Profesi Salesman


Dulu, rasanya negative thinking duluan kalau ketemu salesman. Kebayangnya, waktu saya akan diambil nih. Mendengarkan dia memberi ceramah soal produk/jasa yang dia tawarkan. Sementara, saya belum tentu butuh. Kalau saya terpaksa membeli, mungkin uang saya akan terbuang sia-sia. Karena barang tersebut tidak saya manfaatkan. Jadi, waktu hilang, uang hilang. Iya kalau punya uang, kalau saya lagi tidak punya mungkin dia yang menghabiskan waktunya karena melakukan promosi tidak pada calon pembeli.

Tapi semua pikiran itu udah berubah sekarang. Ini karena saya sedang meneliti tentang profesi salesman dan akan menulis buku tentang salesman tersebut.

Profesi itu akar katanya dari kata proficio. Artinya, panggilan jiwa. apa panggilan jiwa untuk salesman? Panggilan jiwa yang seharusnya, bagi salesman adalah menjelaskan produk/jasa yang mereka tawarkan kepada calon pembeli dalam tenggat waktu tertentu. Contoh paling mudah untuk menjelaskan “panggilan jiwa” ini adalah pada profesi dokter. Ada kan beberapa rekan kita yang menjadi dokter, yang dengan passionate menceritakan bahwa dia menjadi dokter untuk menolong orang lain supaya sembuh dari sakitnya atau meningkatkan kualitas kesehatan seseorang/masyarakat.

Jadi, profesi salesman itu mirip guru atau dosen begitu, kira-kira. Sama-sama menjelaskan “barang dagangannya”. Bedanya, guru/dosen harus menjelaskan apa adanya. Kalau memang rumit, ya harus begitu diajarkannya. Karena cara pandang itulah yang harus dipahami oleh siswa(i)/mahasiswa(i). Tapi berbeda dengan salesman. Salesman harus menggunakan bahasa yang dipahami oleh si calon konsumen. Dan, tantangan lain adalah salesman harus membuat konsumen paham dalam waktu sesingkat-singkatnya. Lebih cepat lebih baik. Karena waktu konsumen juga terbatas.

Kemudian, komitmen salesman diarahkan untuk membangun keberlanjutan pembelian oleh pelanggan. Sehingga, tanggung jawab salesman adalah merawat hubungannya dengan pelanggan tersebut, supaya pelanggan-pelanggan ini kembali membeli kepada dia. Dalam hal ini, skill yang harus dimiliki pula oleh salesman adalah skill untuk membangun networking yang baru serta menjaga relationship yang telah terbangun. Salesman bisa dikatakan sangat berhasil membangun pelanggannya, bila pelanggan tersebut sudah menjadi “evangelist”. Artinya, pelanggan yang selalu membeli dan mulai merekomendasikan  kepada orang lain untuk ikut menggunakan merek yang dia pakai. Contoh paling benar adalah, salesman yang bernama Steve Jobs berhasil  membuat para pengguna Apple untuk terus-menerus mempromosikan produk  Apple kepada keluarga/rekan mereka.

Mungkin, kekurangan profesi salesman itu cuma satu. Tugas dia memang membuat orang lain paham tentang produk/jasa yang dia tawarkan. Sayangnya, indikator kinerja dia adalah bahwa dia harus mencapai target minimal penjualan yang ditetapkan. Jadi, bagaimanapun berhasilnya salesman memberikan penjelasan, ukurannya tetap adalah berapa banyak produk yang berhasil dijual melalui promosinya.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s