mata duitan


Kenapa ya? Kesan bahwa pebisnis itu mata duitan, selalu ada? Seakan-akan semua yang dikerjakan pebisnis itu demi omzet/penjualan/uang semata. Padahal itu memang rezekinya si pebisnis, ketika bisnisnya menguntungkan. Namanya cari makan dari bisnis, untung itulah yang memberi makan si pebisnis, yang membuat dapurnya bisa mengepul terus.

Masalahnya, engga semua pebisnis itu mata duitan. Setidaknya dari yang saya amati di lapangan. Ada yang jadi pebisnis, karena memang tidak betah menjadi bawahan di perusahaan. Jadi, dia pikir, dia lebih cocok mencari pendapatan sendiri saja. Lewat bisnis. Analogi ini sama dengan beberapa orang dokter yang saya tahu. Mereka tidak nyaman bekerja di rumah sakit. Mereka lebih nyaman ketika membuka praktik sendiri.

Namanya hidup, ya harus menyambung nyawa ‘kan? Harus makan paling sedikit 2 kali sehari. Belum lagi berbagai kebutuhan lainnya. Jadi mendapatkan penghasilan sudah jadi hal yang wajar sewajar-wajarnya. Persoalannya, penghasilan bisa didapat tidak hanya dari bekerja dengan orang lain saja, tapi juga bisa dari bekerja sendiri. Ini yang ada di pikiran para pebisnis.

Tapi sebenarnya, bisnis itu cocok-cocokan. Makanya, ada yang cocok jadi full-time businessman, ada yang cocoknya jadi full-time employee. Ada yang cocok berbisnis ritel, ada yang cocok berbisnis klinik dokter gigi. Ada yang berbisnis karena punya mimpi besar, ada yang berbisnis sendiri karena memang hobinya disitu. Salah seorang rekan saya menjalankan bisnis web developer, semata karena dia suak mengutak-atik web.

Almarhum Steve Jobs yakin bahwa suatu saat komputer akan menjadi barang yang sangat pribadi, yang ada di rumah-rumah. Komputer tidak akan lagi menjadi mainframe super besar, yang mahal, yang hanya perusahaan-perusahaan yang mampu membelinya. Yang hanya berada di kantor-kantor. Tidak, Steve Jobs melihat lebih dari itu. Dan untuk mewujudkan keyakinannya itu, dia membangun perusahaan.  Kebetulan, perusahaan itu mampu menghidupi diri dan keluarganya.

Bill Gates melihat  komputer pribadi ini secara berbeda. Dia yakin bahwa era komputer mainframe akan berakhir, dan digantikan oleh komputer pribadi (personal computer, PC) di rumah-rumah. Jadi, komputer akan diproduksi secara massal.  Benar-benar secara massal. Dan cita-citanya adalah, menjadikan setiap komputer tersebut, menjalankan sistem operasi yang dia bangun sendiri. Untuk mewujudkan itu, dia membangun perusahaan. Kebetulan, perusahaan itu pernah  membuatnya menjadi orang terkaya di dunia.

Mark Zuckerberg tidak peduli dengan para investor yang mengejar keuntungan. Dia cuma peduli dengan impiannya. Dia ingin membuat semua orang terhubung satu sama lain. Melalui “planet lain” miliknya:  facebook. Bahkan, ketika para investor pengejar sahamnya  menuntut penjelasan yang masuk akal atas harga perdana sahamnya, dia tidak peduli.  Dia lebih  memilih  menikah dengan pacarnya sehari setelah pelepasan saham perdana (initial public offering, IPO). Meski  facebook menjadikannya orang kaya, yang dia kejar bukanlah keuntungan. Dia cuma ingin menghubungkan orang-orang, karena itu dia mendirikan perusahaan.

Uang Bukan Segalanya

Beberapa waktu lalu, saya kunjungan kerja ke Dexa Medica, one of Indonesian leading company in pharmaceutical industries, ini akan menjadi contoh bagus betapa para pemilik usaha tidak melulu orang-orang yang serakah, rakus akan uang. Perusahaan ini fokus di industri farmasi saja. Ketika para pemilik melihat kesempatan untuk mengambil lahan di industri lain, semisal properti atau  makanan, mereka tidak melakukannya. Karena mereka profesional. Panggilan jiwa mereka ada pada industri farmasi. Kebetulan mereka mendirikan dan memiliki perusahaan di bidang tersebut. Punya perusahaan yang menjadi mesin keluarga uang tidak bisa diartikan bahwa pemiliknya berkarakter serakah.

Uang bukan segalanya. Tapi segalanya bisa dibeli (baca: ditukar) dengan uang.  Uang itu bukan harta yang sebenarnya, tapi semua harta bisa ditukar dengan uang. Uang adalah benda paling fleksibel di dunia. Bisa ditukar dengan apa saja, asal jumlahnya pas. Termasuk ditukar dengan waktu seseorang untuk menjadi karyawan.

One thought on “mata duitan

  1. Bertahan hidup di area non peradaban manusia dan peradaban manusia, tentu beda teknik mengalokasikan sumber daya. Di area non peradaban, manusia bisa bertahan hidup tanpa ada transaksi, sumber daya dalam status tanpa kepemilikan, misal di hutan belantara.

    Bertahan hidup di area peradaban manusia, maka tekniknya adalah dengan bertransaksi kepemilikan sumber daya, untuk saling melengkapi kebutuhan. Dulu sekali barter cukup, tapi manusia mengembangkan kemampuan skolastik, dan valuasi/ kalkulasi lalu membutuhkan satuan konsensus, lahirlah uang. Lalu manusia merasa bahwa bertahan hidup di area peradaban manusia, membutuhkan uang.

    Seorang manusia selalu berusaha bertransaksi, seorang profesional mentransaksikan keahliannya untuk ditukar dengan insentif, seorang pengusaha mentransaksikan barang/ jasanya dengan harga beli, mereka memperoleh profit atas lebihan ongkos produksi/ pembelian bahan. Keduanya tetap bertransaksi.

    Pemahaman bahwa manusia sekolah, menimba ilmu, pada suatu saat dia harus mampu mentraksaksikan hasil dari sekolahnya itu, jarang dipahami pelajar didikan sekolah formal. Ilmu itu terserah kepada pemilik ilmunya, apakah akan dipekerjakan, atau diperdagangkan, kembali ke orientasi personal masing- masing.

    Begitu sih🙂

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s