Obat Anti Galau


Ya segitu doang, udah galau

Iya juga sih. Saya dan kawan-kawan kampus baru saja naik gunung Papandayan. Berat memang, padahal belum camping di puncak sana. Belum membawa carrier puluhan liter berisi tenda, pakaian, alat masak, dan makanan. Cuma 2600-an meter dari permukaan laut (dpl) dan masih terasa berat, meski tanpa carrier membebani punggung dan pundak. Tapi ya baru segini, masa mau mengeluh capek dan takut mencapai puncak. Padahal ketinggian segini belum ada apa-apanya dibandingkan si atap dunia–yaitu dataran tinggi Tibet–yang rata-rata berada 4500 meter di atas permukaan laut. 

belum apa-apa udah ngeluh

Butiran debu. Frase di sebelah ini jadi andalan ke-galau-an pemuda masa kini. Belum apa-apa sudah mencampakkan dirinya hanya sebatas “butiran debu”. Ya memang benar sih. Cuma butiran debu. Apalagi berada di pegunungan yang risiko kematiannya begitu tinggi. Di mana wafatnya seseorang bisa disebabkan apa saja. Mulai dari longsor, keracunan gas belerang, tersesat di hutan rimba, hingga tersambar petir di tengah hujan deras yang mengguyur. Kita memang cuma butiran debu, tapi ya jangan disia-siakan juga hidup ini dengan kegalauan masa muda. Masa dapat nilai jelek aja sudah galau, terus tertunda bentar urusan nikah sudah galau lagi😀

Image

 

Galau berikutnya berakar dari kebosanan akan rutinitas. Iya lah jadi galau. Hidupnya ya begitu-begitu aja, koq. Engga ada aktifitas yang beda “dikit” dan “challenging”. Pikiran mahasiswa galau nilai, bahwa kuliah ya sebatas datang ke ruang kelas lalu ujian di akhir semester. Kalau dapat nilai jelek, langsung galau😀 Nah, makanya naik gunung, dong.  Biar “challenging” dikiiittt aja. Belum sampai puncak ya gapapa. Masih bisa berusaha di lain waktu.

Beberapa galau-ers menjadikan makanan dan minuman di kafe sebagai pelarian. Makan enak, minum nikmat, sambil nongkrong menghabiskan waktu. Sembari menghabiskan sebatang, dua batang, tiga batang rokok–bagi yang merokok. Pelarian yang mudah, ya. Begitu galau, tinggal cari kafe. Pesan makan, lalu nongkrong sampai galau hilang. Sebegitu mudahnya galau diusir, ya sebegitu pula galau akan datang lagi.

Cari obat galau itu yang sulit dijadwalkan. Makin berat khasiat anti galau-nya, makin lama galau datang kembali. Lebih baik, bila beramai-ramai bersama-sama kawan. Sendirian bisa menangis darah di tengah alam. Sekalian, cari yang tantangannya berat dengan medan yang menantang. Bahaya tidak apa, yang penting jangan sampai galau menghadang. Apalagi membuat bimbang dan bengong pikiran. Karena kalau sudah hilang kesadaran, nyawa bisa berada di ujung tanduk. Tuh kan, lebih baik cari tantangan baru daripada menggalau sendirian🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s