Internet: Static vs Mobile


Rasanya saya tidak pernah menggunakan teknologi dial-up untuk internet. Ini adalah teknologi  yang akan mengganggu saluran telepon biasa manakala kabel telepon digunakan untuk keperluan internet. Jadi, ketika ada telepon manakala internet sedang digunakan,  maka hanya nada putus-putus yang terdengar.

Teknologi ini agak  mengganggu sebenarnya.  Karena, saat itu saluran informasi jarak jauh  praktis hanya telepon rumah. Bila telepon terputus, praktis tidak ada cara cepat untuk menginformasikan kepada orang lain at that current time. Telepon genggam belum menjadi produk massal saat itu.  Segelintir kalangan memang menggunakan telepon genggam yang saat itu masih  berukuran besar dan cukup keras bila digunakan untuk  melempar anjing yang menyalak di depan kita.

Pertama kali dengar ada warung internet di mall terbesar di kampung halaman, saya berminat mencoba. Maklum, di tabloid sepak bola langganan, dimuat situs-situs klub tersebut. Sekedar ingin tahu saja , informasi apa yang ada di dalamnya. Yang spesial tentang klub tersebut, pastinya. Dan biasanya memang tidak diinformasikan melalui media lain. Apalagi tabloid komersil langganan saya.

Harganya relatif tidak murah, sekitar 10 ribu per jam (untuk harga saat itu).  Dan aksesnya masih sangat lambat. Padahal yang dibuka baru website tanpa fitur video sama sekali. Hanya tulisan dan gambar saja. Belum lagi kemampuan browser yang memang saat itu serba terbatas.

Saat itu, penyediaan internet memang masih relatif sulit.  Masih melalui kabel, karena teknologi  telekomunikasi via BTS belum memungkinkan. Karena itu akses ke masyarakat banyak masih sulit. Belum  bisa personal, masih harus melalui jalur warung internet. Dan tentu sifatnya sangat statis, belum mobile, bahkan di rumah sendiri masih sulit.

Tapi kemudian warung-warung internet semakin terancam keberadaannya. Pertama karena tiap rumah tangga kini  bisa menjadi warung internet (warnet) bagi anggota keluarga. Bedanya, tidak perlu membayar kepada kasir warnet.  Masih statis tapi bisa kapan pun digunakan, dan enak karena di rumah sendiri. Tidak dibatasi oleh jam buka warnet serta jarak dari rumah ke warnet.

Setelah itu,  penyedia internet mengejar para pengguna individu, bukan lagi pebisnis warung internet. Perangkat keras yang digunakan bisa desktop atau laptop, plus modem tentunya. Kartu GSM bisa ditempatkan ke dalam modem kecil yang bisa digunakan di mana pun. Jadi berinternet tidak harus di rumah,  bisa di mana saja asalkan membawa modem  yang mobile. Yang penting pulsa harus terisi, dan jaringan BTS mampu menjangkau  modem miliki  kita.

Berselancar menggunakan handphone sudah menjadi hal  biasa. Kini bahkan bukan sekedar handphone, melainkan smartphone  yaitu kategori telepon selular dengan fitur lebih lengkap. Bahkan banyak di antaranya berharga terjangkau. Hingga hampir semua orang menggunakan smartphone.

Dengan teknologi se-mobile smartphone, aplikasi  pendukungnya pun  bermunculan.  Mulai dari aplikasi chatting seperti WhatsApp  dan BlackBerry Messenger, hingga Social Media seperti twitter dan facebook dalam versi mobile.  Browser pun sudah berukuran lebih  mini. Konten provide kini lebih disibukkan me-mobile-kan website yang sudah ada.

Tidak hanya dunia rumah tangga maupun pendidikan yang dipengaruhi  oleh penggunaan internet. Bahkan beberapa kantor sudah memberlakukan Bring your own device (BYOD). Artinya, silakan bawa sendiri gadget atau hardware anda, dan anda bisa bekerja di kantor. Bukan hanya kantor sudah menyediakan fasilitas internet saja, melainkan sudah sangat memudahkan karyawan dengan berbagai jaringan electronic-mail yang terintegrasi dengan  pekerjaan-pekerjaan kantor.

Penyimpanan file kini tidak perlu  hardrive yang merepotkan . dengan adanya internet dan komputasi awan, semua pekerjaan bisa disipan di cloud dan bisa diunduh oleh  banyak  karyawan yang lain. karyawan tinggal  mengunduh, mengerjakan di hardware miliknya, lalu  mengunggahnya kembali  ke cloud. Lalu tinggal meng-update sudah sampai dimana progress pekerjaan dan siapa yang harus melanjutkannya.

Kembali ke penggunaan internet untuk individu. Bahkan individu tidak perlu  menyediakan internet sendiri.  Penyedia Wireless fidelity (wifi) kini sudah dimana-mana. Mulai dari kafe, restoran, sekolah, bandara bahkan hingga taman kota sekalipun.  Jadi tidak harus membeli  pulsa internet dan punya sebuah  modem, tanpa keduanya sudah bisa berinternet dengan lancar. Ke mana uang keluar saja yang berbeda.

Berinternet gratis lewat wifi di kafe?  Silakan beli minimal satu gelap  kopi atau cokelat. Silakan pesan makn dulu baru bisa berinternet di restoran.  Di sekolah juga disediakan, bahkan nyaris gratis.  Tinggal pengguna saja yang harus bersedia menutup setiap iklan yang muncul. Di bandara atau pelabuhan, juga mirip dengan sekolah.  Pada fasilitas umum seperti taman kota,  wifi-nya terbatas hanya satu jam. Silakan membayar via SMS ke provider tertentu untuk perpanjangan wifi.

Sejak dahulu hingga kini,  pola penggunaan internet selalu berubah. Dari statis diam di warnet atau di rumah,  bergerak ke luar rumah. Dari harus menggunakan perangkat internet sendiri, kini bisa menggunakan jaringan internet yang disediakan.  Dari membayar untuk internet saja, menjadi membayar untuk  manfaat yang lain. Dengan internet sebagai bonus gratisnya.

Untuk melengkapi tulisan ini, silakan isi kuesioner berikut ini:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s