K.O.M.U.N.I.T.A.S


katanya, manusia adalah makhluk sosial. adakalanya, kata saya. adakalanya sosial, adakalanya egois luar biasa. manusia-manusia perkotaan memang lebih egois ketimbang manusia pedesaan, yang cinta akan kekeluargaan dan senang berkumpul, menghindari konflik. lebih mementingkan cita-cita bersama, ketimbang cita-cita pribadi. kalau ada lagu dari Slank Band dulu, katanya, makan ga makan asal kumpul. yang penting kumpul, ceunah (baca: katanya) 🙂

manusia berkumpul dengan seharusnya dia berkumpul. manusia dilahirkan melalui rahim manusia. setelah pembuahan antar dua manusia. dan manusia kecil tersebut, kemudian terjebak untuk berkumpul dengan dua manusia yang jauh lebih dewasa. bila beruntung, dia bukan yang pertama, dan dia sudah punya saudara/saudari yang sedikit lebih tua dibanding dirinya.

nah, kemudian. sedikit-banyak, manusia kecil ini, yang belum dewasa dan belum waktunya untuk tinggal jauh dari orang tua, kemudian merasa wajib untuk berkumpul dengan keluarga. entah saat makan, jalan-jalan, kerja bersama, dan seterusnya. anak manusia ternyata memiliki kewajiban berkumpul dengan manusia lain, yang tidak bisa tidak, dia tidak pernah memilihnya sama sekali. tiba-tiba, ditakdirkan oleh Tuhan untuk mendapat keluarga seperti yang dia miliki sekarang 🙂

manusia yang sedikit lebih dewasa, kemudian diberikan kesempatan untuk bergaul lebih luas. bermain bersama tetangga, dan belajar di sekolah, bersama anak-anak kecil yang lain. manusia memilih pergaulan, karena dia melihat ada yang cocok dan ada yang tidak cocok dengan dirinya. ada anak yang nakal, ada anak yang baik. anak yang baik, selalu di-bully oleh teman-teman yang lain, yang lebih nakal. anak-anak kecil, lalu mulai memilih dengan siapa dia bergaul. di lingkungan rumah maupun di sekolah. manusia semakin selektif dalam memilih dengan siapa dia berteman 🙂

manusia sudah punya pilihan. karena manusia sudah lebih selektif dan sudah mengenal dirinya lebih baik. sudah pernah sekolah, 12 tahun bila beruntung. sudah kenal lingkungan sekitar rumah. bagi yang beruntung, pernah kuliah sekitar 3-4 tahun. buat yang sudah bekerja, teman menjadi lebih bervariasi lagi. ada teman yang sekedar bekerja mencari nafkah. ada yang tulus ikhlas menganggap bekerja adalah ibadah. ada juga yang bekerja sekedar mencari posisi dan jabatan yang lebih baik. mereka yang pekerja, bisa melihat mana yang politik kantor dan mana yang bukan. manusia semakin selektif dan bergabung dengan yang mereka suka 🙂

semakin mengenal manusia dan lingkungan, manusia lalu memilih mana yang benar-benar mereka suka. bukan sekedar untuk mencari uang, mencari teman curhat, tapi mencari manusia lain yang benar-benar sama dengan mereka. mencari kelompok yang menerima diri mereka apa adanya. biasanya, dari hal-hal yang membanggakan diri mereka.

atas dasar kesamaan, manusia membentuk komunitas. sesekali berkumpul, tatap muka, menghabiskan waktu bersama. bukan di waktu bekerja, bukan di waktu bersama keluarga. manusia-manusia ini nyaman bersama komunitasnya. hormonnya menggelegak, otaknya semakin tidak bisa dikendalikan. karena, mereka merasa nyaman. apapun yang dilakukan oleh kelompoknya, mereka ingin selalu ada disana. bergabung bersama kelompoknya. apapun yang dilakukan oleh kelompoknya. ketika otaknya sudah tidak bisa membedakan lagi mana yang benar, mana yang salah. mana yang nyaman dan benar, tapi mana yang nyaman lagi salah. manusia kemudian semakin membenarkan apa yang dilakukan kelompoknya. salah atau benar menurut akal sehat, tidak masalah bagi mereka. mereka menganggap semuanya benar, asal tetap bersama kelompoknya. orang lain yang mereka anggap salah.

komunitas yang kehilangan akal sehat, membenarkan dan membela kelompoknya. geng motor termasuk jenis komunitas ini. makam di tanjung priok, yang membela tuan tanahnya, melawan aparat sipil, juga termasuk komunitas ini. apapun yang dilakukan oleh komunitasnya, tidak bisa lagi mereka bedakan benar dan salahnya. mereka akan mendukung komunitasnya, tidak peduli benar atau salah komunitas tersebut!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s