tiga kawan, tiga cerita, tiga paragraf


Beberapa pekan yang lalu, rekan saya yang notebene sehari-hari mendampingi dosen melakukan pekerjaannya–mengajar, riset, konsultasi, dsb– merasa iri dengan yang dilakukan oleh teman-temannya. Lulus dari kampus teknik yang sama, dari jurusan yang sama dan teman-teman rekan saya ini  memilih  untuk melanglang buana ke berbagai lokasi migas atau pertambangan. Gajinya oke lho, jangan salah. Dan tabungannya banyak. Jadi teman saya yang satu ini singkat cerita, iri dengan apa yang dilakukan oleh teman-temannya. Dan rasa iri ini, sengaja atau tidak, curcol atau tidak, akhirnya tertuang dalam status facebook. Yang menarik adalah, justru satu di antara rekan-rekan yang dimaksud, ternyata juga merasa iri dengan apa yang dilakukan oleh teman saya. Alasannya sederhana: masih tinggal di  kota yang relatif ramai, meskipun gaji relatif lebih  kecil tapi bukan kurang sama sekali, dan tentu karena masih bisa bergaul sana-sini.

Kawan saya yang lain, berbeda dengan kebanyakan teman-teman kuliah, malah ingin jadi ibu rumah tangga saja. Dia cukup sibuk dengan itu dan bangga dengan pekerjaan itu. Sibuknya oke punya deh. Mulai dari bangun tidur hingga akan tidur lagi.  Padahal urusannya tidak jauh dari dua hal: bayi dan suami. Dunianya kecil sekali, hanya seukuran tiga anggota keluarga. Satu pria dewasa tidak rumit lha mengurusnya, kata dia begitu. Cukup urus makanan dan pakaian. Sisanya, karena sudah dewasa, bisa dia urus sendiri. Yang repot adalah si kecil. Sibuknya ampun-ampunan. Belum termasuk kerewelan malam hari, sampai dengan terbangun tengah malam. Sampingannya adalah bisnis online. Dia sebut sampingan, karena untuk  mengisi waktu saja di sela-sela mengurus keluarganya. Kawan saya ini sarjana, tapi tetap bangga dan bahagia dengan pekerjaannya. Baginya,  kuliah adalah untuk  belajar, bukan investasi yang harus dikembalikan dengan cara bekerja di luar rumah.

Seorang lagi, tidak repot dengan pekerjaannya di kantor konsultan. Hobinya jelas,  membaca, menganalisis dan menulis. Sesekali boleh berbicara di depan orang banyak. Dia sebut itu dengan ‘mengajar’. Dia merasa, terlalu banyak yang dia tahu bila tidak diberitahukan kepada orang lain. Selain itu, hanya karena dia lebih dulu tahu dibanding orang lain, maka dia ingin memberitahukan kepada orang banyak. Tentu dia punya deadline. Ada juga tugas tim dan tugas individual. Sebagian besar pekerjaannya, selain urusan tawar-menawarkan proyek konsultan dan training, adalah membaca dan menulis. Dia mengerjakan hobinya: membaca, menganalisis dan menulis. Kawan ini fokus pada hobinya dan pekerjaannya–dua hal yang sama persis. Kawan saya ini menyewa kamar kost di tempat yang tidak jauh dari kantornya. Cukup jalan kaki sejauh 3 menit. Dia tidak repot soal pakaian, sekali sepekan dia mencuci di laundry. Semata untuk  memberikan waktu lebih  untuk hobinya.

2 thoughts on “tiga kawan, tiga cerita, tiga paragraf

  1. sangat menarik mas,
    standar kebahagiaan dan valuable dalam hidup ternyata setiap orang bisa berbeda-beda, intinya mungkin setiap orang bisa memiliki “path” yang berbeda
    dan kebahagiaan yang dicari ada didalam diri kita sendiri,
    agak rumit jika kita sering membandingkan diri dengan orang lain🙂

    Suka

  2. Eeeh si kang ikhwan nulis ko nanggung. Jd ksimpulannya apa? Monik jg prnh nulis “bertema” sama ky gini. Intinya mah.. rumput tetangg lbh hijau.. mo posisi kita seenak apapun tetep aja kliatannya pny org lain lbh enak :p *cmiiw*

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s