Jarang baca buku


Kesibukan di tempat bekerja kini bikin kurang baca, euy. Ya bukannya kurang membaca, tapi ya bahan bacaan dari kantor sudah cukup banyak hingga saya sendiri jadi kurang membaca yang lain-lain. Padahal bukan dompet aja yang diisi dengan gaji dari kantor, tapi juga informasi-informasi bermutu yang sehat untuk pikiran kita. 

Saya kira, cara tercepat dan termurah untuk belajar adalah dengan membaca (buku). Ini saya rekomendasikan ke semua pengunjung blog ini. Hehe😀 Membaca blog ini pun tidak membuat anda pintar kan? Tidak ditulis dengan serius dengan analis mendalam (eh benar ga ya?😀 ). Oleh karena itu, buku (yang bagus) adalah kumpulan tulisan dengan analisis yang mendalam.

Makanya, belakangan ini saya lebih memilih belanja buku di toko-toko buku berbahasa inggris. Daripada toko-toko buku lokal kita yang menjual berbahasa Indonesia. Buku-buku kita kadang hanya memberi judul yang bombastis, dengan isi yang sangat bisa kita temukan di internet – alias tidak ditulis dengan analisis yang mendalam.

Harga di toko buku asing memang mahal, tapi worth it koq dengan isinya. Bukan asal comot sana comot sini saja, tetapi buah pikiran sang penulis memang ada di sana. Buah pikiran dengan perspektif yang jelas tidak sama dengan kita dan sering kali kita tidak mampu  memandang dari kacamata yang seperti itu. Bisa karena tidak mampu, atau bisa karena kita tidak cukup kreatif untuk memutar sudut pandang kita. 

Seringkali, saya menemukan bahwa saya tidak perlu membeli buku untuk mengetahui informasi rinci di dalamnya. Cukup saya nongkrong di toko buku tersebut, sekedar membolak-balik  beberapa halaman (terutama daftar isi) untuk kemudian saya tahu bahwa saya bisa mendapat informasi sejenis dari sumber lain (terutama internet). 

Bahkan versi terjemahan pun masih lebih buruk ketimbang membaca versi aslinya. Ruh dari penulisnya tidak terasa sampai ke saya. Seakan sang penulis tidak sedang bersama saya ketika buku tersebut diterjemahkan –dan memang begitu kenyataannya. Kesulitannya memang tidak setiap kosakata bisa kita mengerti, tapi selama keseluruhan ide bisa kita tangkap, maka tidak tahu terjemahan kata-per-kata jadi tidak masalah bagi saya.

Membaca buku itu sangat penting untuk  kedalaman analisis. Kalau mau jago analisis,  bacalah buku. Jangan artikel saja. Apalagi artikel online yang seringkali diberi judul berita yang tidak mencerminkan isi artikelnya. Hanya sekedar mengejar traffic yang tinggi  untuk website mereka. Artikel 1 halaman jelas kurang untuk membantu kedalaman berpikir kita. 

Ini juga yang menjadi kekhawatiran saya akan generasi masa mendatang. Semua informasi begitu mudah diperoleh. Mereka tinggal ketik-ketik saja di papan tombol komputer, terutama di google search engine, dan begitu gampang jawaban ditemukan. Tetapi habit yang seperti ini -menurut hipotesis saya- akan berujung pada analisis yang dangkal dalam pemecahan masalah dan pembuatan keputusan. 

One thought on “Jarang baca buku

  1. saya malah lebih hobi baca blog ketimbang buku, karna bahasa-nya yang ringan jadi mudah dipahami, dan sampai sekarang pun saya malah kesusahan buat nentuin buku yang enak dibaca kecuali buku-buku yang direkomendasi bagus untuk dibaca. (radar otak saya yang tidak panjang :D)
    apalagi tentang buku terjemahan,tambah sulit saya pahami. kalimatnya nggak taste banget kecuali buku-bukunya DAN BROWN.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s