Connected Generation


Era Digital

Generasi ini lahir atau dibesarkan di era digital. Era dimana hampir semua bit sudah menggantikan atom. Generasi yang lahir ke dunia, ketika personal computer (PC) desktop ada di tiap rumah, minimal rumah-rumah para kelas menengah. Generasi yang sedari kecil sudah bermain dengan laptop orang tuanya. Termasuk generasi yang tidak mengenal papan ketik lagi, karena bagi mereka semua serba touch screen.

Mereka tahu Pos Indonesia bisa mengirimkan surat, tapi  mereka lebih memilih e-mail. Mereka tahu dulu musik disimpan dalam kepingan CD (compact disc) atau kaset  musik, tapi yang mereka mainkan dalam portable music player mereka saat ini adalah musik digital. Lebih baik mendengar musik digital via iPod atau ponsel sendiri. Bahkan jangan-jangan generasi ini belum tahu apa itu walkman atau BoomBox. Bagi mereka, semua yang bisa digital ya di-digital-kan saja. Karena digital itu lebih baik. Karena itu generasi ini malas datang ke kampus. Hadir ke ruang kelas sebatas memenuhi kewajiban minimal kehadiran di kelas dari rektorat. Yang wajib dilakukan itu, bagi mereka adalah meminta file presentasi/file kuliah.

Sudah serba digital, serba computerized, kini ada yang namanya internet dan social  media. Jejaring sosial memang sudah ada sejak dulu. Hanya belum digital saja. Masih  berupa arisan-arisan keluarga.  Pertemuan antar Kepala Keluarga (KK) dalam satu RT/RW. Sayangnya, connected generation tidak merasakan hal itu.  Yang mereka tahu dan pahami adalah jejaring sosial via internet. Alias facebook, twitter, instagram, path, wordpress, dan sejenisnya. Sudah digital, jejaring sosial pula. Maka makin terkoneksi generasi termuda kita ini. Makin terhubung antara yang satu dengan yang lainnya.

Tidak malu bertanya

Ini adalah akibat begitu terbiasanya generasi  ini mencari sesuatu melalui Google. Di dunia offline, mereka jadi tidak malu bertanya kepada siapapun. Bila orang yang lebih tahu berusia lebih muda sekalipun, masih tidak sungkan untuk bertanya. Beberapa yang lain mungkin masih gengsi untuk bertanya ke yang lebih muda. Tapi ini hanya sebagian saja. Lalu, generasi ini juga tidak malu untuk bertanya kepada atasan, tentang bagaimana suatu pekerjaan dapat dilakukan.

Dahulu, bertanya bisa dianggap manifestasi kebodohan, tidak aktif mencari tahu, tidak pro aktif melakukan pendekatan, dan berbagai penilaian negatif lainnya. Termasuk tidak disiplin. Bisa dicap pemalas ketika bertanya dahulu sebelum bekerja. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang sungkan untuk bertanya, terutama bertanya kepada atasan. Khawatir mendapat penilaian negatif, lalu disebar ke semua orang di kantor.

Karena semua hal  bisa ditanyakan,  terkadang connected generation jadi malas berpikir dan menganalisis. Terbiasa menggunakan google, maka hasil-hasil analisis pun dicari di internet.  Padahal belum tentu ada.  Karena Internet hanya membantu menemukan jawaban. Jadi dari pertanyaan, atau keyword langsung ke jawaban. Tapi mungkin tidak dengan analisis. Internet user seperti kita lah yang seharusnya mengetahui jawabannya. Yang kalau ada di internet, ada dalam forum-forum online.

Kerja keroyokan sambil mengobrol

Urusan pekerjaan, generasi ini biasanya tidak mau  mengerjakan sendiri. Kalau bisa dikerjakan bersama-sama,  ya bersama-sama.  Tidak  apa-apa bila beban pekerjaan bertambah,  karena akan dikerjakan bersama-sama.  Tinggal  bagi tugas saja, dan saling evaluasi, lalu  saling memberi masukan. Pekerjaan tipe proyek  memang cocok untuk mereka. Karena sejak awal  penggarapan proyek, yaitu mulai dari brainstorming sudah bisa dikerjakan bersama-sama. Lalu tahap eksekusi, lalu tahap evaluasi.

Suka mengobrol. Apa saja diobrolkan. Karena terbiasa ngobrol di online. Commenting, replying, retweeting. Suka minta feedback  atau butuh feedback. Tidak ada feedback berarti tidak nyaman. Karena prinsip  mereka, tidak ada feedback berarti tidak ada perbaikan, atau mungkin juga faktor suka atau tidak suka kepada personal. Sambil kerja pun, sambil mengobrol. Maka dari itu di beberapa kantor, justru facebook dan twitter –pada kantor yang tidak dilarang–malah meningkatkan kinerja.

Ketika connected generation bekerja

Tapi achievement tetap per individu. Kerja bersama memang menyenangkan, tapi kepuasan pribadi datang dari pencapaian kerja. Justru generasi digital yang dimampukan oleh komputer ini, tidak cepat puas. Rasa percaya diri mereka tinggi. Salah satunya diakibatkan dari suntikan semangat orang tua. Lalu mereka haus tantangan.  Tidak masalah pindah demi pekerjaan yang lebih menantang dan gaji yang lebih oke. Salah satu hal yang bisa menahan mereka dalam pekerjaan saat ini adalah, bagaimana melibatkan mereka dalam pekerjaan serta membuat mereka merasa memiliki terhadap pekerjaan dan perusahaan yang memberikan pekerjaan. Karena mereka bisa melakukan apa saja dengan digital. Bahkan keluar dari pekerjaan sekarang pun bisa lalu berjualan online juga bisa.

Dulu sebagian besar karyawan mencari kepastian pendapatan tetap yang diperoleh tiap bulan. Bahkan bagi beberapa kawan saya, ini adalah syarat dari calon mertua sebelum meminang anak gadis mereka. Pendapatan yang pasti serta jaminan pensiun, biasanya. Baik dana pensiun yang dikelola langsung oleh perusahaan, maupun  menabung di perusahaan dana pensiun.

Tapi kini, jaminan pensiun tidak menggoda lagi. Bicara tentang pensiun dengan generasi digital? Terlalu jauh masanya untuk mereka. Rata-rata generasi digital memang masih berusia 20-30 tahun, saat ini. Teknologi digital memang memudahkan, terutama untuk  mereka, sehingga mereka bisa mencapai dalam sekejap sesuatu yang mungkin diraih bertahun-tahun oleh generasi sebelumnya.

Offline connection di mal

Mal adalah gaya hidup urban dalam 20  tahun terakhir. Sebelumnya, tidak ada pusat perbelanjaan yang beraneka ragam (kuliner, fesyen, mainan, toko buku, dsb) dengan kenyamanan tingkat tinggi.  Saat  itu mungkin pusat-pusat perbelanjaan benar-benar hanya menjadi pusat perbelanjaan saja. Tidak aktivitas selain jual-beli. Berbeda dengan sekarang. Mal adalah killer app untuk segala kegiatan.  Berjualan iya, membeli  iya, window shopping (saja), sampai  berkumpul dengan keluarga atau teman sekolah.

Connected generation juga berkumpulnya di mall. Tidak hanya di dunia online saja. Itu baru sebatas online connection. Rasanya belum  lengkap kalau ngobrol tidak langsung dengan orangnya. Ini namanya confirmation.  Udah ketemu di online, dikonfirmasi pakai offline connection. Bisa di mal, seven eleven, circle K, atau kafe non-chain.

Harus  beda treatment

Bagaimana melakukan treatment pada generasi ini,  memang harus berbeda dibanding treatment terhadap generasi sebelumnya. Bukan untuk membeda-bedakan. Tapi memang berbeda dan zamannya pun sudah berbeda. Zamannya lebih digital,  gitu😀

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s