transportasi (II)


sudah lewat dari tengah malam. ini sambil menanti laga el clasico jilid I di musim 2011/2012 ini. tepatnya sekitar 3 jam 15 menit lagi.

izinkan saya melanjutkan tulisan kemarin.

sebenarnya, dunia ini punya kecenderungan untuk selalu lebih baik dari waktu ke waktu. termasuk pendapatan dan daya beli masyarakat. nah, ini juga yang kemudian mempengaruhi industri transportasi kita. karena ini adalah kabar baik untuk industri penerbangan.

kini kebanyakan orang suka bepergian. yang penting perginya, bukan fasilitas saat perginya. mau bersempit ria di pesawat, tidak masalah, asal dapat tempat duduk. ga dapat nomor kursi waktu check-in, ga masalah. yang penting duduk, sekalipun harus berebut seperti naik busway di jakarta. yang jelas, orang kini lebih senang bepergian yang cepat dan waktu relatif singkat, memakai pesawat terbang.

konsep ini, setahu saya bukan yang pertama kali diterapkan oleh Air Asia. tapi sudah diterapkan lebih dahulu oleh maskapai Jet Blue, di Amrik sono. jadi, mereka menerapkan tarif murah, terbang dari bandara kelas dua di tiap kota, dan yang penting pengelolaan rute yang profitable. konsep ini namanya, Low Cost Carrier (LCC).

tapi, tapi, tapi. negara juga ingin punya pride tertentu juga dalam industri penerbangan. makanya Garuda Indonesia tetap didukung penuh oleh pemerintah, terutama Kementerian BUMN. harga tiket dibuat mahal, pelayanan dibuat oke punya, meski harus menanggung rugi. tidak masalah, demi gengsi dan citra penerbangan Indonesia yang bagus di mata asing (Garuda punya beberapa rute di luar negeri).

masih di tahun ini, sempat tersiar kabar menarik dari Garuda : kerugian selama 6 bulan, tertutupi hanya karena mudik lebaran 2011. kabar menarik lain di tahun ini: pilot Garuda mogok terbang, minta kenaikan gaji.

lanjut lagi ke LCC. Lion Air juga menerapkan LCC. tapi tidak peduli sama yang namanya pelayanan. jam yang tertera di tiket, adalah jam penumpang memasuki pesawat. berbeda dengan Garuda, dimana jam tiket adalah jam terbang, jadi sudah masuk pesawat 20 menit sebelumnya. Lion Air, tidak ada makanan minuman dalam pesawat. yang ada justru dagangan merchandise Lion Air di atas pesawat.

oiya, maskapai ini tidak takut kehilangan konsumen. karena rute dan armadanya, besar sekali. ada beberapa penerbangan rute balikpapan-jakarta (bolak-balik) dalam sehari. mereka tidak akan bermasalah, seandainya saya tidak ingin naik pesawat mereka. karena, masih ada ribuan penumpang yang ingin menaiki pesawat mereka, pada harga murah, dengan alternatif pilihan jam dan hari manapun. sekalipun harus was-was akan kemungkinan penundaan jadwal terbang.

berbeda sedikit (atau banyak?) dengan Air yg lain: Sriwijaya Air. hanya ada satu penerbangan ke/dari balikpapan setiap harinya dari/ke jakarta. dengan perhatian pramugari yang lebih baik. tapi tampaknya kurang dilirik oleh penumpang balikpapan-jakarta. karena alternatif waktu yang cuma satu macam setiap harinya.

simpulan saya, memasuki industri penerbangan jadi berat. diferensiasi yang kuat semisal best value for money, layanan pramugari yang optimal, dan lain sebagainya, ternyata tidak cukup kuat jadi strategi memenangkan pertarungan di pasar yang berdarah-darah (dimana konsumen akan memilih harga paling rendah). yang diperlukan mungkin keberanian, untuk berinvestasi pada rute yang banyak, jadwal yang banyak, serta pesawat yang banyak šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s