taktik sepak bola indonesia


ada ayahnya teman saya yang bilang, “nonton sepak bola indonesia itu bikin capek mata aja”. maksud beliau, bola bergulir dari kiri ke kanan layar televisi atau sebaliknya, tapi tidak ada hasil yang signifikan (gol, maksudnya). saya kira engga ada niat buruk dari pelatih dan para pemain, tentu mereka ingin menyerang, mencetak gol lalu menang.

tapi begini, serangannya itu lho yang sering mentah begitu saja. juru taktik di sepak bola indonesia perlu belajar banyak dari negara macem italia maupun negara eropa lainnya. italia memang terkenal dengan strategi bertahan ala grendel, tapi mereka engga cuma “parkir bus” di depan kotak penalti sendiri, mereka juga berusaha menurunkan tingkat penguasaan bola dari tim lawan. masuk akal sih, makin berkurang penguasaan bola lawan, maka kesempatan mencetak gol juga makin rendah.

tim belanda menganut prinsip strategi sepak bola yang sebenarnya relatif sama, tingkatkan penguasaan bola, untuk menghindarkan lawan mencetak gol. tapi bagaimana mereka mengejawantahkannya di lapangan jadi sedikit berbeda. mereka justru banyak menyerang dengan slogannya adalah “pertahanan yang terbaik adalah menyerang”. taktik tiki-taka yang diterapkan sepak bola Spanyol juga adalah melakukan penguasaan bola sebanyak-banyaknya. sedikit perbedaannya dengan Belanda adalah Spanyol melakukannya dengan ruang yang lebih sempit.

ini yang tidak dilakukan oleh sepak bola indonesia, setidaknya menurut saya. sepak bola indonesia tidak mengajarkan pemainnya untuk menguasai bola di lapangan. asal dapat bola, asal menyerang, lalu mencetak gol. kalau diserang ya, bertahan lalu rebut kembali. sesederhana itu. sebabnya adalah, main bola ga bisa pake otot  doang. tapi pakai otak juga, en bukan otak satu orang, alias kerja sama tim. di sini, konsentrasi semua pemain memegang peranan penting.

sebabnya berikutnya adalah, sepak bola tidak dimainkan dalam 30 menit, tapi 90 menit. ada faktor kelelahan yang mungkin mengurangi konsentrasi para pemain di lapangan, padahal pemain harus konsentrasi dalam menyerang maupun bertahan –kecuali mau fokus bertahan seperti chelsea kala melawan barcelona di liga champions 2011/2012 atau fokus menyerang seperti barcelona era Pep Guardiola.

karena tidak bisa mempertahankan bola dengan baik, jadinya tim sepak bola kita sering “kaget”. setelah berhasil merebut bola, belum benar-benar dikuasai secara tim, sudah langsung menyerang tim lawan. padahal, yang benar-benar siap baru para pemain yang sedang memegang bola saat itu. akibatnya, transisi bertahan ke menyerang jadi gagal dilakukan. pemain belakang/tengah terburu-buru memberikan bola kepada pemain depan yang belum siap menerima bola. akhirnya, serangan jadi gagal.

akibat yang lain: karena tim tidak menguasai bola dengan baik, maka peralihan menyerang ke bertahan jadi kacau juga. maksudnya begini, penguasaan bola yang baik akan menguatkan struktur formasi tim. tiap pemain akan tahu persis dimana harus berada, baik memegang bola atau tidak. jadi ketika tiba-tiba kehilangan bola, setiap pemain (sehingga tim juga) sudah siap untuk bertahan dan merebut kembali.

manchester united era Alex Ferguson sangat paham konsep ini. bahkan mereka “sengaja” memberikan ruang dulu bagi lawan untuk menyerang, tapi tetap dengan struktur formasi yang rigid dan sulit untuk ditembus. mereka siap untuk tidak memegang bola, maupun memegang bola.  akhirnya setelah bola direbut dari lawan, mereka siap untuk menyerang balik (secara cepat) dan mencetak gol. karena penguasaan permainan, tim ini dikenal dengan serangan baliknya yang cepat.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s