Model Bisnis Freemium


“free” secara sejarah akar kata, berasal dari kata “freedom”, artinya kebebasan. Sesuatu barang atau jasa yang “free” akan memberikan kebebasan bagi konsumen tetap atau calon konsumennya. “free” juga dapat kita sangkut-pautkan dengan “gratis”. Kalau “gratis” biasanya tetap ada harga yang harus konsumen bayarkan. Misalkan paket promosi : beli satu dapat dua. Harga yang dibayarkan sebesar satu, tetapi barang yang didapat adalah dua. Atau konsumen bisa berpikir sebaliknya, membeli satu dan mendapat satu lagi secara “free”.

Menonton siaran televisi di Indonesia adalah contoh model bisnis freemium yang paling klasik. Tinggal beli televisi dan antena, lalu membayar iuran listrik setiap bulan. Sederhana, ‘kan? Tidak perlu kita membayar apapun, bisa menikmati program yang kita sukai. Padahal, muncul pertanyaan klasik? Siapa yang harus mengeluarkan biaya atau membayar program-program tersebut. Iklan televisi-lah jawabannya. Jadi, pemirsa televisi bisa menyaksikan secara gratis, tetapi pemirsa televisi juga diharapkan untuk menyaksikan iklan-iklan yang muncul di tengah-tengah acara televisi.

Ini yang berbeda dengan luar negeri, terutama eropa dan amerika utara. Pemirsa disana sudah tidak mau menghabiskan waktunya berjam-jam di depan televisi. Mereka cuma mau menonton apa yang mereka ingin tonton, bila perlu mereka bersedia membayar. Termasuk agar tidak terganggu oleh iklan, di tengah-tengah acara.

Beda dengan beberapa aplikasi yang bisa kita unduh secara gratis di internet. Aplikasi ini gratis, dan perusahaan pengembangnya tetap bisa hidup. Bahkan terus tumbuh berkembang. Karena, mereka menyediakan aplikasi yang gratis kepada hampir semua pihak yang membutuhkan, tapi di sisi lain mereka juga menyediakan versi yang lebih rumit tapi yang membutuhkan lebih jarang, sehingga calon konsumen ini bersedia membayar lebih. Yang pakai berbayar cuma 5 orang, tapi itu cukup untuk menutupi biaya produksi yang muncul dari 5 orang yang pakai berbayar dan 95 orang yang pakai gratis. Kira-kira begitu perbandingannya.

Inilah yang disebut dengan “freemium”, ada versi “free” tapi ada versi berbayar. Dan bukannya rugi, tapi justru menguntungkan. Masih banyak contoh kasus freemium, dan semua model bisnis ini semakin menjadi-jadi sejak tahun 2000-an. Mengingat, digitalisasi segala produk (termasuk buku dan musik) membuat ongkos produksinya semakin murah, dan tentu saja bisa dijual sedemikian murah, hingga sampai pada tingkat harga jual “free”.

Sayangnya, kita begitu menganggap remeh segala hal yang bersifat “free” di sekitar kita. Karena kuantitasnya banyak sekali, kita cenderung untuk mensia-siakan barang atau material tersebut. Saya kira, bagaimana negara kita melakukan pengelolaan terhadap minyak bumi Indonesia, bisa menjadi contoh. Karena minyak bumi begitu melimpah, maka kita tidak berhati-hati dalam penggunaannya dan tidak mengantisipasi masa depan yang mungkin akan datang : bahwa minyak bumi akan habis pada suatu saat nanti.

One thought on “Model Bisnis Freemium

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s