Profesi Idaman Masa Kini: Wirausaha


Rasanya, ketika saya masih sekolah di Balikpapan, membangun bisnis itu sesuatu yang sulit. Makanya sedikit orang yang melakukannya.  Kerja sendiri itu penuh  dengan tantangan, seperti naik roller coaster di Dunia Fantasi (Dufan) atau di Trans Studio Bandung. Hidup penuh lika-liku, naik-turun, sesekali menikung tajam. Bahkan, bisa terjadi seperti bagian ujung dari roller coaster trans Studio Bandung: naik sampai ke puncak, tapi ternyata harus melorot turun ke belakang kembali ke start awal.

Dulu, sebelum saya mengambil program pendidikan master, pertanyaan yang sering ditanyakan ke diri sendiri ada dua. Yaitu, ini dan itu.

Kini, terutama setelah saya lulus S2, pertanyaan sejenis “mau kerja sama orang atau mau kerja sendiri?” atau, “usaha ini kamu bikin sendiri?” jadi pertanyaan yang biasa saya temui.  Sekarang di era pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sedang baik-baiknya, membuat usaha sendiri menjadi sesuatu yang sangat biasa. Bedanya hanya di kepemilikan. Kerja sendiri berarti  memiliki usaha sendiri, kerja dengan pemilik usaha biasanya berarti tidak ikut memiliki usaha tersebut.

Bicara pendapatan, jelas berbeda dengan bekerja kepada orang lain. Selain gaji bulanan yang diterima bisa jadi sangat berbeda dengan bekerja di perusahaan milik  orang, karena usaha yang relatif masih kecil, masih ada reimbursement, asuransi kesehatan, uang makan, uang transport dan lain sebagainya. Sekilas, kerja dan mendapat fasilitas memang menyenangkan, tetapi bekerja sendiri karena punya impian yang ingin diwujudkan memang jauh lebih memuaskan. Hal ini memang terbukti dari penelitian yang dilakukan oleh Kompas beberapa waktu lalu. Berikut grafiknya.

Sebanyak 20,1% anak muda yang disurvei lebih memilih untuk berwirausaha. Artinya memiliki  usaha sendiri yang dia bangun sejak awal. Pemuda-pemudi yang memilih profesi ini jauh lebih banyak dibanding yang memilih ikut bekerja di bidang lain dengan orang lain. Seluruh responden penelitian ini juga ditanya tentang seberapa yakin mereka akan mampu meraih profesi yang mereka idam-idamkan tersebut? Sebesar 44,90% menyatakan “yakin” akan mampu meraih profesi yang menjadi cita-cita mereka. Ini  artinya, ada kepercayaan diri yang besar bagi para pemuda-pemudi kita untuk menjadi pengusaha.

Seperti pernah disampaikan sebelumnya oleh Pak Yuswohady, bahwa kini kita sedang memasuk era #C3000 (baca: consumer three thousand). Artinya, era kejayaan konsumsi oleh masyarakat kelas menengah kita baru saja dimulai. Mengapa disebut kejayaan? Karena pendapatan per kapita kita baru saja melewati batas awal sebelum menjadi negara maju. Yakni di angka US$ 3000/tahun. Dengan minimal pendapatan sebesar ini, maka akan ada banyak disposable income (biasanya diperkirakan sekitar 1/3 dari total pendapatan). Inilah yang menjadi kekuatan belanja dari dari sebagian besar masyarakat kita, terutama yang termasuk dalam golongan kelas menengah.

Akan tetapi, inilah yang harus kita hindarkan bersama-sama. Jangan sampai daya belanja yang tinggi tersebut hanya menjadi sasaran empuk para investor dan pemain dari luar negeri. Kita juga harus ikut bermain di dalamnya. Nah di sinilah peran para #E3000 (baca: entrepreneur three thousand). Para pengusaha kita yang ikut mentargetkan para #C3000 sebagai konsumennya, yang akan mendirikan lapangan pekerjaan, yang akan berinvestasi untuk bisnis-bisnis yang lainnya.

Para anak-anak muda yang menjadi responden dalam penelitian KOMPAS di atas, haruslah kita dukung dan tumbuh-kembangkan. Supaya tidak hanya  bermain sesaat saja, melainkan juga menjadi bibit-bibit pengusaha handal di masa depan. Dengan perusahaan-perusahaan yang tidak hanya menjadi pemain kecil di hadapan perusahaan-perusahaan dari luar, melainkan juga mampu  besar dan ekspansi ke negara lain.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s