Media Sosial untuk UKM


#SocMed4UKM

beberapa waktu lalu, kami diskusi dengan klien. menurut dia, tidak ada alasan untuk tidak terjun dan bergabung di social media. tidak ada alasan sama sekali. kami setuju. diskusi bersama klien itu kemudian melahirkan tulisan ini. dan mudah-mudahan anda yang membaca tulisan ini jadi tergugah untuk ikut bergabung di social media.

Social media mesti dipandang sama seperti teknologi komunikasi/marketing yg lain. Yakni sama-sama media. Yaitu channel untuk berkomunikasi dengan target market.

Ingat, bagaimana televisi/radio dari hanya alat broadcast berita lalu berubah menjadi pengiklan fast moving consumer goods (FMCG). Wajar, tadinya cuma penyebar berita. tapi karena informasi (berita/hiburan) semakin diminta, maka teknologinya pun juga mengalami demand yang dahsyat. Harganya pun semakin terjangkau seiring dengan produksi massal dan meningkatnya pendapatan calon pembeli teknologi tersebut. Ini yang terjadi dengan televisi dan radio.

Cerita ini berlanjut ketika pengguna televisi/radio kemudian menjadi target komunikasi dari perusahaan/brand. Maka bermunculan iklan di televisi/radio di sela-sela informasi yang disiarkan. Dari sini juga lahirnya industri periklanan: industri yang menyediakan jasa pembuatan iklan atas permintaan pemilik produk/jasa lalu menyalurkannya hingga ke saluran komunikasi yang tepat. Sekarang industri iklan terbagi dua, ada yang menjadi creative content creator-nya, ada juga yang menjadi strategic planner-nya.

Jadi, teknologi komunikasi memang teknologi yg rumit, tapi dalam konteks marketing, yg penting adalah people-nya. Sekali lagi ya, “manusia”-nya. Karena teknologi komunikasi menghubungkan antara manusia yang satu dengan yg lain. Yang biasanya dgunakan untuk marketing adalah yang bersifat one way, alias broadcasting. Yaitu dari pemasar kepada calon pembeli.

Hanya, bedanya pada teknologi komunikasi yang bernama social media ini, sifatnya bukan broadcast, melainkan do the conversation. Alias “ngobrol” atau “diskusi”. Two way communication. Nah, ini yang mesti diketahui dan dimanfaatkan. Implikasinya apa? Bagaimana berkomunikasi itu menjadi isu penting dalam social media. Bagaimana berbicara, mendengarkan, memberikan tanggapan balik, dst.

Bagaimana berkomunikasi ini menjadi tantangan biasa bagi perusahaan berorganisasi dan beraset besar. Istilahnya, tinggal bentuk tim utk mengerjakannya saja. Bekerja sambil belajar berkomunikasi dengan pasar. Sambil meningkatkan efektifitas dan efisiensinya.

Tapi berbeda bila memandang cara berpikir UKM. Seringkali disebabkan kapasitas organisasi, penyediaan SDM untuk social media menjadi hambatan. Siapa yang harus direkrut, atau siapa yang harus melakukan, dan bagaimana melakukannya. Padahal tidak hanya yang baru masuk dan menggunakan, melainkan hampir semua perusahaan, bahkan individu, merasakan social media adalah belantara media yang terus menerus berkembang dan wajib untuk terus dipelajari.

Aplikasi bertambah kian banyak. Aplikasi kian bertambah mobile. Teknologi hardware-nya pun semakin banyak dan semakin. Ada smartphone, ada tablet. Muncul pula jenis-jenis social media yang baru. Social media user juga kian bertambah. Yang terakhir, mengindikasikan bahwa social media user masih akan growth dalam beberapa tahun ke depan.

Simpulannya adalah, tidak ada alasan utk tidak ber-social media. Bila profit tergerus, lantas pindah ke social media? Rasanya itu bukan alasan. Karena, terbukti ada yang tidak menjadikan social media sebagai alat penjualan. Hanya sebagai alat untuk ngobrol saja. contohnya akun twitter @my_supersoccer. Ini akunnya djarum super, tapi obrolannya bola. Ya sepak bola saja. Rokoknya belum tentu terbeli, omzet belum tentu naik. Ya hanya sekedar ngobrol saja. Minimal mereka diingat dan produkny direferensikan.

Jadi, tidak selamanya komunikasi pemasaran ditujukan untuk mencapai target market semata, yang dilakukan untuk meraih omzet dan profit. Ada kalanya komunikasi pemasaran dilakukan hanya untuk mempertahankan mind-share pelanggan dari ekspansi kompetitor. Minimal, alasannya sangat sederhana: menjadi referensi pertama bagi target market untuk dibeli oleh diri mereka sendiri, koleganya atau keluarganya.

Ciri khas teknik pemasaran ini, yang diekspresikan oleh karakteristik teknologinya adalah teknik ini relatif jauh lebih murah ketimbang metode-metode konvensional. Bahasa kerennya “low budget, high impact”. Ada dua konsekuensinya. Konsekuensi pertama adalah tidak sulit untuk memasukinya, karena investasi awalnya relatif murah dan biaya pemeliharaannya juga murah.

Konsekuensi pengikutnya adalah kompetitor juga dengan mudah menggunakan social media sebagai saluran komunikasi pemasaran. Imbas lainnya, begitu mudah untuk membangun bisnis. Sehingga kompetitor berambah begitu cepatnya. Karena menjalankan komunikasi pemasaran relatif murah, selama ada internet, tinggal gunakan social media saja🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s