Mindset Human Capital


Artikel ini masih berhubungan dengan yang ini.

Bajak-membajak itu hal biasa di perusahaan. Bahkan dalam beberapa industri, biasanya ada perusahaan dengan kualitas karyawan di atas rata-rata industri yang biasa dibajak oleh perusahaan lain. Konteks “pembajakan karyawan” ini mirip dengan yang dilakukan Manchester City, klub sepakbola asal Inggris yang beberapa tahun terakhir rela mengucurkan dana besar dalam “pembelian” pemain.

Alasannya sederhana: hasil lebih cepat diraih dengan menggunakan tenaga berpengalaman dengan skill/kompetensi tertentu. Ini berlaku tidak hanya di olahraga sepakbola, melainkan juga di dunia bisnis. Tinggal proyeksi investasi saja yang perlu diukur, dengan mengeluarkan dana sebesar sekian …. (silakan isi dengan nama mata uang) untuk mengisi jabatan tertentu dengan seseorang yang berpengalaman maka akan kembali modal setelah sekian … (silakan isi dengan angka tertentu) tahun.

Kembali ke topik inti. Mindset human capital adalah mindset memandang manusia sebagai aset dalam organisasi yang bisa dibina dan dididik serta bisa memberikan hasil lebih baik dari waktu ke waktu. Istilah gampangnya, manusia tersebut tidak hanya “diperas” pikiran dan tenaganya saja, melainkan juga harus “ditumbuh-kembangkan” sehingga bisa lebih kontributif-produktif.

Kalau di dunia bisnis, ukurannya jelas. Adanya pembinaan untuk karyawan (melalui berbagai  pelatihan pada berbagai jenjang karir), kemudian pentingnya jenjang karir ke depan (sehingga tidak mentok di satu titik saja, bahkan bisa ke berbagai bidang baru), serta berbagai insentif atas prestasi yang diraih oleh sang karyawan. Poin terakhir ini dapat berupa bonus uang, jalan-jalan keluar negeri, kesempatan sekolah kembali, dsb.

Merawat aset manusia dalam organisasi yang ada saat ini juga bisa dilakukan dengan memberikan suasana positif di internal. Karena suasana negatif itu ibarat gulma atau hama. Masa panen bisa tertunda, atau paling buruk tanaman justru mati sebelum bisa dituai hasilnya. Analoginya kira-kira begitu.

Lihat FC Barcelona yang rela “melepas” Ronaldinho dan Samuel Eto’o demi perkembangan si anak emas Lionel Messi. Klub menilai “merawat” keduanya hanya akan memberikan lingkungan negatif pada sang messiah.  Bisa lewat ego pemain, minuman beralkohol, dsb.

Hati-hati dengan beberapa perusahaan tertentu yang tidak menerapkan mindset human capital. Kalau dipikir, masuk akal saja apa yang mereka lakukan. Logikanya dapat. Yaitu karena suplai tenaga kerja begitu besar di luar sana. Bila mereka belum mampu mempertahankan karyawan yang ada saat ini, yang begitu demanding akan gaji dan fasilitas dari perusahaan, mengapa harus menahan bahkan menuruti keinginan mereka? Lebih baik merekrut karyawan baru yang sangat membutuhkan gaji sekalipun baru sebatas upah minimum kota untuk menyambung hidup.

One thought on “Mindset Human Capital

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s