Bicara Transportasi


kali ini saya coba menulis tentang transportasi.

belakangan, saya memang membuat tulisan dengan cara mengambil satu kata saja. kemudian mengeksplorasi habis-habisan kata tersebut berdasar pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki. jenis tulisan seperti ini memang selalu menarik untuk dibaca, terutama karena ada perspektif waktu yang kental dalam tiap bahasannya.

nah, tentang kapal laut. saya tinggal di kalimantan, dan 2-3 kali seumur hidup, saya pulang kampung ke kampung halaman orang tua saya di sulawesi. naik kapal, akan menepi di kota pare-pare, sedangkan naik pesawat akan mendarat di makassar. keduanya berangkat dari balikpapan.

pengalaman naik kapal memang mengesankan, karena minimal satu malam menginap di tengah laut, dengan guncangan yang siap membuat mabuk laut. belum lagi ketakutan bila kapal yang ditumpangi akan tenggelam. lebay rasanya. tapi pernah dengar tentang kapal titanic? kapal yang tenggelam di tahun 1920-an tersebut, sebenarnya berukuran relatif sama dengan kapal laut yang ada sekarang di Indonesia. kapasitasnya relatif sama, memuat sekitar 3000 penumpang.

tapi itu kapal dengan kecepatan biasa, sebenarnya. ada juga kapal ferry supercepat. saya lupa nama kategorinya. yang saya ingat jelas, kapal tersebut bernama Serayu. jadi karena kecepatan tinggi, menggunakan kapal ini bisa jadi tidak perlu menginap di tengah laut. interiornya pun sudah seperti pesawat terbang. lebih banyak kursi untuk duduk ketimbang kamar. ya wajar, untuk jarak surabaya – balikpapan bisa ditempuh tanpa menginap di laut. jadi buat apa kamar?

hal lain yang saya ingat dari kapal ferry supercepat ini, semakin jauh anda dari permukaan laut, maka kapal akan semakin goyang. dan itu yang terjadi pada saya, sekali itu. saya mabuk laut.

peristiwa lain yang saya ingat, tentang kapal laut, adalah saya dan kawan-kawan pramuka balikpapan meninggalkan balikpapan dengan kapal laut menuju surabaya. tujuannya jambore nasional di purwokerto tahun 2001. waktu itu, ga cuma numpang duduk dan tidur aja di kabin. tapi juga sekalian angkut-angkut keperluan berkemah ala pramuka. lebih mirip jadi buruh kapal, sebenarnya. bahkan, yang putra juga mengangkut barang-barang yang putri. capeknya jadi dua kali lebih berat. tapi perjalanan dengan kapal laut, selalu menarik.

kini, di samping faktor jarak dan waktu, faktor harga juga mempengaruhi keputusan orang-orang untuk berpindah tempat. kapal dikenal sebagai transportasi yang murah, waktu dulu. tapi, seiring dengan naiknya daya beli masyarakat, serta makin terbatasnya waktu, kebanyakan orang lebih suka naik pesawat. jauh maupun dekat. ini juga yang mempengaruhi berubahnya kebiasaan keluarga saya. dari biasa naik kapal laut, jadi biasa naik pesawat terbang.

strategi pesawat terbang kini memang tepat sasaran. orang hanya perlu pindah tempatnya saja. ga perlu makanan enak. belanja barang-barang aneh. bahkan, duduk boleh saja sempit. yang penting pindah tempat, dengan harga murah. dan karena ongkos perjalanan pesawat terbang sebenarnya segitu-segitu saja untuk tiap rute, maka yang penting adalah kapasitas penuh dalam tiap penerbangan. begitu yang ada di pikiran maskapai, sekarang ini.

yang kasihan, kembali kapal laut. penumpang memang masih ada. tapi sudah jauh berkurang ketimbang dulu. karena, harga tiket pesawat terbang yang murahnya bahkan lebih murah ketimbang naik kapal laut. dengan waktu tempuh yang lebih singkat, kenapa tidak naik pesawat saja? kalaupun lebih mahal, sedikit, tidak apalah, yang penting kan sampai dengan selamat di tujuan.

sementara, sekian dulu. beberapa bagian saya tahan dulu di kepala. supaya ada ide untuk ditulis esok hari di blog🙂

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s