Bukan Kacamata Kuda


Saya bingung, saya akan menulis apa, ketika saudara saya, Ridwansyah Yusuf Achmad meminta sedikit tulisan dari saya untuk buku terbaru dia : Bukan Kacamata Kuda.

====================================================================================

  1. Apa mimpi terbesar kamu ?
  2. Bagaimana kamu menyiapkan mimpi kamu ?
  3. Adakah penghambat mimpi kamu ? apa saja, ceritakan ?
  4. Pernahkah kamu gagal mengejar mimpi ?
  5. apa yg kamu lakukan ketika gagal ?

Mimpi terbesar saya? Menjadi pemilik usaha bisnis. Kalau ada yang tanya kenapa, karena saya yakin itu adalah jalan terbanyak yang dapat memberi manfaat bagi orang lain. Toh, 9 dari 10 pintu surga adalah untuk para pengusaha, itu yang saya yakini. Selain itu, mimpi ini yang selalu jadi pikiran saya menjelang tidur, ketika senggang, di akhir pekan, dan ketika sedang bengong di angkotan kota J Jadi, kenapa tidak jadi pemilik usaha?

Yang namanya bisnis itu, bukan hari ini jualan buku, besok jualan makanan, lusa jualan pakaian. Yang semua barang itu, beda-beda banget. Engga, itu bukan berbisnis. Bisnis itu adalah hari ini jualan sate, besok berharap sate masih laku, dan hingga seterusnya berharap sate masih disukai orang dan kita tidak gulung tikar. Itu baru namanya bisnis. Jangka panjang. Kalau jualannya cuma hari ini aja, itu bukan bisnis namanya.

Jadi? Ya saya siapkan diri. Bisnis itu dijalankan dengan manajemen dan organisasi. Makanya saya belajar dan lakukan keduanya. Bisnis itu dijalankan dengan bantuan jejaring sosial. Makanya saya berusaha berteman sebanyak-banyaknya dan mempertahankan pertemanan itu. Sambil berharap mereka jadi partner bisnis, atau jadi pembeli. Terus apalagi? Intinya, saya siapkan semua yang kira-kira akan saya butuhkan.

Bagi saya, bisnis itu bukan cuma urusan jual-menjual besok dan seterusnya. Bisnis itu juga harus bisa menghidupi kita dan orang lain yang jadi karyawan dan partner kita.  Masalahnya, bisnis itu butuh persiapan sebelum pelaksanaan. Ketika persiapan dan awal pelaksanaan, bisnis bahkan cenderung menyedot biaya tanpa memberikan timbal balik untuk kita makan hari ini. Jadi, jangka pendek pun sudah ada masalah dari yang namanya bisnis. Bagaimana cara yang cepat supaya hari ini bisa makan? Kerja sama orang? Akan engga punya bisnis, dong. Nah ini yang contohnya penghambat mimpi.

Penghambat mimpi yang lain, apalagi? Apalagi kalau bukan dari sekitar kita. Ya orang-orang terdekat kita. Orang tua kita, teman dekat kita, tetangga kita. Pendek kata, semua yang dekat dengan kita. Misal, kita pengen jadi kontraktor konstruksi gedung pencakar langit, atau pengembang perumahan. Tapi ternyata, orang tua kita menghendaki kita jadi dokter. Biar duitnya banyak, kata mereka. Nah, yang seperti ini yang namanya penghambat mimpi J

Saya juga pernah gagal mengejar mimpi. Dulu, saya bercita-cita jadi insinyur teknik kimia. Belajar fisika dan kimia, terus menjadi sarjana yang kesibukannya membangun kilang-kilang pengolahan minyak bumi. Atau membangun pabrik pupuk, atau pabrik bahan kimia yang lain. Tapi saya gagal. Sempat patah arang, sih. Tapi cuma sebentar. Cuma sampai perkuliahan dimulai. Setelah itu? Ya hidup harus jalan terus. Life must go on, and I have to go on.

Kata saya, tidak ada orang yang terus-menerus berhasil. Kalau kita definisikan gagal itu sebagai tidak tercapainya yang kita rencanakan/harapkan/cita-citakan, saya yakin kegagalan kita itu sama banyaknya dengan keberhasilan kita. Orang yang di mata kita tampak berhasil, atau sering berhasil, pasti dia juga punya jumlah kegagalan yang sama banyaknya. Pertanyaan untuk kita cuma ada dua : seberapa banyak kita mencoba/berusaha, dan seberapa banyak kita belajar dari pengalaman kita dan orang lain?

Yang saya lakukan ketika gagal adalah bangkit lagi. Tapi engga langsung bangkit juga koq. Kan ada masa-masa galau dan penggalauan J Kita kan manusia, bukan robot yang engga punya perasaan. Jadi, bangkitkan semangat dulu. Ikuti seminar-seminar. Bergaul sesama orang yang pernah gagal. Karena saya orangnya sistematis, sesuai kata teman-teman, sambil curhat dan bergalau-ria, saya diskusi sama teman. Kira-kira sebab kegagalan saya apa nih? J

Habis itu saya coba buat evaluasi. Sebab gagalnya apa, kira-kira seharusnya bisa terprediksi kegagalan itu pada saat kapan? Ini supaya jadi pelajaran, dan tanda-tanda itu sudah kita kuasai. Habis itu? Buat perencanaan kembali. Yang lebih matang tentunya. Apa yang dikerjakan, kapan dikerjakan, siapa yang mengerjakan, dan seterusnya. Habis itu baru eksekusi, alias dilaksanakan. Yang jelas, jangan lupa kontrol/kendali dan evaluasi. Ini bagian dari usaha/ikhtiar. Kalau sudah begini, jangan lupa berdoa. Berharap sama Tuhan. Minta do’a kepada Tuhan supaya dikabulkan. Kadang kala, yang diberikan sama Tuhan, engga sama persis dengan yang kita minta. Tapi ternyata, yang diberikan sama Tuhan itu, adalah yang benar-benar kita butuhkan.

Sebenarnya, kalau kita punya mimpi, yang kita butuhkan hanya satu, untuk awal : langkah kecil ke arah yang tepat. Small step at the right direction. Semakin besar mimpi kita, maka semakin besar usaha yang harus kita lakukan. Ini berdasar pengalaman saya. Dan itu dia, yang penting bukan perencanaan sampai matangnya. Begitu besarnya mimpi kita, sehingga yang paling penting adalah kita harus sudah memulai sejak sekarang. Ibaratnya negara yang mau merdeka, yang penting umumkan/proklamasikan dulu saja kemerdekaannya. Hal-hal lain bisa menyusul, dalam tempo sesingkat-singkatnya. Betul begitu ‘kan pelajaran dari proklamator kita? J

Itu untuk di awal, habis itu, bawa rencana dan eksekusinya ke dalam setiap aktivitas kita. Nikmati maju mundurnya perjalanan. Rasakan keberhasilan dan kegagalan setiap aktivitas yang ada, baik terencana ataupun tidak. Bawa ke dalam kamar tidur dan bayangkan sebelum tidur. Ketika bangun, ingat lagi, kerjakan lagi, rencanakan lagi. Terus begitu hingga kita akan masuk kamar tidur lagi. Seperti novel yang pernah saya baca, seakan-akan semua mimpi kita itu hanya 5 cm di depan kening kita. Hingga kita terus melihatnya setiap saat lalu mengejarnya setiap saat. Terus begitu, hingga kita suatu saat nanti sadar, bahwa yang terjadi dan terwujudkan saat ini, tidak jauh berbeda dari yang pernah kita bayangkan (baca :visi-kan)dan kita do’akan di setiap detik kita.

Kalau kata almarhum Steve Jobs, inovator 3 “i” : iPod, iPhone, dan iPad, hidup kita cuma sekali, jangan mengisinya dengan mengejar mimpi orang lain. Saya dedikasikan tulisan dan semangat ini, kepada kamu semua, yang punya mimpi besar dan usaha keras untuk mewujudkannya J

Salam sukses, Ikhwan Alim.

One thought on “Bukan Kacamata Kuda

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s