Not Aligned Yet


Ahad siang kemarin seorang teman lama menelepon saya. Hahaha. Beliau curhat tentang keadaan mahasiswa sekarang. Mungkin tidak merepresentasikan seluruh mahasiswa ya, tapi mungkin juga sebagian besar memang seperti itu. Jadi begini ceritanya.

Kata dia, mahasiswa sekarang koq begitu ya. Entah bila ini memang terjadi sejak dahulu. Jadi mereka (mahasiswa, red) memilih perguruan tinggi berdasar pelajaran apa yang mereka suka atau mereka kuasai ketika SMA dulu. Misalnya suka kimia, maka mencoba masuk Kimia Murni atau Teknik Kimia. Suka utak-atik program komputer, maka masuk jurusan komputer/informatika. Bila hobinya adalah elektronik, maka masuk jurusan teknik elektro. Ini satu pola tersendiri.

Pola lainnya adalah berdasar pekerjaan apa yang mau dilakoni nantinya.  Misal, ingin  gaji yang tinggi maka mengincar jurusan pertambangan/perminyakan. Padahal yang bersangkutan belum tentu cocok/suka/passionate dengan pelajaran di sana. Sekedar mengincar gaji semata. Konteks yang sama juga berlaku untuk mereka yang tidak peduli jurusan apa yang ditempuh semasa kuliah. Karena yang dipikirkan hanya ketika kerja nanti saja. Misalnya yang baik untuk mereka itu adalah menjadi PNS, maka cuek saja dengan kuliah, yang penting nanti daftar PNS dan harus masuk. Atau, misal mengincar gaji tinggi dan industri yang mampu memberikan gaji tinggi itu adalah perbankan, maka harus berupaya melamar dan bekerja sebagai bankir.

Bagi saya pribadi, daripada bersusah payah menjadi apoteker lantas misal sudah disumpah tetapi malah kabur ke profesi lain, lebih  baik tidak usah sekalian menjadi apoteker. Tentang hal ini, sudah saya tuliskan di sini.

Masih jarang di antara pemuda-pemudi kita yang secara serius memilih dan menekuni program studinya demi suatu karir profesional yang memang dia kehendaki. Ini yang namanya alignment. Maksudnya adalah keselarasan antara aktivitas dengan tujuan yang hendak dicapai. Jadi masih banyak yang belum align antara aktivitas saat ini dengan tujuan yang hendak dicapai. Saya berikan contoh not aligned yet” yang lain ya.

Misal seseorang ingin menurunkan berat badannya. Ingin tampil lebih sehat lha, kira-kira begitu. Kemudian dia memilih bergabung dengan suatu gym. Jadi sekitar 3-4 kali dalam sepekan dia pergi berolahraga di sana dengan durasi 2-3 jam per kedatangan. Persoalannya adalah ternyata dia masih hobi makan junk food, rutin minum soft drink, masih banyak konsumsi karbohidrat, dll. Nah, ini yang namanya pola makan masih not aligned yet dengan tujuan sehat yang ingin dicapai.

Contoh lain yang umum terjadi di sekitar kita adalah tentang keuangan rumah tangga. Ada target-target yang ingin dicapai. Semisal targetnya adalah rasio tabungan sebesar 10% dari pendapatan bulanan. Saat ini masih belum bisa menabung. Sama-sekali belum bisa karena masih boros pengeluaran di sana dan di sini. Inginnya bisa menabung, tetapi ternyata belum bisa meninggalkan kebiasaan menonton di bioskop, kebiasaan makan di mall, dll. Ingin menabung tetapi masih belum bisa meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang membuat dompet semakin tipis, padahal belum ada penghasilan tambahan. Ini juga masih  not aligned yet. Mudah-mudahan tidak ada yang tersindir sedikit ya. Hehehe😀

Hehehe.  Tiga di atas masih sebatas cuplikan semata. Masih banyak siy contoh not aligned yet yang lain. Kapan-kapan kita bahas bersama ya😀

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s