Perempuan (yang) Bekerja


Belakangan saya mengalami diskursus tentang perempuan (yang) bekerja. Memang wacana ini memang sedang sering hinggap di telinga saya. Ada banyak sebab dan alasan yang bisa kita diskusikan bersama. Tentang mengapa dan bagaimana fenomena ini terjadi.

  • Memang mau berkarir. Biasanya ini tipe pengejar prestasi. Bekerja di perusahaan bonafide. Syukur-syukur kalau bisa Multi National Company (MNC). Jadi yang dikejar memang bukan sembarang pekerjaan, seperti bendahara atau sekretaris.  Tapi yang memiliki prestise, ada bawahan, serta gaji tinggi. Salah satu bentuk prestise adalah paparan media massa terhadap dirinya. Indikator lain adalah soal bajak-membajak. Bangga bila dibajak oleh perusahaan lain, dengan tawaran remunerasi yang lebih tinggi.
  • Engga mau merepotkan suami. Kalau kategori yang ini, disebabkan tingginya biaya gaya hidup. Mulai dari makanan (siap saji atau tidak), transportasi (kendaraan sendiri atau tidak), pendidikan anak, asuransi jiwa, cicilan KPR dan lain sebagainya. Biaya hidup yang tinggi, menuntut pendapatan yang tinggi juga. Karena pendapatan dari suami bisa jadi kurang, maka istri memilih bekerja.
  • Aktualisasi  ilmu. Sekolah sudah tinggi-tinggi, sampai kuliah bahkan. Investasi dari orang tua ini, dirasa tidak terbayar bila sang anak perempuan tidak bekerja.  Mungkin tidak untuk  dikembalikan langsung kepada orang tua, at least ada Return on Investment, begitu pikir mereka. Ada uang yang masuk dari pekerjaan, setelah uang keluar untuk sekolah dan kuliah. Jadi, gelar pendidikan memang jadi alat transaksi ekonomi  untuk menyambung nyawa.
  • Cadangan hari tua. Khawatir suami  meninggal lebih dulu, dengan atau tanpa cicilan yang masih harus dibayar, sementara dirasa tidak mungkin bila tiba-tiba memiliki sumber pendapatan lain maka perempuan memilih  bekerja. Wajar, punya pendapatan ‘kan tidak bisa asal-asalan dapat saja. Minimal punya kemampuan atau pengalaman. Maka dari itu  perempuan kategori ini memilih bekerja sejak sekarang.

Saya pribadi lebih mendukung perempuan yang bekerja di rumah ya. Ini karena saya melihat ibu saya yang membuka dan menjaga toko, tapi pada saat yang sama sukses  juga sebagai istri dan sebagai ibu rumah tangga. Sukses sebagai istri karena berhasil mendampingi suami dalam keadaan apapun, termasuk ketika ayah saya sakit berat dua tahun yang lalu. Sukses sebagai ibu rumah tangga, salah satunya karena beliau dikagumi oleh keluarga yang lain dalam hal membesarkan anak-anaknya.

Tentang ibu rumah tangga, mari kita simak quote berikut ini, dari film yang sedang tren saat ini “Habibie dan Ainun”:

Mengapa saya tidak bekerja? Bukankah saya dokter? Memang. Dan sangat mungkin bagi saya untuk bekerja pada waktu itu. Namun, saya pikir buat apa uang tambahan dan kepuasan batin yang barangkali cukup banyak itu jika akhirnya diberikan pada seorang perawat pengasuh anak bergaji tinggi dengan risiko kami sendiri kehilangan kedekatan pada anak sendiri? Apa artinya tambahan uang dan kepuasan profesional jika akhirnya anak saya tidak dapat saya timang dan saya bentuk sendiri pribadinya? Anak saya akan tidak mempunyai ibu. Seimbangkah anak kehilangan ibu bapak? Seimbangkah orangtua kehilangan anak dengan uang dan kepuasan pribadi tambahan karena bekerja? Itulah sebabnya saya memutuskan menerima hidup pas-pasan. Tiga setengah tahun kami bertiga hidup begitu. (Ainun Habibie, Tahun-tahun Pertama)

Untuk menyempurnakan tulisan sesederhana ini, silakan yang perempuan dan akan/masih bekerja, untuk mengisi polling berikut:

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s