Mitos Entrepreneurial


Mitos adalah isu-isu yang berkembang di masyarakat. Kenapa disebut isu, karena belum teruji kebenarannya. Isu ini bisa jadi benar-benar lahir karena memang begitu adanya, persoalannya adalah mengecek kebenaran isu memang sesuatu yang tidak mudah dilakukan.

Pun dalam entrepreneurship juga demikian. Mitos-mitos yang berkembang, lebih karena lingkungan dari calon entrepreneur tersebut. Mitos-mitos yang saya tuliskan di bawah ini, sebenarnya bisa dibantah ketika kita melihat dunia kita lebih luas. Mitos-mitos entrepreneurial tersebut di antaranya, adalah :

  1. Entrepreneur harus bodoh di sekolah/kampus, atau sekalian drop-out. Ini tidak benar, banyak yang sukses mendirikan usaha meski berlatar belakang master atau doktor sekalipun. Google adalah satu contoh usaha sukses yang didirikan oleh dua orang mahasiswa doktoral. Justru semakin dalam pemahaman calon entrepreneur akan usaha yang akan digelutinya (dilihat dari tingginya tingkat pendidikan), maka akan semakin baik pula kualitas porduk/jasa yang ditawarkan.
  2. Mitos kedua. Entrepreneur itu sulit hidup. Kalau usaha masih baru, dan hanya menggantungkan urusan hidup pada satu sumber pendapatan, yakni usaha itu sendiri, ini memang saat-saat hidup susah. Tapi, berbeda ketika usaha sudah mampu berjalan lebih dari 10 tahun. Pemilik usaha pastinya sudah tahu persis bagaimana operasional bisnis dijalankan, serta mulai memahami karakteristik konsumen. Justru mereka yang berkarir sebagai entrepreneur, di usia-usia mapan, ternyata relatif lebih sejahtera dibanding kawan seangkatannya dulu di sekolah/kuliah.
  3. Entrepreneur itu yang penting tindakan nyata. Ini tidak sepenuhnya benar, karena beberapa tipe entrepreneur ada yang sangat perhitungan. Baik terhadap aliran kas usahanya, strategi permodalan, strategi pemasaran, dan lain sebagainya. Dan justru kemampuan perhitungan itu yang penting, karena akan memaksimalkan potensi pendapatan dan meminimumkan risiko.
  4. Uang adalah mutlak dalam pengembangan bisnis. Tidak, justru sebaliknya. Yang penting adalah kemampuan menumbuhkan aset. Dalam konteks penumbuhan aset, dari 100 juta menjadi 200 juta adalah sama dengan 0 rupiah menjadi 100 juta rupiah. Justru banyak usaha bermula dari tidak punya modal dan tidak punya barang, alias menjadi makelar saja. Setelah beberapa waktu, baru usaha tersebut mampu membeli aset.

 Demikian, mudah-mudahan artikel ini bermanfaat🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s