Orang-Orang idealis


ideal. berawal dari kata ide. jadi “sesuatu” yang lahir dari dalam pikiran. bukan dari luar pikirannya.

orang-orang idealis punya ide. yang punya banyak ide itu adalah orang yang belajar. tidak harus dari sekolah/kampus, tapi orang yang belajar dan berpikir dari mana saja. termasuk lingkungannya. sekitar dia atau global di luar sana. orang-orang yang belajar, punya kapasitas untuk memproduksi ide. mungkin ini yang namanya idealis.

klo kata pramoedya ananta toer, “seorang terpelajar itu harus adil, sejak dalam pikiran”. orang yang terpelajar itu berarti orang yang sudah belajar. klo asumsi sebagian besar orang, yang terpelajar/pintar adalah mereka yang sudah sekolah/kuliah. kalau perlu, mereka yang sangat terpelajar itu adalah mereka yang sudah jadi profesor.

ahmad wahib, dalam salah satu tulisannya, menyatakan bahwa ada perbedaan mendasar antara ilmuwan sosial dengan ilmuwan sains. diskusi yang berisikan para ilmuan sosial akan penuh dengan acungan tangan, pendapat yang begitu beragam, disertai dengan keukeuh-nya pendapat para ilmuwan tersebut untuk meyakinkan orang lain. berbeda dengan diskusinya para ilmuwan sains. yang berpendapat sedikit, mereka mencari kebenaran, bukan pemahaman dan keyakinan dari ilmuwan yang lain. beliau menyatakan ini tentu tidak dengan maksud merendahkan yang satu sambil meninggikan yang lain. tapi perbedaannya bukan cuma dalam ilmu, tetapi juga dari segi mental:

Para pure natural scientist seperti ahli-ahli Fisika dan Kimia langsung berbicara dengan ciptaan Tuhan. Karena itu merekalah yang paling makin merasa tidak tahu dan paling makin merasa banyak yang  tak diketahui. Selangkah mereka lebih maju dalam penyelidikan dan pengetahuannya, lima langkah horison ilmu pengetahuan itu lebih meluas dan itu harus pula diketahuinya. Horison ilmu pengetahuan makin jauh. Yang ingin dicapai makin jauh. Karena itulah para ahli fisika, kimia, matematika adalah orang-orang yang paling mengetahui keterbatasan akal manusia, walaupun mereka itu yang paling banyak mempergunakan akal.

Hal seperti ini tidak dialami oleh “sarjana-sarjana” sosial, eekonomi, politik. Mereka akan sangat percaya pada akalnya, kagum dan silau akan kemajuan sains dan teknologi buah karya natural scientist. Natural scientist sendiri tak silau dengan karyanya. Itulah sebabnya, para ahli fisika, kimia dan matematika adalah yang paling potensial sebagai pengabdi Allah, sedang para ahli ekonomi, sosial, politik adalah yang paling potensial sebagai pemberontak terhadap Allah.

ide dan idealisme di antara keduanya tentu berbeda. yang satu merasa tidak punya ide apa-apa, karena hanya menginterpretasikan dari fakta di lapangan — yang nyata-nyata diciptakan oleh Sang Pencipta. yang satunya, punya banyak ide, terutama untuk menyelesaikan berbagai problema di masyarakat. paham ke-ideal-an / idealisme juga tidak sama. yang satu berpikir, yang ideal hanya Tuhan, kita hanya bisa berusaha mendekati kesempurnaan itu, tetapi tidak akan pernah menjadi sempurna. yang lain, berpikir mewujudkan yang ideal itu bisa, meski tidak mudah. secara teori dan akal pikiran, itu bisa diwujudkan. satu contoh: mewujudkan demokrasi di tengah-tengah keterbatasan pengetahuan masyarakat akan calon wakil rakyat dan calon pemimpin daerah/negara.

keduanya, masuk dalam orang-orang idealis. anda, masuk orang idealis yang pertama, atau yang kedua?🙂

2 thoughts on “Orang-Orang idealis

  1. Wah, ini kalau dibaca oleh sarjana atau mahasiswa ilmu sosial, bisa pada tidak terima😀

    Hanya ingin bertukar pikiran saja, bahwa kedua ilmu tersebut, sains dan sosial adalah “Penting” status. Penting dalam artian keduanya dibutuhkan untuk memfungsikan pengetahuan ke dalam aspek yang memperadabkan manusia itu sendiri.

    Memang, ilmuwan sains cenderung lebih “pakar” dibanding ilmuwan sosial, tetapi itu lebih kepada sains yang memang mengenal keterbatasan dan memang sengaja untuk membatasi diri dengan segala ukuran yang dibuat. Keterukuran inilah aspek yang dengan jelas membedakan antara ilmu sains dan ilmu sosial.

    Hanya saja, ilmuwan sains yang mampu mempraktekkan ilmu sosial, adalah manusia yang memiliki peluang terbesar untuk membangun peradaban Homo sapiens, kenapa ? Karena secanggih apapun penemuan yang dihasilkan, pada akhirnya, di tahapan implementasi, akan berhadapan dengan manusia lain, yang belum tentu sepakar dengan dia, tapi memili sumber daya lain yang juga dibutuhkan demi keterwujudan penemuan tersebut, bisa berupa dominasi kapital, kekuasaan politik, atau kekuatan militer.

    Apakah ada tokoh yang semacam itu, banyak, dan memang harus ada, karena merekalah yang diharapkan mampu menjembatani antara dunia purwa rupa di laboratorium dengan dunia nyata di masyarakat manusia, manusia- manusia yang tidak terjebak dalam suasana “Arogansi Epistemik”.

    Begitu…

    Suka

  2. Persis seperti yang aku pikirkan juga kak. Dari pengamatanku di sini, orang-orang yang waktu kuliahnya banyak berkutat sama pemahaman untuk mencari tahu mengapa manusia berpikir begini, mengapa bertindak begitu, dengan menafikan unsur pencipta di dalamnya, akan jadi sosok yang “keras”.

    Sebaliknya orang-orang yang waktu kuliah banyak mempelajari ilmu kesehatan, biologi dan fisika, justru belajar kalau memang ada yang sengaja menciptakan dan mengatur kehidupan. Jadi mereka lebih fleksibel dan tahu diri..

    Yah sayangnya agak jarang ketemu yang bertipe kedua di sini,,

    Suka

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s