Kontrak Politik


Al-Qur’an kembali membuktikan keshahihannya. para pakar psikologi tidak lagi kesulitan untuk melakukan konfirmasi terhadap fakta yang mereka temukan di lapangan. tentang para politisi. menurut Al-Qur’an, tujuan manusia hanya tiga: harta, wanita, tahta.

ya, ujung-ujungnya kekuasaan. kalau setelah meraih kekuasaan, terus digunakan untuk melindungi dan meningkatkan besaran bisnis yang dimiliki, ya itu namanya ujung-ujungnya kekuasaan. mulai dari harta atau wanita, ujungnya pasti kekuasaan. meskipun kekuasaan akan selesai (baca: turun jabatan), maka diusahakan supaya kekuasaan dapat diteruskan oleh keturunan atau kerabat dekat yang lain.

nah, kita tau, sistem yang kita pakai untuk mencari dan memilih seorang pemimpin, adalah demokrasi. artinya, setiap orang punya hak yang sama untuk menentukan, dia akan dipimpin oleh siapa. terlepas dari apakah setiap orang tersebut, memiliki kapasitas yang sama untuk memutuskan, atau tidak. menariknya, yang ingin dipilih berhak untuk mengkampanyekan dirinya, mengajak calon pemilih untuk memilih dirinya.

ajakan. nah, titik krusialnya disini. seorang calon yang akan memimpin tidak mungkin mengajak calon pemilih seorang diri. makanya ada yang namanya tim sukses. meskipun sudah dijatah sekalipun,  berapapun jumlah tim sukses, dirasa tidak akan cukup. wajar, tim sukses sebelah, juga selalu ingin menambah jumlah anggotanya, bukan untuk yang resmi memang, tapi tim sukses “kultural”.

nah, persoalan berikutnya adalah tidak ada orang yang mau diajak kerja gratisan. setiap orang ingin dibayar. tidak harus oleh uang, tapi harus ada timbal balik, istilahnya demikian. kemudian, dari sini lahirnya, kontrak politik. kamu bantu saya supaya bisa menang dan mendapat jabatan ini. setelah itu, saya bantu kamu untuk bisa menang di “pertempuran politik” yang lain. minimal, saya janji akan memberi kamu, dana kampanye untuk pemilu berikutnya, tapi sekarang kamu bantu saya ya.

ujung-ujungnya memang kekuasaan. wanita sudah punya, entah pacar entah istri. mungkin juga simpanan. anak-anak sudah punya. terbukti menghasilkan keturunan. harta juga sudah dirasa cukup. bingung juga bagaimana mendapatkan harta yang lebih banyak. ga kreatif, soalnya. palingan cara mendapatkannya, itu-itu saja. yasudah, berarti wanita dan harta sudah ada. kalau sudah ada? carilah tahta. tidak harus jadi pucuk pimpinan tertinggi, tapi dapat bagian saja sudah cukup. berarti benar, ujung-ujungnya memang kekuasaan.

carilah rezeki yang baik (baca: halal) dan cukup, untuk istri, anak-anak dan kerabat kita yang lain (baca: tetangga, keluarga). Di dalam Al Quran S. Al Kahf Ayat 46, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”.

Ya Allah, janganlah kami dijadikan orang yang bangkrut di akhirat nanti akibat tidak adanya amalan kami yang sampai kepada Mu ya Allah, Ampunilah kami.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s