Jodoh


Bismillahirrahmanirrahim

Ada tiga ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala yang konon sudah ditetapkan sebelum manusia yang bersangkutan dilahirkan ke dunia. Pertama adalah rezeki, kedua adalah jodoh, dan ketiga adalah kematiannya. Ada yang berpendapat bahwa ketiganya benar-benar saklek bahwa ketiganya sudah ditentukan secara detil, ada juga yang berpendapat bahwa manusia masih bisa melakukan sesuatu usaha terhadap ketiga hal tersebut.

Prinsipnya jelas. Manusia bisa memilih. Manusia akan selalu punya pilihan. Sama seperti rezeki, kan? Ada banyak rezeki yang halal, dan ada juga rezeki yang haram. Tinggal pilih, mau melakukan yang mana. Rezekinya sudah ada, alias sudah ditetapkan.  Tapi kembali pada ikhtiar manusia juga,  mau mengerjakan pekerjaan yang halal atau haram. Kemudian soal kuantitas. Iya, rezekinya sudah ditetapkan. Tapi  kan beda ikhtiar bisa beda penghasilannya. Nah, sama dengan soal jodoh.

Soal jodoh, manusia itu punya pilihan. Laki-laki silakan memilih satu dari sekian banyak wanita yang pernah lewat dalam hidupnya. Pilih, dekati, lalu lamar. Perempuan pun dalam posisi yang sama. Mereka berhak menerima atau menolak berbagai proposal lamaran yang datang kepadanya. Dan pada prinsipnya sama, yang terbaik tidak akan datang dua kali. Bagi pria, akan ada pilihan untuk melamar perempuan terbaik yang pernah lewat dalam hidupnya. Bagi perempuan, ada pilihan baginya untuk menerima lelaki terbaik untuknya. Dan prinsip dari keduanya sama,  yang terbaik tidak akan datang dua kali. Tidak mungkin bisa kan kita memutar waktu mundur ke belakang, kembali pada yang terbaik?🙂

Di negeri kita ini, jodoh itu bukan urusan si  pria dan ayahnya si wanita saja. Melainkan jadi urusan seluruh keluarga pria dan wanita. Ini persoalan budaya, persoalan kebiasaan, persoalan keberterimaan. Tidak hanya keluarga dekat, alias kakak atau adik yang harus tahu, melainkan juga tante-tante dan om-om yang nyata-nyata adalah saudara orang tua, juga perlu kenal. Tidak hanya sekedar tahu nama atau perawakannya bagaimana, atau pekerjaannya apa. Melainkan juga hal-hal lain-lainnya. Bicara adat-kebiasaan-budaya, berarti juga bicara batas-batas yang (mungkin) menghalangi jodoh.

Menembus Batas

Jodoh itu menembus batas. Artinya, ada batas-batas yang akan menghalangi bersatunya seorang pria dan wanita. Mulai dari beda suku, beda kelas sosial-ekonomi, sampai perbedaan yang paling prinsip, yakni perbedaan pola pikir. Sekarang,  bagaimana sepasang pria dan wanita mampu menembus batas-batas tersebut akan bergantung pada kemampuan mereka “menembusnya” serta “perjuangan”  mereka mempertahankan cinta.

Persoalan jodoh ini memang tidak bisa main-main hati, soalnya. Disebabkan yang paling akan mengalami  pernikahan itu sendiri ya pasangan itu. Bukan dengan orang tuanya, apalagi dengan ana-anak mereka. Yang akan mengalami gelombang pasang surut dalam pernikahan ya pasangan itu sendiri beserta dengan segala problematikanya. Pun masa hidup yang paling panjang sesungguhnya adalah bersama dengan  pasangannya. Masa kanak-kanak dan remaja kita bersama orang tua, jauh lebih singkat kan daripada masa pernikahan, bukan? Masa kita menjadi orang tua hingga anak-anak  berkembang dewasa pun ternyata lebih singkat daripada yang akan dilalui sepasang pengantin, bukan?🙂

Seorang wanita bahkan ada yang bersedia menandatangani  surat dari kedua orang tuanya, yang menyatakan bahwa dirinya tidak akan menagih  harta warisan sepeser pun. Disebabkan dirinya menikahi  seorang pria yang tidak disetujui oleh keluarganya.  Sang pria pun sesungguhnya demikian, dia juga menikahi wanita yang tidak disetujui oleh kedua orang tuanya sendiri.

Commitment is A Funny Thing, You Know?

Ini bukan kata-kata saya. Ini adalah quote dari Alexandra Rhea Wicaksono alias Lexy, tokoh rekaan Ika Natassa dalam novel “divortiare”. Tapi dia benar. Sekali kita sudah komitmen dalam  pernikahan, maka hanya hal-hal lucu dan bodoh yang akan terjadi. Bodoh dalam nalar manusia, tapi begitulah seharusnya dalam pernikahan. Selalu bersama ke mana-mana. Tidak takut kekurangan suatu apa. Tidak khawatir akan masa depan. Karena ada kamu di  sisi aku, begitu contoh gombalnya.

Komitmen, dan memang hanya komitmen yang akan mengikat tali pernikahan. Riak-riak kecil akan selalu ada. Datang dan pergi silih berganti. Semua tentang hal-hal sepele, sebenarnya. Sebagian besar bukan tentang yang prinsip. Tapi semua riak-riak kecil itu memang berguna. Because in the long run,  it’s just tighten the relationship itself.

Dalam film “When Harry Met Sally”, diceritakan seorang pria yang sedang bersama kawannya, yaitu Arthur Kornblum di sebuah kafetaria. Saat itu, seorang gadis tiba-tiba masuk ke dalam kafetaria. Teman si Arthur, kemudian berkata kepada Arthur, “I am going to marry her”. Dan dua minggu kemudian mereka menikah, dan pada saat teman Arthur Kornblum bercerita, pernikahan mereka sudah berlangsung selama 50 tahun.

Did you see? Commitment is still a funny thing. Bagaimana bisa sepasang yang baru kenal dua minggu, sudah bisa memutuskan untuk menikah? Bahkan pernikahan tersebut sudah berusia 50 tahun. Padahal, pasti banyak perbedaan-perbedaan yang baru diketahui setelah menikah. Dan mereka bisa menjalaninya karena komitmen memang pegangannya. Ok, you may say that it’s just a movie. The director may dream about it. However, commitment still make sense and always prove that it is the best part in marriage.

Jodoh itu Misteri

Jodoh itu benar-benar misteri. Jangan mengira bahwa sudah menikah,  lantas bisa disimpulkan  jodohnya sudah ketemu. Jodoh abadinya sudah ketemu. Tidak secepat itu bisa disimpulkan.  Ada yang setelah setahun menikah, ditinggal meninggal  oleh istrinya. Ada yang menikah karena terpaksa,  married by accident (MBA) misalnya, akhirnya mereka berpisah juga. Kasus seperti ini relatif singkat biasanya. Sekitar 1-2 tahun saja itu umur pernikahan.

Jodoh juga mungkin tidak selamanya ada. Menjadi sepasang suami istri hingga tua mungkin harapan semua orang. Istilahnya, hingga maut memisahkan. Tapi ternyata maut tidak kenal waktu untuk memisahkan.  Maut tidak menunggu pesta perkawinan ke-50  untuk  memisahkan sepasang manusia yang terikat tali perkawinan. Saya kenal dengan seorang ibu yang berjuang keras membesarkan kedua anak-anaknya karena suaminya telah pergi meninggalkan mereka dan dunia. Padahal saat itu, anak-anaknya masih SD dan balita. Sementara, pendapatannya hanya dari bekerja sebagai  administrasi sekolah di sebuah SMP.

Pada akhirnya,  manusia berhak berusaha dan hasilnya juga tergantung dari apa yang diusahakan. Maka, apapun hasilnya, ya syukuri saja. Semua akan berakhir indah. Kalau belum indah, maka itu berarti belum berakhir. Selanjutnya, silakan coba lagi. Bawa seluruh niat baik, seluruh niat untuk ibadah, dan seluruh niat untuk kebaikan diri sendiri serta keluarga yang akan datang. Tidak usah repot bila belum berjodoh  dengan yang disuka,  nanti akan datang yang lebih baik lagi. Tidak usah repotlah, karena hidup ini hanya berjarak dari adzan (ketika lahir) ke adzan (ketika makam akan ditutup dengan tanah).

*boleh  percaya boleh tidak. Tapi tulisan ini dibuat oleh seseorang yang belum sekali pun menikah🙂

sumber gambar: http://moviethrillersite.com

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s