basis fans sepakbola


pagi ini, juventus FC baru saja ditasbihkan menjadi scudetto serie A italia, dengan tim favorit saya, AC Milan menjadi runner-up. Juventus hingga saat ini, belum pernah kalah, dengan seri sebanyak 15 kali dan 22 kali menang.

prestasi Juve ini melahirkan tentunya melahirkan fans-fans baru, yang tercengang dengan prestasi musim ini: masuk ke final Coppa Italia dan Scudetto Serie A. jadi memang bagaimana fans sepakbola lahir, itu biasanya mengiringi kesuksesan klub sepakbola. tidak hanya sekedar juara saja, tapi bisa juga juara beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir, atau pemain dari klub tersebut juga ikut menorehkan prestasi.

ambil contoh barcelona. sejak 2009, Pep Guardiola (yang akan pensiun di akhir musim 2011/2012 ini), menorehkan banyak gelar untuk klub FC Barcelona. mulai dari La Liga, Copa Del Rey, Juara Liga Champions Eropa, hingga juara di kejuaraan antar klub dunia. prestasi klub ini juga diikuti dengan Lionel Messi, yang semakin menjadi-jadi sebagai penyerang andal. bertubuh mungil, tetapi luar biasa dalam melakukan liukan-liukan maut. padahal, dia baru berusia 24 tahun.

tahun 2009 lalu, Cristiano Ronaldo memecahkan rekor pemain termahal dunia. harga yang harus dibayarkan saat itu oleh Real Madrid kepada Manchester United adalah 80 juta euro. banyak yang bilang, harga ini tidak masuk akal. baik dalam konteks, berapa seorang manusia seharusnya dibayar, dan bahwa masih banyak kasus-kasus kemiskinan di dunia ini. tapi, Madrid sebenarnya melihatnya dari sisi jumlah suporternya dan persebarannya di seluruh dunia. dan terbukti, investasi 80 juta euro tidak terlalu mahal. cukup setahun, dan penjualan jersey asli real madrid bernama punggung “ronaldo” mencapai angka 100 juta euro. mahal, tapi balik modal dan untung 🙂

fans sepakbola biasanya dididik sejak kecil untuk cinta kepada klub. beberapa klub membangun komunitas berbasis pemuda-pemudi kecil ini. pun, keluarga (ayah/ibu) juga mendidik anak-anak ini untuk cinta pada klub yang mereka dukung juga. selama prestasi tidak buruk-buruk amat, katakanlah klub mengalami degradasi ke divisi yang lebih rendah, klub pasti bisa mempertahankan bisnis modelnya berbasis fans yang sudah ada.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s