Harpitnas


Wiken ini akan sedikit di-ekstensi-kan. Sampai selasa. Lumayan bisa dapat 4 hari.  Seperti wiken kemarin,  dapetnya 4 hari juga. Hari ini ngantor, tapi baru hari kedua karena hari pertama di minggu ini baru mulai kemarin. Jadi, wiken kemarin terbukti sudah saya habiskan di kampung halaman. Lumayan juga.  Oke juga. Hanya,  semakin membuat galau saja. Tinggal dan kerja di sana akan luar biasa nyaman: fasilitas serba lengkap, tapi penduduk dan kendaraan yang tidak padat.

Rencanya wiken ini juga ke bandung. Hitung-hitung tahun baru Masehi. Bukan Masehi-nya yang penting, tapi setahun  yang lalu dan setahun yang akan datangnya itu, lho. Evaluasi setahun terakhir apa yang belum  dilakukan, terus merencanakan setahun  ke depan mau ngapain aja. Paling enak memang menggunakan kalender yang biasa kita gunakan. Sayangnya itu adalah kalender Masehi, bukan kalender Hijriyah. Sebagai  muslim sebaiknya memang pakai kalender Hijriyah, tapi ya mau bagaimana. Engga biasa, soalnya. Tapi gapapa, koq. Penggunaan kalender Masehi bukan sesuatu yang dilarang setahu saya.

Libur begini juga mendatangkan kegalauan untuk banyak  pihak. Yang jadi ayah dan ibu, galau  karena anak-anak  mengajak libur akhir tahun. Yang sudah susah payah bekerja ingin pulang kampung, berlibur. Minimal ketemu  dengan keluarga yang lain.  Meskipun belum ada kabar yang baru. Yang udah bekerja keras dan banyak duit, ga mau repot. Pulang kampung naik pesawat saja. Ini misalnya untuk  mereka yang bekerja di jakarta, tapi kampungnya di Jogja. Lucunya, istri  beliau  ini  malah ingin naik mobil saja dari Jakarta ke Jogja. Nah lho, lucu kan? 🙂

Saya lebih suka klo liburnya kita itu tidak mengganggu jadwal produktifitas kita. Maksudnya begini,  kalau selasa itu libur tapi seninnya engga, kan harpitnas tuh, nah seninnya sekalian libur sahaja. Tapi bukan libur sama sekali, karena sabtu pekan sebelumnya, atau sabtu pekan yang berikutnya, dijadikan hari kerja sekalian. Jadi, libur tidak mengurangi produktifitas. Iya dong, kita bekerja kan karena kita mau produktif, bukan karena kita mengejar uangnya saja.

Akhir tahun kalender ini memang waktu yang tepat untuk merefleksikan diri. Terserah siy mau beneran libur apa libur pura-pura doang. Yang jelas memang waktu yang tepat untuk mengevaluasi setahun  kemarin. Dari bulan pertama tahun ini, sampai akhir tahun ini. Sudah melakukan apa saja selama 12 bulan terakhir?  Sesuai rencana kah? Adakah plan B yang terealisasi setelah gagalnya plan A? Atau banyak yang belum  dilakukan? Mudah-mudahan banyak yang tercapai ya. Mudah-mudahan yang belum tercapai juga hanya sedikit.

Kata orang bijak, “gagal merencanakan berarti merencanakan kegagalan”. Segalanya harus direncanakan. Imbasnya, hidup jadi terlalu berat dan terlalu serius kalau direncanakan, itu memang betul. Dibawa santai saja. Tapi bukan berarti tanpa perencanaan, target dan batas waktu kan? Harus seimbang antara “ekstrim terlalu serius” dengan “ekstrim menikmati perjalanan hidup”. Yang jelas, kita serahkan saja kepada Tuhan. Bahwa kita punya plan A, dan plan B. Dan yang terpenting adalah berkah Tuhan di dalamnya. Bukan sekedar ketercapaian rencana.

Di weekdays yang terjepit ini, terjepit di antara dua harpitnas dalam jarak seminggu, mudah-mudahan semua berjalan tentram ya. Aman dan damai menjelang pergantian tahun. Bukan sekedar berganti, melainkan benar-benar menjadikan kita manusia yang bijak memanfaatkan waktu. Bijak mengevaluasi masa lalu dan bijak merencakanan masa depan. 🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s