Dilema Mesin Pencari


yang pertama menemukan dan menggunakan mesin pencari itu bukan yang sekarang terkenal : google. bukan, bukan mereka. melainkan, yahoo! yang pertama. cuma, yahoo! jadi tertinggal untuk urusan relevansi. namun, sejak sergey brin dan larry page menemukan algoritma yang tepat untuk meningkatkan relevansi pencarian terhadap hasil pencarian, kualitas mesin pencari google makin mantap, dan makin digunakan oleh banyak orang.

kini, hampir semua orang menggunakan mesin pencari untuk menemukan sesuatu yang dia inginkan. sebutlah kaos futsal. dengan frase “kaos futsal”, dia menemukan banyak daftar laman web yang menjual “kaos futsal”. semuanya berurut dari atas ke bawah, dari halaman pertama hingga berikutnya. inilah yang namanya relevansi.

jadi, perusahaan google, berusaha menemukan kata-kata yang tepat, dan mengurutkannya sedemikian sehingga, yang paling atas muncul dalam hasil pencarian adalah yang paling diinginkan. yang paling diinginkan versi manusia entu sedikit sekali direpresentasikan oleh frase-frase yang dia ketikkan dalam mesin pencari. ini yang namanya relevansi, dan google terus menerus memperbaharui algoritma mesin pencarinya.

untuk bisnis, muncul teratas dalam mesin pencari tidaklah mudah. harus ada optimalisasi yang dilakukan, namanya SEO, search engine optimization. kabar burungnya, supaya meningkat dalam omzet, paling tidak harus muncul sebagai tiga besar pertama. kalau saya pribadi siy tidak sejahat itu, hehehe. saya akan membuka lima laman teratas, yang tertera dalam hasil pencarian. beberapa yang lain, akan mengecek semua hasil di halaman pertama. yang lainnya, mungkin sampai halaman ketiga. sisanya, mungkin tidak pernah dibuka oleh para pencari.

mesin pencari memang menguntungkan. memudahkan para pencari, dan memudahkan mereka yang ingin dicari. meski persaingan terjadi di antara mereka yang ingin dicari-cari :p

nah, keburukan mesin pencari juga ada. mesin pencari itu menumpulkan otak orang yang menggunakannya. yaiya, dong. si pencari jadi malas berpikir. karena semua keyword yang terbayang di kepala tinggal diketik, dan dilihat hasil pencariannya. pencari jadi malas berpikir, dan malas menganalisis. bila analisis yang diperlukan lebih mendalam, misalnya mencari asosiasi antar beberapa konten yang dia  dapatkan di internet, banyak pencari boleh dibilang : tidak menemukan apa yang dia cari :d

kabar terburuknya, saya pernah membaca suatu artikel bahwa suatu saat perusahaan penyedia mesin pencari akan mampu menyediakan algoritma hingga berdasar kebiasaan IP address dalam menggunakan keyword. artinya, seseorang yang rutin menggunakan IP address tertentu saja, akan memiliki pola pencarian tertentu. makin sempurna pola ini, maka makin kecil kemungkinan orang untuk menemukan apa yang TIDAK dia cari. ini bisa berarti “apatisme” model baru di internet🙂

tapi jangan cari tuhan dan iman di google. tuhan tidak benar-benar ada dalam jejaring internet dan iman adanya di dalam hati :d

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s