Alasan memilih prodi manajemen


Saya menuliskan judul di atas berdasar susunan kata dalam search engine yang akhirnya mampir di blog saya. Susunan kata tersebut adalah “alasan memilih prodi manajemen”. Rupanya ada juga pembaca blog yang ingin mengetahui jawabannya.

Pada 01/09/2016, saya menambahkan link artikel dengan topik yang sama –yaitu alasan memilih program manajemen bagi kamu yang bingung akan kuliah apa — pada artikel ini.

Hal ini disebabkan bahwa prodi manajemen adalah ilmu yang menggunakan pendekatan secara sosial dan saintifik. Secara umum prodi manajemen dikelompokkan ke dalam kelompok IPS, tetapi pendekatan yang digunakan banyak yang bersifat saintifik. Nah, bauran keduanya inilah yang akhirnya membuat orang bertanya-tanya.

Ilmu manajemen bukan ilmu yang sulit untuk dipelajari sebenarnya. Artinya, sedikit waktu yang diperlukan dan referensinya relatif banyak (baik yang ditulis dengan pendekatan ilmiah maupun populer). Sehingga bisa kita pelajari di kala senggang dan dari buku-buku dengan predikat “terlaris” di toko-toko buku.

Hal ini disebabkan ilmu manajemen bukan ilmu yang tidak kita terapkan dalam hidup. Ilmu manajeman adalah ilmu pengelolaan. Manajemen pemasaran berarti bagaimana mengelola customer beserta dengan saluran-saluran distribusinya. Manajemen keuangan berarti bagaimana mengelola keuangan sehingga berhasil meraih tujuan-tujuan keuangan yang telah ditetapkan, dan masih banyak contoh manajemen yang lainnya.

Dua contoh di atas, adalah contoh yang “berat” tentang manajemen. Padahal ada banyak hal sederhana yang bisa kita kelola dan maksimalkan dengan logika-logika manajemen. Misal, semua orang diberi waktu yang sama sebanyak 24 jam sehari. Tetapi mengapa ada yang berhasil dan gagal? Berarti ada kelemahan dalam pengelolaan (baca: manajemen) waktu tersebut. Padahal waktu adalah sumber daya (resources) yang bisa kita dayagunakan untuk meraih tujuan-tujuan hidup.

Jadi, ada banyak latihan “langsung” yang bisa memperkuat kemampuan manajemen kita. Khususnya secara taktis tanpa harus kuliah di prodi manajemen.

Tapi manajemen adalah ilmu terapan yang (sebenarnya) membutuhkan kemampuan saintifik yang tinggi. Karena ada banyak analisis atau perhitungan yang secara mendasar diperlukan dalam perumusan bagaimana suatu manajemen harus dilakukan. Oleh karena itu alangkah baiknya bila didahului oleh basic IPA yang kuat–bukan berarti basic IPS pasti gagal. Tentang hal ini, pernah ada penelitian yang membandingkan pengaruh basis IPA atau IPS terhadap tingkat karir yang diraih.

Selanjutnya, adalah tambahan tulisan dari saya pada 01/09/2016.

Terkait pendidikan magister manajemen, mengapa ada yang bergelar MBA, MM, dan MSc? Apa yang membedakan satu sama lain?

  • Program MBA biasanya lebih case study, jadi lebih ke how do you think about this problem — or is it really problem to be solved? What is your analysis? What will you do, and how do you speak to related stakeholders in solving this problem?
  • Program MM? Ya sama aja dengan MBA. Hanya faktor gengsi, ada kampus yang memberikan gelar MM, ada juga yang MBA/MAB (Master Administrasi Bisnis).
  • Sedangkan, MSc? Ya berarti, Master di bidang sains (manajemen). Sejak kuliah, mahasiswanya sudah harus membaca banyak buku-buku tebal untuk kemudian menuangkannya ke dalam gagasan deskriptif tapi ilmiah, yang biasa disebut paper.
  • Semua penelitian tugas akhirnya sama-sama disebut sebagai thesis. Tentu bobot dan kualitas pengerjaannya lebih keren thesisnya MSc. Meski sama-sama memakai metodologi, namun basis data MSc lebih panjang range waktunya, dengan referensi buku dan jurnal yang lebih lengkap.

Topik lain. Kamu tahu kenapa ada kata Administrasi di dalam frase Master Administrasi Bisnis?

Pertanyaan tersebut bisa dijawab dengan pertanyaan balik, “apakah lulus dari MBA bisa me-running sebuah usaha dan pasti berhasil? Kan sudah belajar dan paham tentang empat kelompok ilmu di manajemen:  keuangan, operasional, marketing, dan SDM?”

Kenyataannya tidak. Memulai dan menjalankan usaha butuh mental enterpreneur. Mental “yang penting jalan dulu”, atau “yang penting ada omzetnya dulu”. Atau karakter “problem ini harus diselesaikan secepatnya”, dst.

Sebagai penunjang, ada baiknya kamu tahu bahwa bekerja setelah lulus, belum tentu jadi bekal kamu untuk menjadi entrepreneur.

Namun demikian, perusahaan/unit usaha yang mulai menunjukkan grafik pertumbuhan, tidak bisa tumbuh secara boros. Maksudnya tidak dengan menghambur-hamburkan dana, merekrut sembarang (lalu memecat dengan paksa), dan seterusnya. Alias harus tumbuh seiring dengan melakukan berbagai program/kebijakan/inisiatif yang sifatnya menciptakan penghematan.

Kalau mau ambil kampus magister manajemen terbaik, kampus mana yang disarankan?

Mungkin kamu bisa baca link ini saja ya.

Tapi, balik lagi deh ke why-nya. Apa betul kita perlu kuliah MM?

Bisa iya, bisa enggak. Tulisan ini akan membantu kamu mengarahkan, apakah akan iya atau akan tidak.

Note: Tulisan ini adalah prequel dari tulisan ini.

One thought on “Alasan memilih prodi manajemen

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s