Be On Time? Seriously!


Be On Time? Seriously!

Janji jam 10-an. Bukan jam 10. Artinya, si pembuat janji tidak akan datang persis pada jam 10.00, melainkan setelah jam 10. Susah untuk on time. Lebih baik tidak berjanji on time daripada susah untuk menepatinya. Begitu kata rekan saya di suatu waktu. Faktor keterlambatannya ada banyak. Selain kemalasan dari diri sendiri,  bisa juga karena transportasi. Punya mobil sendiri tidak menjamin lebih on time daripada naik kendaraan umum, misalkan karena terjebak macet yang tidak terduga sebelumnya. Naik sepeda motor akan lebih lancar, tapi tidak tertutup kemungkinan terlambat, sama sekali. Di daerah seperti ibukota Jakarta, bahkan motor rata-rata (secara rata-rata keseluruhan), hanya berkecepatan 20-30  km/jam karena luar biasa macet. Lebih reliable jalan kaki, kecepatan selalu sama tanpa halangan berarti.  Tapi jalan kaki sulit berlaku untuk jarak yang jauh sekali, ‘kan? J

Penyelenggara acara sudah terbiasa mengantisipasi keterlambatan peserta.  Lebih baik jadwal tertulis dimajukan lebih cepat 1 jam daripada rencana yang sesungguhnya. Tujuannya jelas, ketika acara dimulai, peserta sudah lebih dari 70% yang berada di ruangan. Memang bohong siy, tapi “mau bagaimana lagi?” kata mereka. Hal berbeda dilakukan oleh Grapari. Survey yang pernah dilakukan menyatakan bahwa, kita masih toleran untuk keterlambatan 15 menit. Lebih dari itu, konsumen akan gerah. Bisa memaki-maki customer service di ujungnya, atau untuk yang sabar menanti akan tetap diam dan tidak curhat di media, tetapi tidak pernah kembali lagi.

On time itu bagian dari service yang diberikan. Anak-anak muda sekarang suka bilang “GPL” waktu memesan makanan di lokasi-lokasi kuliner. Ga Pake Lama, maksudnya. Biarpun on time, tapi harganya tetap sama. Karena harga sudah include service, engga hanya harga makanannya saja. Inilah yang namanya service.  Satu bentuk komitmen yang diberikan oleh penyedia produk/jasa. Konsumen sekarang sudah berpikir,  “pas gw beli. Kalo gw suka, gw bakal  balik  kesini  lagi.” Makanya service itu harus jadi nomer satu. Soal on time-nya, yang penting masih masuk toleransi konsumen.

Di negeri ini mungkin memang hanya mementingkan yang penting-penting saja. Kalau yang penting adalah mengajarnya, asalkan dosen masuk kelas berarti engga masalah dong ya terlambat. Setuju ga? Mahasiswa berpikir, yang penting kan belajar, dan itu engga harus di kelas kan? Ya sudah, tidak usah datang. Nanti fotokopi catatan temen saja. Akhirnya, untuk yang bertanya pun malu untuk bertanya di forum terbuka. Biasanya  setelah kelas bubar,  para mahasiswa berkumpul  mengelilingi dosen di meja depan. Menanyakan pertanyaan paling penting untuk  ditanyakan. Yang penting kan bertanya, bukan bertanya di waktu yang sudah disediakan.

Begitu. Yang penting-penting dikerjakan, tidak harus on time atau pada waktu yang disediakan.  Misalkan negosiasi seharusnya dilakukan di ruang legislatif yang terhormat. Ternyata ini hanya akal-akalan saja. Kesepakatan yang sebenarnya terjadi di hotel. Atau dilakukan lelang, ternyata pemenangnya sudah diputuskan sebelumnya. Yang menang adalah mereka yang mendekati decision taker, atau influencer lebih dulu. Kualitas barang atau jasa harus oke, tapi untuk  deal, pendekatan juga harus oke punya.

Soal waktu ini juga, yang pernah saya diskusikan dengan seorang rekan. Kata dia, sebagian di antara kita orang Indonesia, tidak punya constraint waktu ketika merencanakan sesuatu. Seringkali asal tercapai. Entah tercapainya kapan, kapanpun tidak jadi masalah. Yang penting tercapai. Beliau, rekan saya itu, ngomong tentang ini, karena dia seorang salesman. Dia menyayangkan, banyak di antara kita yang merendahkan profesi salesman itu sebab dasarnya adalah karena tidak menghargai waktu. Iya, tidak menghargai waktu. Terus hubungannya bagaimana maksudnya? Menjadi salesman adalah soal menghargai waktu, lanjutnya. Bagaimana mencapai target dalam rentang waktu tertentu. Inilah yang jadi masalah di banyak di antara kita. Target punya, tapi tidak punya “kapan target tersebut harus dicapai”.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s