Sekilas Syariah


Ekonomi syariah hingga kini masih dianggap sebagai sesuatu yang “abu-abu”. Hitam jelas tidak, tapi dengungan yang terdengar di telinga menyiratkan pesan jelas “tidak sepenuhnya putih”. People do the word of mouth, itu jelas. Mungkin mereka hanya meneruskan apa yang pernah mereka dengar,  itu tidak perlu diperdebatkan. Persoalannya seberapa benar dengungan bila kita kaji kebenaran syariah-nya? Di era overloaded information seperti sekarang ini, bisa jadi dengungan itu hanya diucapkan oleh mereka yang belum mengkaji apa itu syariah secara mendalam.

Masih dua alasan klasik yang melatar-belakangi sekaligus menjadi potensi keberadaan ekonomi syariah di negeri kita. Pertama adalah jumlah pemeluk Islam yang digadang-gadang sebagai potensi besar pengguna produk ekonomi syariah. Kedua adalah keyakinan para regulator bahwa krisis ekonomi bukan lagi sesuatu yang belum pasti terjadi. Krisis ekonomi adalah keniscayaan. Pertanyaannya sekarang adalah “kapan akan terjadi?”. Sulit untuk menjawabnya, karena ini terletak pada bagaimana kita melakukan kegiatan ekonomi. Syariah diyakini menjadi “pemecah gelombang” krisis ekonomi karena sudah dibuktikan seiring waktu – minimal dalam satu dekade terakhir.

Qualitative data collection yang saya dan tim lakukan beberapa waktu lalu, menyisakan satu pesan jelas bahwa ekonomi syariah belum sampai pada noktah “potential mass“-nya. Angle-nya bisa bermacam-macam. Mulai dari kesan “anak bawang”-nya konvensional, hingga komunikasi dan edukasi pemasaran yang belum  efektif – efisien. Bagi regulator dan pemain, ini tentu bukan persoalan sederhana. Seperti diungkapkan salah seorang responden kami,

“kita masih belum ngerti, apa bedanya dengan yang konvensional”

Kalimat ini adalah kalimat sederhana yang keluar dari mulut seorang awam. Jelas dikategorikan awam karena dia tidak menggunakan dan tidak ada koleganya yang kiranya bisa meng-influence dirinya. Masih banyak lho nasabah bank syariah yang memiliki rekening bank konvensional. Dan sebagian besar di antaranya ternyata masih menggunakan bank konvensional sebagai bank utama untuk aktivitas transaksi. Cuplikan ini adalah contoh betapa syariah jauh dari ‘dikenal dan digunakan’.

Cuplikan ini kemudian dijelmakan menjadi satu-satunya “kambing hitam” bahwa para pelaku, terutama para pemain besar, dinilai kurang mengedukasi pasar.

Komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh para pemain besar di industri ini masih perlu dimasifkan. Lihat saja Return on Marketing Investment-nya. Ketepatan target audiens seharusnya menjadi garis start diskusi tentang edukasi pemasaran yang dilakukan berikutnya. Jangan lupa, “lure engagement” adalah metode yang harus digunakan di tengah-tengah pusaran digital-konvensional media, dan one-two way communication.

Yang tidak boleh dilupakan adalah peran teknologi dalam operasional ekonomi syariah. Karena bagaimana pun, ekonomi syariah adalah kegiatan ekonomi yang nyata-nyata membutuhkan penerapan teknologi demi kemudahan dan kecepatannya. Siapa lagi yang akan kerepotan karena harus ke ATM untuk transfer, sementara internet di depan mata? Persoalannya, jaringan internet banking adalah infrastruktur perbankan yang belum dimiliki oleh semua bank. Hati-hati, infrastruktur teknologi adalah isu yang paling menyita perhatian nasabah.

Lagi-lagi, pelaku dan regulator ekonomi syariah harus kembali kepada khittah-nya. Kembali kepada para economic user and player. Karena relevansi keberadaan ekonomi syariah harus tetap menyesuaikan dengan minat pasar. Maka dari itu, pertanyaan sederhana harus terus diajukan kembali. Diulang dan diulang, mengingat konsumen selalu berubah. Sebelum secara cepat melakukan revolusi pada proses internal perusahaan. Pertanyaan tersebut adalah:

Siapa (saja) dan apa (saja) yang sebenarnya men-drive perilaku penggunaan produk dan jasa ekonomi syariah?

Silakan dinikmati prequel tulisan ini, di “value(s) marketing

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s