Giving a Name


Sejak kita memberi nama pada ‘sesuatu’, maka sejak itu pula ‘dia’ lahir sebagai brand. Minimal, dia sudah punya identitas pembuat perbedaan.

Lihat saja, bagaimana para orang tua berjuang keras memberi nama untuk anaknya. Beberapa bahkan mengerucut ke satu nama bahkan sebelum sang bayi lahir ke dunia. Asal usul sebuah nama lantas ditelusuri, tidak lupa ‘meaning’-nya. Agar sang bayi suatu hari menjadi rahmat bagi dunia, sesuai nama yang diberikan.

Saya baru saja menemukan nama fajria (lagi). Nama ini mengingatkan saya pada seorang ibu yang sangat baik hatinya. Tergelitik, lantas saya menggali ‘meaning’ dari nama tersebut. Ternyata ‘pagi hari’ adalah ‘meaning’-nya. Di kemudian hari, saya baru menyadari bahwa ibu tersebut ternyata menyatukan namanya dengan nama suaminya, untuk menjadi nama tengah buah hati mereka seorang.

Begitu pula dengan brand. Jangan sembarang memberi nama. Jangan asal indah didengar. Perhatikan ‘meaning’-nya. Jangan asal asosiasi. Bahkan tidak berasosiasi seringkali lebih baik daripada ada. Lebih baik menunda pemberian nama daripada harus mengubahnya suatu hari nanti.

Ada mimpi dan doa yang dititipkan dalam sebuah nama. Betapa dalam passion yang tertinggal melalui sebuah nama. Luasnya angan tersisa lewat sebuah nama.

Hanya standar tinggi yang tertinggal dari sebuah ‘Bank Central Asia’. Hanya kebesaran angan yang masih tersangkut dari nama tersebut. Hingga saat ini, memang masih bukan ‘Central Asia’, koq. Tapi ada mimpi yang tertinggal untuk mencapai kemasyhuran nama tersebut. Meski bukan bank dengan aset terbesar tapi dari namanya saja, orang-orang masih menyadari  betapa ‘besar’-nya nama tersebut.

Dalam arti sempit, muamalat itu adalah semua transaksi atau perjanjian yang dilakukan oleh manusia dalam arti tukar-menukar manfaat. Bank Muamalat Indonesia menyadari sekali arti kata ini, dan ingin berperan besar di dalam pertukaran manfaat tersebut. Oleh sebab itu mereka memiliki nama ‘muamalat’.

Ketika ingin terjun ke industri perbankan syariah yang kue pasarnya semakin besar waktu itu, Bank Mandiri menyadari sekali kekuatan kata ‘Mandiri’ yang dimiliki. Tinggal diberi cap ‘syariah’ jadilah  dengan standar setinggi Bank Mandiri dalam versi Syariah. Beberapa orang mengenal bank ini sebagai ‘Bank Mandiri warna Hijau’.

Well, giving a good name is a good step to start your own brand.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s