menyoal transportasi kita


mulai darimana ya? hehehe😀 terlalu kompleks en banyak yg bisa diceritakan soalnya. ini bukannya tidak mau bersyukur ya, tapi yg jelas, dari dulu mpe sekarang banyak masalah aja di bidang transportasi kita. entah siy, di negara lain seperti apa. ayo, kita mulai🙂

1. bahan bakar minyak. berapa sebenarnya harga bahan bakar minyak yg pas? di negeri ini, harga seliternya pernah lebih murah daripada harga air mineral versi pemimpin pasar. ga masuk akal bagi saya. koq bisa-bisanya harga bensin lebih murah daripada air mineral? apa masyarakat yang berlebihan menghargai air dalam kemasan, atau bensin yang disubsidi hingga terlalu murah?🙂

persoalan harga jual ke konsumen akhir ini memang agak jadi masalah. masalah karena, harga produksi dan harga distribusinya dirahasiakan oleh BUMN yang bersangkutan, dan oleh pemerintah (atau institusi yg mewakilinya)  jadi mau didebat terlalu mahal atau terlalu murah (disamping faktor pembelinya memang mampu atau tidak mampu), sulit juga. karena proses dan angka-angkanya sendiri tidak transparan.

persoalan berikutnya ada di hulunya. produksi dari dalam negeri kita seret sekali. sudah yang keluar dari tanah atau laut sendiri dan bisa diakui hak milik hanya sedikit, karena sistem bagi hasilnya terlalu merugikan bagi kita. iya sih, dapat 80% dari minyak yg dihasilkan, tetapi cost recovery-nya terlalu mahal. bisa dibilang percuma mendapat bagian sebesar 80%. lagipula, kapasitas kita untuk menyuling minyak  mentah jadi berbagai macam BBM juga relatif rendah. jumlah dan tingkat teknologi dari kilang yg ada terbatas, sehingga ada minyak mentah yg terpaksa kita jual dulu, baru kita beli kembali dalam bentuk BBM-nya. kasihan..🙂

repotnya lagi, rekan saya bilang, berdasar referensi salah seorang pengusaha yg juga politisi, 90% urusan energi adalah urusan politik. cuma 10%-nya yg urusan teknis. mau bisnis di energi? politik anda mesti kencang juga berarti.. hehehehe😀 terbukti, adalah anggota keluarga dari politisi, yg mendapat rezeki proyek pengadaan infrastruktur konversi minyak tanah menjadi gas skala rumah tangga🙂

2. kemacetan

rencana tata ruangnya sebenarnya sudah ada. hanya saja, disiplin untuk mengikutinya yg masih sangat kurang. bagaimana disiplin pejabat pemerintahan setempat saja, biasanya. terserah beliau mau menuruti apa tidak. masalahnya, beliau-beliau seringkali tergoda oleh bujukan pengusaha-pengusaha properti yg ingin membangun mall, perumahan atau komplek perkantoran. kabarnya, kalau  gubernur DKI yg sekarang terpilih dan akan menjabat lagi untuk periode berikutnya, maka tahun ini paling tidak akan berdiri sebanyak 14 (empat belas) mall lagi di DKI Jakarta😀

berikutnya, adalah kendaraan yg terlalu banyak. sebenarnya, yg mau beli kendaraan tidak bisa dilarang. mampu beli kendaraan itu kan manifestasi dari kesejahteraan meningkat, ingin efisien dalam duit dan waktu, lalu pamer gengsi kepada tetangga dan sejawat. seperti kata pak Meneg BUMN saat ini. jadi, orang tidak bisa dilarang membeli kendaraan bermotor. seharusnya,  yg bisa dilarang adalah sisi penjualnya. masalahnya, para penjual ini pintar sekali. pertama,  mereka jual dengan cara kredit, dibantu oleh perusahaan pembiayaan. ringan kan? jadi bisa dipakai untuk biaya yg lain-lain.  kedua, uang muka yg relatif rendah. dulu, 50ribu rupiah bisa bawa sepeda motor ke rumah. alhamdulillah kini, uang muka minimal 20%-30% dari harga total. alhamdulillah ya, ini sesuatu untuk mengurangi macet🙂

transportasi massal  kita juga belum maksimal. pertama,  masih sangat bergantung pada BBM. padahal kalau bukan mulai dari transportasi massal yang energinya bukan dari BBM, rasanya masih berat untuk memulai dari kendaraan pribadi. kedua, transportasi umum kita seringkali tidak terlalu massal. hehehe😀 maksudnya begini. ada transport umum yg namanya angkotan kota. tapi seringkali kapasitasnya masih kecil. maksimal muat 12-14 orang. jatuhnya, harga sewa angkot ini masih mahal dibanding yg benar-benar massal. lebih baik bayar DP (down payment) 50ribu rupiah, lalu bawa pulang sepeda motor ke rumah. toh, BBM-nya juga masih murah karena mendapat subsidi. hehehe😀

ide saya, kalau mau transportasi massal, sekalian saja yg benar-benar massal hingga ongkosnya bisa sangat murah untuk tiap penumpangnya. misalnya: kereta, busway kapasitas maksimal 100 orang (termasuk yg berdiri), monorail, dan lain sebagainya. konsekuensinya, dalam jarak yg tidak terlalu dekat, masyarakat harus jalan kaki. keadaan sekarang kan, bisa saja naik angkot, naik dimana saja dan turun dimana saja dengan harga yg relatif terjangkau. tentang jalan kaki, saya yakin masyarakat sebenarnya mau berjalan. lebih sehat dan sekalian olahraga, katanya. yang penting, bagaimana jalur trotoar tersebut adalah teduh, tidak dipakai untuk parkir, dan jadi jalurnya sepeda motor.

apalagi soalan/masalah transportasi kita? hehehe😀 udah cukup banyak, kita sudahi dulu. saya tidak mau membebani pikiran anda. heheheh😀

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s