terpaksa jadi entrepreneur


jadi entrepreneur itu, tidak melulu karena mimpi-mimpi besar. Mark Zuckerberg ingin setiap orang terhubung. Lewat dunia online. Dia bela-belain ga meluluskan kuliahnya, supaya mimpinya bisa terwujud. Dia ga peduli pakai sandal waktu ketemu investor yang berdasi dan berjas. Yang penting mimpinya terwujud, engga peduli dengan uangnya. Setelah facebook IPO (initial public offering) pun, dia masih engga peduli. Dia malah menikahi pacarnya, sehari setelah IPO.

tapi, tidak harus punya mimpi besar dulu, baru jadi entrepreneur.

beberapa di antara kita ada yang terpaksa jadi entrepreneur. biasanya, karena tekanan hidup. entah dari kecil hidupnya sudah susah. makan siang susah karena belum ada lauk. terpaksa memancing dulu. baju untuk sekolah tidak ada, terpaksa berdagang dulu. uangnya dipakai untuk berdagang dulu.

ada juga yang tekanan hidupnya adalah karena sudah menikah. sudah punya istri dan anak yang harus diberi makan. tadinya, cukup dengan gaji sebagai karyawan, bisa mencicil rumah dan menikah. kini, setelah anak mulai banyak dan mulai besar, gaji karyawan tidak cukup lagi. harus cari tambahan sebagai entrepreneur. belakangan, sebab skala usaha yang semakin membesar, pekerjaan karyawan ditinggalkan. selain itu, pendapatan dari usaha jauh lebih besar daripada gaji karyawannya dulu.

Di kampus-kampus besar seperti UI, ITB, dan UGM. Gerakan pendidikan entrepreneurship agak tersendat. Usaha keras yang dilakukan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) sudah cukup kreatif. Contoh ada pada Teaser IEC ITB. Tapi, para pengusaha yang dihasilkan masih sedikit jumlahnya. Salah satu sebabnya adalah, mendapat pekerjaan dengan gaji tinggi tidak sulit bagi alumni kampus ini. Jadi, faktor keterpaksaan agak sulit ditemukan pada mereka. Wajar, engga perlu menunggu lama, sudah bisa mendapat penghasilan yang lumayan. Bisa mencicil rumah, bisa melamar pacar, lalu menikah dengan resepsi yang lumayan mewah.

Intinya, menjadi enterpreneur memang tidak gampang. Salah satu cara shifting quadrant memang bisa lewat keterpaksaan. Tapi segala yang terpaksa jelas tidak enak di hati.

Meski keadaan tidak seburuk itu juga, nantinya. Karena kalau meminjam kata Pak Dahlan Iskan, “Makin cepat memulai maka makin cepat gagalnya. Maka akan semakin cepat juga berhasilnya.”

Untuk anda, haruskah mengalami keterpaksaan dulu baru menjadi entrepreneur?🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s