womenpreneur


Retno mengawali pagi hari dengan membantu suaminya bersiap sebelum berangkat kantor.  Mulai dari pakaian, sarapan hingga sepatu. Tidak lupa cium tangan dan doa dari sang istri  mengantar keberangkatan sang suami menuju kantor. Setelah itu Retno bersih-bersih rumah serta memandikan putranya yang masih bayi sembari menunggu kedatangan dua karyawatinya.

Retno tinggal di suatu apartemen di pusat kota Jakarta. Apartemen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal dirinya dan keluarga kecilnya saja. Melainkan apartemen tersebut juga menjadi kantor dari bisnis online yang dia kelola. Bisnis kecil-kecilan yang menjadi tambahan pendapatan untuk dirinya dan suami. Pendapatan yang cukup untuk menabung aset berupa tanah di kampung.

Setiap hari kerja, dua karyawati datang untuk membantu pekerjaan Retno. Tugas mereka adalah ikut mengoperasikan bisnis busana muslimah yang dia kelola, serta ikut merawat si kecil yang masih berusia 15 bulan. Beragam pekerjaan dilakukan mulai dari menerima order, mengambil dan mengemas produk yang dipesan, hingga pada sore hari mengantar ke jasa kurir yang berada di lantai satu kompleks apartemen.

Pada akhir pekan, Retno masih bekerja. Yang paling sering dilakukan di weekend adalah mencari dan memotret produk baru, yang kemudian akan dipajang di website bisnisnya. Pekerjaan pada akhir pekan memang tidak sebanyak hari kerja biasa. Terbukti  Retno beserta suami dan anaknya, masih sempat jalan-jalan ke mall serta makan di luar. Baginya, keluarga masih tetap yang paling utama.

========================================================================

Womenpreneur is growing. Istilah dan para pelakunya sedang dibahas dimana-mana. Topik yang dibahas oleh media meliputi strategi-strategi yang dilakukan dalam berbisnis. Baik pengelolaan SDM, cara memanfaatkan media sosial untuk  pemasaran, memanfaatkan kredit secara efektif, dan lain sebagainya. Hingga bagaimana para entrepreneur tersebut berhasil pindah kuadran secara sempurna.

Pelaku womenpreneur bukan berjuang keras membiayai hidup. Sebagian besar di antara mereka bahkan hidup  berkecukupan, mengingat masih ada suami yang bekerja. Kebutuhan dasar seperti fisiologis ( makan, pakaian, tempat tinggal) atau safety needs (keamanan, keselamatan) sudah tercukupi oleh suami  bekerja. Ini bukan melulu tentang pendapatan, tapi lebih ke aktualisasi diri.

Beberapa di antara mereka kesal dengan pekerjaan kantor yang membelenggu waktu dan menjauhkan keluarga. Begitu juga gaji yang tak sebanding dengan waktu dan ongkos yang dihabiskan untuk transport, sepatu dan pakaian kantor. Serta opportunity cost yang begitu mahal untuk kasih sayang kepada anak-suami dan time freedom yang hilang. Rasa mereka, terlalu mahal yang dikorbankan sementara yang didapat hanya sedikit.

Meski dengan faktor pendukung yang begitu banyak, tapi tantangan memang menghadang sedari awal. Perempuan adalah kategori yang lebih sabar dalam menjual serta mampu membangun hubungan yang lebih dekat dengan konsumen. Tapi bisnis tidak hanya tentang dua hal tersebut. Bisnis juga tentang negosiasi lokasi, hitung-hitungan lebih murah beli atau sewa, ketegasan dalam berhukum, dan sebagainya.

Bagaimana pun, womenpreneur kita yang berasal dari kalangan kelas menengah, bukan hanya berhasil menaikkan pendapatan pribadinya saja. Selain belanjanya juga naik, mereka juga membantu karyawan/karyawati mereka menaikkan pendapatan. Ya, belanja yang lebih banyak berarti menaikkan pendapatan orang lain hingga orang lain juga berbelanja kepada kita dan menaikkan pendapatan kita.

Thanks to all Womenpreneur

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s