mengikat ilmu


ilmu itu tersebar di mana-mana. baik dalam bentuk kauniyah maupun qauliyah. persoalannya, ilmu baru sebatas pengetahuan saja. sekedar tahu saja. istilahnya, klo lagi mengobrol “oh begitu ya”. ya sekedar begitu saja. sekedar tahu saja. karena sekedar tahu saja, maka kemudian sekedar “lupa-kan” saja. ya sudah tahu, lalu tidak tahu untuk apa atau bagaimana menggunakannya, maka ya terlupa saja. terlupa begitu saja.

padahal generasi umat manusia tak terhitung banyaknya. dari generasi ke generasi banyak ilmu yang harus diwariskan. ini namanya mempertahankan (dan membangun) peradaban. harus ada  kebiasaan yang diwariskan. kebiasaan, ya termasuk ilmu juga kan. terutama ilmu-ilmu yang bermanfaat.  ilmu agama adalah salah satunya. sains dan teknologi, adalah contoh yang lainnya.

beri makna pada tiap ilmu, maka engkau akan mengingatnya. bagaimana akan teringat, bila ilmu tersebut tidak terasa maknanya? ini berdasar pengalaman saya ya.  pada setiap ilmu yang saya sadar ada di depan mata, akan sulit untuk mengingatnya bila tidak ada alasan untuk mengingatnya. bila tidak kepentingan atasnya, terutama bila tidak ada maknanya. sulit untuk memanfaatkan pengalaman orang lain, bila tidak kita resapi apa intisari pengalaman tersebut dan bagaimana bila kita mengalaminya suatu hari nanti.

tahap berikutnya adalah mencatatnya. mendokumentasikannya. ini gunanya punya blog. selain latihan menulis, ya biar ada catatan. tapi tidak harus blog, siy. mencatat ‘kan bisa dimana saja. blog itu salah satu bentuk dokumen kan. bentuk-bentuk lain juga bisa. rekaman audio atau video. manusia lebih suka melihat video-audio karena menarik dan mempekerjakan banyak indera sekaligus. buat konten-mu, unggah di internet. sekalian exist di dunia maya. supaya ada search result bila di-googling.

menurut saya, salah satu ciri masyarakat yang civilized (saya cocok dengan kosakata ‘beradab’) itu adalah bagaimana mereka mempertahankan dan mewariskan ilmunya. termasuk  kebiasaan-kebiasaan hidupnya. termasuk juga kebaikan-kebaikan yang mereka temui dan mereka nasihatkan kepada anak-anak mereka, kepada penerus-penerus mereka. dan itu sulit dilakukan bila tidak ada dokumen yang bisa diakses kembali. manusia di zaman dahulu saja membuat prasasti, batu tulis yang memberikan informasi tentang keberadaan mereka dan apa yang mereka lakukan.

saya? kamu? kita? ilmu apa yang sudah dan akan kita wariskan? 🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s