Anti Mainstream


someone who is anti mainstream has a strong dislikely of trendy things and people.

mainstream, secara radikal bisa jadi tidak punya pendirian. bisa juga karena kurang kreatif. tidak punya ide baru atau berbeda. faktor media dan lingkungan juga mempengaruhi. dapat informasi dari media televisi, radio atau koran nasional, berarti isi kepalanya mainstream. bergaul di lingkungan yang bunglon banget. sebentar begini, sebentar begitu. klo jadi anggota komunitas begitu, pasti jadi mainstream juga. apa yang trend, maka itu yang akan diikuti.

saya pernah ngobrol ma seorang sarjana. kebetulan dia lulus ITB. waktu saya tanya SMA dimana, dia bilang SMA 3 Bandung. dia justru bertanya balik,

kenapa kak? mainstream ya?

sungguh, saya engga ada pikiran seperti itu. tapi koq, dia berpikir begitu ya? hehehe 😀 tapi memang banyak sekali alumni SMA 3 Bandung dan SMA 8 Jakarta di ITB. mereka masuk kampus ITB ibarat pindah kelas saja. mainstream ga sih? 😀

kebanyakan ikut mainstream bisa jadi galau. galau satu dan galau dua. mahasiswa galau karena engga lulus bersama teman-temannya yang lain. galau karena engga punya pacar. padahal yang nikah tanpa pacaran, banyak sekali yang berhasil.

menurut saya yang pernah kuliah di farmasi, jadi apoteker itu mainstream. iya dong, banyak banget yang akhirnya melanjutkan ke program profesi tersebut. padahal, jumlah apotek mungkin tidak bertambah signifikan. termasuk perusahaan farmasi dan makanan. akhirnya, suplai apoteker berlebihan. posisi tawarnya jadi lebih rendah ketika bertemu perusahaan farmasi. kalau pekerjaan dengan gaji yang relatif rendah tersebut tidak diambil, maka masih banyak apoteker lain yang mengantri dan bersedia mengisi posisi tersebut.

cari penghasilan dengan menjadi karyawan itu mainstream banget. masih lebih anti mainstream mereka yang jadi profesional perorangan atau sekalian jadi pengusaha 🙂

semakin terbiasa menjadi anti mainstream, maka seterusnya semakin “tuli” dari bisikan-bisikan orang lain. dulu, cuma ada seorang yang dari SMP saya, yang sekolah di SMA saya itu. Lulus SMA, pun cuma satu yang kuliah farmasi di kampus saya itu. walhasil, ya begini jadinya. saya beranggapan beda itu biasa. itu masalah pilihan. tidak masalah mau lulus lebih lambat dari teman-teman karena memprioritaskan bisnis terlebih dahulu.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s