Paradoks Teknologi


Kita mengira, dunia berkembang menuju satu titik tertentu (saja). Pengerucutan ke satu noktah. Bahwa konvergensi adalah cara dunia berkembang. Seakan satu perkembangan atau kemajuan berarti kemunduran di sisi yang lain. Padahal tidak demikian. Bukan konvergensi yang terjadi, melainkan divergensi. Perkembangan di satu pihak akan terjadi, tapi sebenarnya bukan mematikan yang sudah ada. Hanya semakin banyak saja.

Contohnya pada perilaku komunikasi manusia. Sudah jelas teknologi telekomunikasi berkembang semakin inovatif, semakin modern. Kita kira manusianya juga semakin modern, menjauh dari komunikasi yang bersifat fisik. Pertemuan tatap muka diduga semakin berkurang, karena anak manusia akan berkomunikasi lewat paket data saja.

Ternyata tidak. Twitter membuktikannya. Setidaknya di negeri kita yang begitu guyub. Habis mention-(me)mention di twitter, sore-malamnya bertemu di Seven Eleven. Ngobrol di twitter, ngobrol lagi di Sevel. Tatap layar secara online, lalu tatap muka lewat offline. Jadi teknologi yang canggih bukan teknologi yang (sekedar) menghubungkan antar manusia, tetapi justru yang mampu menyalurkan ekspresi kemanusiaan di dalamnya.

Lihat bagaimana Whatsapp, Line, Kakao Talk, BlackBerry Messenger (BBM), dan sejenisnya begitu ramai dipergunakan. Hanya karena fitur emoticon yg begitu alami menyalurkan ekspresi anak adam. Ada guyon bahwa Line dari Jepang, BBM dari Kanada, Kakao Talk dari Korea, tetapi hanya orang Indonesia yang memiliki waktu untuk memainkan semuanya.đŸ˜€

Teknologi perbankan semakin memudahkan. Semakin menghindari kantor cabang, semakin menghindari uang tunai. Tetapi bukannya tidak peduli, ternyata semakin bertumbuh segmen yang mencari-cari nilai syariah dari aktivitas ekonomi dia. Syariah justru menemukan potensinya di sini.

Teknologi semakin mempercepat dan mempermudah. Teknologi juga memudahkan bagaimana suatu produk/jasa bisa dipelajari informasinya serta dieksekusi transaksi pembeliannya. Seharusnya manusia semakin fokus pada cost-benefit analysis kan? Tapi ternyata manusia justru kembali pada nilai-nilai dasar. Di sini, values marketing menemukan tempatnya dalam hiruk pikuk kemajuan teknologi.

Jadi dunia ini bukan punya kecenderungan tertentu, saya kira. Tetapi justru semakin beragam, bervariasi, dan saling melengkapi satu sama lain. Keberadaan teknologi tidak menunjukkan keberpihakannya pada salah satu sumbu, karena teknologi tidak memilih akan berada di pihak siapa. Di saat teknologi tersebut menunjukkan kemajuannya pada peradaban umat manusia, di saat yang sama pula manusia juga menjadi semakin manusiawi.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s