang diekspektasikan untuk maju dalam pencalonan presiden RI. Pak Jokowi dengan brand yang lebih authentic, tidak ingin membangun harapan (expectation) palsu. Lebih baik diam dan bekerja keras mengurusi ibukota ketimbang bicara sana-sini yang malah membangun harapan palsu menjadi bumerang.

Saya kira pak Jokowi memang selangkah di depan dalam memahami market. Karena pasar pemilih politik memang ingin dipahami secara personal. Namanya personal, tidak ingin ada “dusta di antara kita“. Mereka menghendaki pemimpin negara (presiden) yang “apa adanya“. Alias authentic. Bagi mereka, hubungan bisa dengan mudah dibangun melalui media, tetapi hubungan yang tidak “touch the heart” tidak akan authentic.

One thought on “(Into) Faster and Personalized Change

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s