CSA Branding


Branding is about consistency
Branding itu seperti mengelola kavling tanah. Bukan di dunia riil, tetapi di pikiran orang. Jadi branding itu tentang bagaimana membuka lahan lalu mempertahankan kavling yang kita miliki di benak customer. Kavling yang sudah kita buka, bisa jadi ukurannya akan membesar atau mengecil, lho. Tergantung bagaimana kita BER-AKSI dan BE-REAKSI secara konsisten atas reaksi customer dan competitor.

Karena aksi dan reaksi branding berefek di dalam pikiran target pasar, maka konsistensi pesan jadi penting. Konsistensi antara pesan-pesan yang kita komunikasikan seiring berjalannya waktu. Konsistensi pesan akan meninggalkan image di benak konsumen, dan itu adalah yang selama ini kita sebut sebagai brand.

Branding is about standard
Di perusahaan-perusahaan berskala besar, biasanya mereka memiliki dokumen yang memuat standard penerapan logo. Tebalnya dokumen ini sekitar 40-60 halaman. Standard Operational Procedure (S.O.P.) ini baru memuat tentang penerapan logo di berbagai elemen media milik perusahaan. Semisal brosur, TV, poster, baligo, dsb. Padahal S.O.P. yang dibutuhkan tentu saja tidak hanya tentang implementasi logo kan? Masih banyak proses bisnis lain yang harus memiliki standard tertentu.

Standard jelas memegang peranan penting dalam pengelolaan merek. Standard akan menentukan tingkat keyakinan konsumen terhadap keberadaan suatu merek. Benarkah merek yang berada di hadapan konsumen saat itu, merupakan merek yang sama yang berada dalam benak mereka? Ilustrasinya sebagai  berikut:

Tersebutlah suatu brand bimbingan belajar bernama “AIUEO” di kota B. Menurut orang tua dari siswa di bimbel ini, para pengajar di bimbel tersebut tidak hanya pintar melainkan juga mampu memberi teladan yang baik bagi para siswa. Suatu waktu ditemukan iklan koran dari merek “AIUEO” dalam koran lokal di kota B. Dalam iklan tersebut, dinyatakan bahwa para pengajar bimbel “AIUEO” memiliki kualifikasi keislaman yang cukup baik. Bicara standard merek, pertanyaan yang muncul di benak konsumen adalah, “apakah bimbel AIUEO dalam koran lokal tersebut adalah bimbel yang sama dengan bimbel AIUEO yang menjadi buah bibir para orang tua di kota B?”

Dalam kasus di atas, merek jelas memberi kesan tidak hanya melalui pesan-pesan promosi. Merek juga terukur dari standard yang ditetapkan oleh para brand manager. Tetapi konsistensi pesan jelas berbeda dengan standard procedure. Konsistensi pesan akan membangun “promise” di benak konsumen, tetapi bagaimana “delivery” suatu merek akan menjadi cara bagi konsumen mengkonfirmasi “truth” dari merek tersebut. Pada akhirnya, keduanya memiliki kesamaan tujuan, yaitu membangun citra (image) merek di mata konsumen.

But, branding is (also) about awareness
Consistency dan Standard adalah dua faktor penting dalam membangun merek yang kuat. Hanya saja, dua faktor tersebut belum cukup untuk memberi manfaat maksimal pada brand. Merek yang dikenal baik oleh calon konsumen, menghadirkan potensi bertumbuhnya angka penjualan. Karena citra yang baik, akan menjadi faktor pendorong bagi konsumen dalam memutuskan terjadinya pembelian.

Jadi ini bukan hanya tentang kekuatan merek, melainkan para marketer juga harus membicarakan ‘keterkenalan’ alias ‘seberapa terkenal’ atau bisa disebut ‘awareness’ yang dimiliki suatu brand. Awareness dapat dianalogikan sebagai potensi pertumbuhan nilai penjualan.

Berusaha menjadi marketer yang seperti ‘sniper’ itu penting. Alias berfokus pada efektifitas program serta efisiensi biaya pemasaran. Tapi memperbesar potensi penjualan juga menjadi isu penting dalam meraih target-target penjualan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s